Proyeksi penyakit unggas senantiasa menjadi topik rutin yang menarik menjelang pergantian tahun. Mengingat pola perkembangan penyakit unggas di lapangan yang sangat cepat, alangkah baiknya jika kita melihat kembali perjalanan selama satu tahun terakhir dan melakukan evaluasi perbaikan. Semua pihak pasti sepakat bahwa penanganan penyakit unggas merupakan salah satu kunci sukses dalam menjalankan budidaya, karena ayam yang sehat akan menghasilkan produktivitas yang optimal dan keuntungan yang lebih baik bagi peternak.

Gambaran Umum Penyakit di Tahun 2017

 

Kondisi umum penyakit yang menyerang ayam pedaging dan petelur di Indonesia setiap tahunnya telah dirangkum oleh tim Technical Education & Consultation (TEC) Medion pada Grafik 1 dan 2. Dari kedua grafik tersebut dapat dilihat bahwa serangan penyakit di peternakan masih didominasi oleh penyakit lama. Penyakit bakterial dan masih didominasi oleh CRD, Coryza, Colibacillosis, dan CRD kompleks. Sedangkan Gumboro, dan ND masih menjadi primadona penyakit viral.

Dilihat dari Grafik 1 pada ayam pedaging, kasus koksidiosis, CRD, Gumboro, ND, AI, aspergillosis, dan heat stress sampai bulan September 2017 mengalami peningkatan kasus. Bahkan kasus aspergillosis naik sangat signifikan kejadiannya dibandingkan tahun 2015 dan 2016. Sedangkan pada ayam petelur, kasus penyakit yang mengalami tren naik adalah penyakit CRD, cacingan, AI, koksidiosis dan mikotoksikosis (Grafik 2). Sampai akhir tahun 2017 diprediksi pula bahwa kasus CRD dan mikotoksikosis akan jauh lebih tinggi jumlahnya dibandingkan tahun 2015 dan 2016.

Hal terpenting dari pemantauan tenaga lapangan kami hingga September 2017 ini, kasus penurunan produksi telur yang menyerang ayam petelur terutama akibat infeksi AI dan IB. Hal ini tentunya patut dijadikan “warning” bagi peternak di tahun 2018 mendatang.

 

Cermati AI Terkini

Jika dilihat dari bulan Januari hingga September 2017, tren kasus AI pada ayam pedaging cenderung merata (Grafik 3). Sedangkan pada ayam petelur tren-nya cenderung tinggi di awal tahun dan meningkat tajam di pertengahan tahun 2017 (Grafik 4). Data tersebut didasari dari tidak hanya virus AI H5N1 yang merebak, namun cukup banyak virus AI variasi baru yaitu tipe H9N2 yang dikelompokkan ke dalam LPAI (Low Pathogenically Avian Influenza) yang menyerang unggas. Soal deteksi dan identifikasi virus AI ini, sebuah media publik juga menyebutkan, virus subtipe H9N2 terdeteksi dari hasil surveilans rutin (pemantauan melalui koleksi sampel) di pasar-pasar di tanah air, dan telah diteguhkan dengan metode PCR (Polymerase Chain Reaction) dan DNA sequencing (Trobos, 2017).

Virus AI dapat berubah dengan beberapa cara. Selain mutasi, juga dengan melakukan modifikasi genetik, pencampuran materi genetik yang berbeda, yang disebut dengan reassorment. Meski belum ada laporan kematian dratis pada ternak ayam petelur, namun virus AI baru tersebut berdampak pada kemerosotan produksi telur.

