Pancaroba Datang, Penyakit pun Mulai Berulah

Dalam catatan sejarah perunggasan di Indonesia, pemeliharaan ayam pada musim kemarau maupun musim penghujan sama-sama menguras energi bagi peternak. Pada musim penghujan dimana kelembaban tinggi, memicu hampir semua bibit penyakit untuk tumbuh subur termasuk kejadian mikotoksikosis maupun infeksi cacing. Kondisi ini diperparah dengan persediaan sekam yang semakin mepet serta kualitas pakan yang cenderung menurun sehingga manajemen tidak bisa optimal. Pada musim kemarau, infeksi saluran pernapasan dan heat stress tak bisa dielakkan. Perbedaan musim tersebut, tentunya memerlukan manajemen yang berbeda. Lalu bagaimana dengan musim pancaroba?


Gambaran Iklim Saat Ini

Dalam “Pranata mangsa” yang terkenal di pulau Jawa, peralihan musim penghujan dan kemarau biasanya jatuh pada bulan Maret dan April. Sedangkan peralihan antara musim kemarau dan penghujan biasanya terjadi pada bulan September hingga November. Inilah yang disebut dengan musim pancaroba. Berdasarkan informasi BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika), musim penghujan kali ini akan berakhir pada kwartal pertama tahun 2012. Bisa saja musim penghujan kali ini lebih pendek akibat adanya perputaran arah angin, sehingga bisa dipastikan musim kemarau lebih panjang. Dengan demikian, suhu udara akan menjadi semakin lebih panas.

Angin kencang, puting beliung, hujan terjadi secara tiba-tiba serta dalam waktu yang singkat, udara terasa panas dan arah angin tidak teratur merupakan ciri datangnya musim pancaroba. Ditambah dengan adanya dampak pemanasan global dapat menyebabkan musim pancaroba kali ini mungkin berlangsung lebih lama. Lebih dalam lagi, effect global warming berpengaruh juga terhadap musim kemarau panjang dengan temperatur sangat tinggi, curah hujan tidak menentu, peningkatan ketinggian air laut, serta peningkatan aktivitas gunung berapi. Berbagai kondisi