Selain di musim hujan, saat pancaroba pun AI wajib diwaspadai. Pergantian cuaca di musim pancaroba bisa berdampak stres pada ayam. Akibatnya daya tahan tubuh ayam menurun sehingga bibit penyakit dapat dengan mudah menyerang, termasuk virus AI, ND dan sebagainya

 

Kasus ND di Ayam Pedaging

Selain AI, penyakit viral yang juga perlu diwaspadai adalah ND. Dilihat dari bulan Januari hingga September 2017, tren kasus ND menurun di awal musim kemarau dan meningkat kembali saat memasuki musim hujan. Kasus ND mengalami peningkatan secara signifikan dibandingkan tahun 2015 dan 2016, khususnya pada ayam pedaging (Grafik 1). Kejadian penyakit ND sangat mungkin muncul bersamaan terutama pada peternakan yang kurang optimal dalam penerapan biosekuriti dan adanya faktor-faktor yang bersifat imunosupresif seperti mikotoksin. Saat ND menyerang, kemungkinan besar pada ayam pedaging terjadi peradangan pada mukosa/puncak proventrikulus. Usaha perbaikan manajemen pemeliharaan dan tindakan pencegahan penyakit pun perlu dilakukan oleh peternak agar mencegah outbreak dan produksi lebih stabil.

 

Stop Siklus Gumboro

Dilihat dari Grafik 3, kasus Gumboro cukup tinggi terjadi di peternakan ayam pedaging sejak awal tahun. Jumlah kasus kemudian menurun pada bulan Maret namun meningkat lagi pada bulan Mei hingga meningkat dratis di bulan Agustus. Dari Grafik 5. terlihat bahwa umur serangan Gumboro pada ayam pedaging di tahun 2017 sebagian besar terjadi di umur 15-21 hari (Grafik 5). Sedangkan pada ayam petelur, kejadian Gumboro terlihat merata di sepanjang tahun yang terjadi pada umur 22-28 minggu (Grafik 4).

Mengapa kasus Gumboro masih berulang? Timbulnya outbreak Gumboro di lapangan dipengaruhi oleh banyak faktor di antaranya: 1) Challenge atau tantangan virus Gumboro di lingkungan sekitar kandang tinggi; 2) Manajemen brooding yang kurang optimal; 3) Sanitasi dan biosekuriti kandang yang tidak maksimal; 4) Waktu istirahat kandang yang terlalu singkat; 5) Jadwal vaksinasi Gumboro yang tidak tepat; dan 6) Aplikasi vaksinasi Gumboro yang kurang tepat. Maka dari itu, kedepannya kasus Gumboro masih menjadi salah satu penyakit yang perlu diwaspadai peternak.

 

Kasus IB Varian

Saat ini serangan IB tidak hanya tergolong strain klasik tetapi juga ditemukan IB varian. Kemampuan virus IB untuk bermutasi menyebabkan banyak sekali varian yang tersebar di berbagai negara. Sebagai contoh beberapa IB varian yang sudah masuk di Indonesia seperti QX Strain yang berasal dari China ataupun 4/91 asal Inggris. Beberapa virus IB varian yang sudah ditemukan di Indonesia diantaranya I-37 dan I-126 yang diisolasi oleh Darminto (1992), dan I-14 yang ditemukan Indriani dan Darminto (2000).

Infeksi virus IB klasik biasanya menyerang saluran pernapasan ayam yang ditandai dengan gejala ngorok, bersin dan cekrek (batuk ringan) karena pada dasarnya IB memang termasuk ke dalam jenis penyakit pernapasan. Organ reproduksi juga mengalami kerusakan sehingga kualitas telur ikut turun.

Dalam perkembangannya, pada kasus penyakit IB yang disebabkan oleh QX Strain menunjukkan perubahan patologi anatomi saat bedah bangkai berupa adanya pelebaran oviduk berisi cairan bening (oviduct cystic). Hal ini bisa diketahui secara klinis apabila kejadian sudah berlangsung lama (kronis) dengan gejala perut ayam tampak membesar dan berjalan dengan mendongak seperti pinguin. Perubahan lain bisa tampak dari proventrikulus yang mengalami peradangan serta adanya lesi pada ginjal (renal damage). Penurunan produksi telur bervariasi dari 2 sampai 40%. Telur yang dihasilkan seringkali berkerabang pucat dan tipis, serta bentuk yang tidak simetris. Perubahan pada dalam telur terlihat putih telur yang encer dan blood spot pada kuning telur.

Coryza di Musim Hujan

 

Data Tim TEC Medion menunjukkan bahwa coryza di tahun 2017 menempati peringkat kedua temuan penyakit di ayam petelur serupa dengan tahun sebelumnya. Sementara pada ayam pedaging, penyakit ini tidak pernah keluar dari peringkat empat besar. Dua-duanya sama-sama rentan terserang, namun di tahun 2017 jumlah laporan kasus pada ayam petelur lebih tinggi dibanding ayam pedaging. Hal tersebut dikarenakan masa hidup ayam petelur lebih panjang sehingga akan mendapat cekaman lingkungan yang lebih tinggi.

Melihat tren yang terjadi, kasus coryza mengalami lonjakan di bulan Januari dan yang tertinggi di bulan April, dimana bulan tersebut sudah masuk dalam musim pancaroba (Grafik 6). Pergantian cuaca di musim pancaroba bisa menimbulkan stres pada ayam. Akibatnya daya tahan tubuh ayam menurun sehingga bibit penyakit dapat dengan mudah menyerang, termasuk bakteri Avibacterium paragallinarum (penyebab coryza).

Pada kondisi suhu rendah di bulan-bulan basah, lingkungan kandang lembap sehingga bakteri coryza berkembang cukup pesat. Kondisi lain, misalnya ketika gas amonia di dalam kandang sulit dikeluarkan sehingga mudah mengiritasi saluran pernapasan ayam dan membuka kesempatan bibit penyakit lain untuk menginfeksi dan ikut menurunkan kekebalan tubuh ayam.

Ketika menyerang, penyakit ini sulit disembuhkan, apalagi ayam belum pernah divaksin. Ayam yang berhasil sembuh pun akan bertindak sebagai carrier (pembawa penyakit coryza) di umur pemeliharaan berikutnya. Menyadari sulitnya pengobatan coryza, maka tindakan alternatif yang bisa dilakukan untuk mengendalikan coryza adalah pencegahan dengan vaksinasi.

 

Kasus CRD di Lapangan

Melihat perkembangan penyakit selama 2017 terutama pada ayam petelur, kita akan melihat bahwa persentase kejadian CRD meningkat sangat signifikan dibanding tahun 2015 dan 2016, dan tertinggi terjadi di bulan Mei yang masuk ke dalam musim pancaroba.

Telah kita ketahui bahwa CRD bersifat imunosupresif atau mampu menekan sistem kekebalan ayam. Di lapangan, kejadian CRD murni jarang ditemui dan umumnya disertai komplikasi dengan penyakit lain terutama E. coli, sehingga disebut CRD kompleks.

Serangan CRD sangat erat kaitannya dengan sistem pernapasan ayam. Saluran pernapasan ayam secara alami dilengkapi dengan pertahanan mekanik. Permukaannya dilapisi mukosa dan terdapat silia (bulu-bulu getar) serta mukus yang berfungsi menyaring udara yang masuk.

Namun fungsi mukosa dan silia tersebut dapat terganggu ketika kondisi lingkungan kandang ayam kurang baik, terutama jika kadar amonia di dalam kandang cukup tinggi. Adanya gas amonia dengan kadar tinggi akan merusak membran saluran pernapasan atas (mukosa dan silia), sehingga bibit penyakit seperti bakteri Mycoplasma gallisepticum (MG) dengan leluasa dapat masuk bersamaan dengan aliran udara yang sebelumnya telah terkontaminasi dan menempel pada mukosa saluran pernapasan dan merusak sel-selnya. Adanya bakteri ini akan memicu terjadinya radang dan aliran darah di daerah tersebut menjadi meningkat. Bakteri akan ikut aliran darah dan menuju kantung udara, dimana kantung udara merupakan tempat yang cocok (predileksi) untuk M. gallisepticum hidup dan berkembang biak.

 

Mikotoksikosis mengintai Ayam Petelur

Kasus mikotoksikosis inilah yang mulai merebak terjadi kembali di peternakan terutama ayam petelur sepanjang tahun 2017. Mikotoksin, ancaman nyata yang tidak bisa disepelekan. Jamur berkembang dengan mudah kapan saja pada bahan baku pakan, bahkan pada musim penghujan seperti sekarang ini. Kondisi lembap, membuat pertumbuhan jamur meningkat. Jika hal ini tidak diantisipasi dengan teknik manajemen penyimpanan ransum yang baik, maka jamur akan tumbuh dan mikotoksin akan dihasilkan. Jamur sendiri mudah terlihat, namun mikotoksin/racunnya tidak kasat mata. Jika terus-menerus dikonsumsi, maka pengobatan pun sulit diupayakan.

Bukan hanya peternak self mixing (mencampur ransum sendiri) yang harus waspada, peternak ayam pedaging pun yang biasa menggunakan ransum jadi perlu ikut hati-hati. Alasannya karena ternyata banyak pula ransum jadi yang akibat disimpan dengan kondisi “seadanya” bisa menjadi media yang ideal bagi jamur tumbuh dan menghasilkan racun. Serangan mikotoksikosis juga bersifat imunosupresif (menurunkan kekebalan tubuh), sehingga bisa menyebabkan gagalnya vaksinasi dan ayam mudah terserang penyakit infeksi lainnya.

 

Koksidiosis kembali Merebak

Koksidosis merupakan penyakit parasit koksidia (Eimeria sp.) yang jumlah kasusnya paling tinggi di antara penyakit parasit lain. Penyakit ini rentan menyerang ayam umur muda, yaitu umur 2-4 minggu pada ayam pedaging dan umur < 5 minggu pada ayam petelur. Kasus koksidiosis ini mulai merebak dan terjadi kembali di peternakan ayam pedaging dan petelur sepanjang tahun 2017.

Ketika koksidia masuk ke tubuh ayam, parasit ini akan bergerak menuju usus dan melangsungkan siklus hidupnya sehingga timbul luka, pendarahan dan kerusakan di jaringan usus. Hal ini akhirnya berdampak terhadap proses pencernaan dan penyerapan zat nutrisi yang tidak optimal. Kerugian yang ditimbulkan dari penyakit koksidiosis berupa kemerosotan produksi yang cukup signifikan (terhambatnya pertumbuhan dan berat badan tidak seragam), kematian, serta gangguan pembentukan kekebalan sehingga ayam rentan terinfeksi penyakit lain (imunosupresif).

Terapi terhadap ayam yang sudah terserang koksidiosis adalah dengan pemberian antikoksidia. Tujuan penggunaan antikoksidia ini adalah untuk mendapatkan performa ternak yang optimal dengan menyeimbangkan mikroflora dan menangkis agen-agen infeksius dalam memaksimalkan fungsi utama usus dan saluran pencernaan. Disaat adanya pelarangan penggunaan antibiotik dan antikoksidia sebagai antibiotic growth promotor (AGP), maka peternak sudah mulai beralih menggunakan obat alternatif herbal sebagai salah satu alternatif pengganti antibiotik AGP.

 

Catatan untuk Tahun 2018

Dari seluruh data yang telah dirangkum, diperkirakan penyakit ayam di tahun 2018 tidak akan jauh berbeda dengan tahun 2017. Argumen yang mendasari prediksi tersebut adalah kondisi musim yang masih labil. Ketika musim hujan dan pancaroba, peternak perlu lebih berhati-hati terhadap serangan penyakit imunosupresi seperti Gumboro, mikotoksikosis, ND, AI dan CRD, koksidiosis, dan coryza.

Melihat perkembangan penyakit selama Januari-September 2017, dan setelah dibandingkan dengan kasus penyakit tahun 2015 dan 2016 dapat diperoleh kesimpulan bahwa:

  • Penyakit yang berkaitan dengan manajemen pemeliharaan seperti CRD, coryza, dan koksidiosis masih menunjukkan dominasinya dan hal ini adalah permasalahan klasik. Kita perlu mengevaluasi kembali manajemen perkandangan dan tata laksana pemeliharaan yang kita aplikasikan. Kondisi cuaca yang tidak menentu, bahkan terkadang berubah ekstrim, ditambah dengan usia lokasi peternakan yang sudah “tua” menuntut dilakukan manajemen yang lebih baik. Penerapan kandang tertutup (closed house) mulai banyak diminati karena memiliki berbagai keunggulan, di antaranya mampu meminimalkan efek perubahan cuaca sehingga suhu dan kelembapan lebih nyaman bagi ayam, mampu mengoptimalkan penggunaan lahan (kepadatan lebih tinggi, mampu mencapai 30 kg/m2). Dan tak kalah pentingnya yaitu pemberian obat hendaknya dilakukan dengan lebih bijak, yaitu sesuai aturan pakai yang tercantum pada kemasan obat. Setiap 3-4 periode pengobatan lakukan rolling obat untuk mencegah terjadinya resistensi.

  • Peternak harus semakin waspada terhadap Gumboro. Usaha terbaik mencegah kasus Gumboro adalah kombinasi antara manajemen optimal dan melakukan vaksinasi. Oleh karena itu, beberapa tindakan yang dapat diterapkan agar Gumboro tidak mengincar lagi di peternakan antara lain: 1) Mengoptimalkan masa brooding, terutama persiapan kandang; 2) Tingkatkan sanitasi kandang dan waktu istirahat kandang minimal 14 hari; 3) Mengevaluasi program vaksinasi Gumboro; dan 4) Mengendalikan stres pada ayam. Dalam penentuan umur vaksinasi Gumboro pertama yang lebih tepat, peternak bisa melakukan uji level antibodi maternal di laboratorium dengan cara mengambil sampel darah (serum, red) dari kelompok anak ayam yang belum divaksin antara umur 1-4 hari.

  • Karena kasus ND dan AI di tahun 2017 ini cukup menarik perhatian dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, peternak perlu waspada, terutama untuk AI dimana virus tipe H9N2 yang baru merebak dan merugikan peternak. Terkait hal ini Medion akan terus fokus memantau perkembangan virus AI. Selain itu, mengingat bulan Desember sebagian wilayah sudah memasuki musim hujan, bukan tidak mungkin kejadian ND dan AI akan meningkat jumlahnya. Pemilihan vaksin yang tepat dan aplikasi vaksinasi yang sesuai kondisi di masing-masing peternakan menjadi titik kunci keberhasilan perlindungan dari serangan ND dan AI. Tak lupa dengan penerapan biosecurity ketat.

  • Penanganan coryza akan jauh lebih optimal dan tuntas jika disertai dengan vaksinasi. Sejatinya vaksinasi coryza akan memberikan kekebalan di dalam tubuh ayam sehingga saat coryza menyerang, tingkat kesembuhan ayam yang sudah divaksin akan lebih cepat dibandingkan ayam yang tidak divaksin. Selain itu, frekuensi munculnya kasus bisa ditekan dan serangannya tidak terlalu parah. Karena itu juga, mengkombinasikan tindakan vaksinasi dengan penerapan tata laksana pemeliharaan yang baik, serta aplikasi biosekuriti secara ketat menjadi kunci utama pencegahan kasus coryza.

  • Mulai meningkatnya kasus mikotoksikosis perlu diantisipasi dengan mewaspadai tumbuhnya jamur, terutama pada tempat pakan dan tempat minum. Jika perlu tambahkan mold inhibitor (asam propionat) untuk menghambat pertumbuhan jamur. Dan yang tak kalah penting saat kondisi lembap, terutama saat musim hujan, sebaiknya gunakan toxin binder untuk mengikat mikotoksin dalam pakan. Selain itu, berikan pula suplementasi multivitamin serta premix untuk mengoptimalkan produktivitas dan meningkatkan daya tahan tubuh ayam. Contoh toxin binder produksi Medion adalah Freetox. Sedangkan produk multivitamin dan premix yang bisa diberikan adalah Fortevit dan Mix Plus.

  • Untuk virus IB yang memiliki variasi genetik yang beragam (mutasi), maka perlu adanya perhatian khusus dalam aspek pencegahan terutama dari segi vaksinasi. Pada program vaksinasi, vaksin IB strain varian harus dikombinasikan dengan vaksin IB strain klasik karena tingkat proteksi silang virus tergolong sangat rendah. Pemberian vaksin IB varian aktif harus diberikan secara terpisah dengan vaksin IB strain klasik aktif dan di hari yang berbeda. Jarak minimal pemberian vaksin yang direkomendasikan adalah 7-11 hari. Pemberian vaksin yang bersamaan dikhawatirkan akan menyebabkan reaksi post vaksinasi yang berlebihan. Menghindarkan ayam dari penyakit imunosupresif dan stres sebagai langkah pencegahan masuknya virus dengan mudah juga perlu diperhatikan Didukung pula dengan desinfeksi dan biosecurity yang perlu dilakukan dengan tepat dan ketat mengingat virus IB mudah mati oleh berbagai jenis desinfektan.

  • Setelah mengetahui bahaya ookista, maka hal pertama yang perlu dilakukan untuk mengendalikan koksidiosis ialah mengurangi jumlah ookista dan mencegah agar ookista tidak bersporulasi. Caranya dengan memberi perlakuan khusus pada lantai kandang postal.

Saat kosong kandang, taburi lantai dengan kapur atau soda kaustik sebelum ditutup dengan sekam. Selama masa pemeliharaan, peternak juga dapat memberikan kapur/soda kaustik pada permukaan sekam yang lembab dan basah, sebelum ditambah dengan sekam baru. Cara lain dengan mengguyur lantai dengan air panas setelah pembersihan kandang. Kapur dan soda kaustik merupakan bahan yang bersifat panas. Sementara ookista tidak tahan terhadap suhu > 55°C. Ookista juga dapat mati jika berada pada kondisi suhu sangat dingin (suhu beku) dan kekeringan yang ekstrim.

  • Pada kasus CRD, M. gallisepticum tidak memiliki dinding sel. Oleh karena itu, jenis antibiotik yang dipilih harus mempunyai cara kerja menghambat pembentukan asam folat dan protein yang akan langsung merusak intisel bakteri M. Gallisepticum. Selain itu, lakukan pembolak-balikan litter secara teratur setiap 3-4 hari sekali. Jika litter basah dan menggumpal dalam jumlah sedikit, segera ambil dan ganti dengan yang baru. Kurangi kadar amonia dalam kandang dengan menyemprotkan Ammotrol pada feses. Bisa juga dilarutkan dalam air minum sebanyak 0,5-1 gram per 2 liter air minum.

  • Sulitnya menentukan analisa penyakit seperti AI, ND atau IB yang dapat menurunkan produksi telur, merupakan salah satu kendala yang dihadapi banyak peternak di lapangan. Pemanfaatan uji serologis (misalnya HI test dan ELISA), uji biologi molekuler (PCR dan sequencing), serta uji kualitas pakan dan kadar mikotoksin dapat dilakukan sebagai sarana meneguhkan diagnosa penyakit. Uji serologis juga bermanfaat untuk monitoring titer antibodi seperti AI. Medion menghadirkan MediLab (Medion Laboratorium) di beberapa kota besar di Indonesia, dengan begitu peternak diharapkan terbantu dengan adanya jasa uji laboratorium ini.

 

Di penghujung tahun 2017 dan tahun 2018 yang sudah menanti, tren penyakit unggas yang cenderung sama dari tahun ke tahun sepertinya akan berulang lagi di tahun depan. Evaluasi usaha peternakan perlu dilakukan guna menentukan strategi yang perlu diambil ke depannya. Sukses selalu peternakan unggas Indonesia.

Artikel Terbaru

www.medion.co.id               info@medion.co.id                 0813-2185-7405 (Customer Service)                 facebook.com/medionwisata 
Cara berlangganan Info Medion SMS ke 0852 2114 1929 dengan format Reg IM Nama AlamatSurat AlamatEmail
agar tampilan website ini dapat berjalan lebih optimal, disarankan menggunakan program browsing internet terbaru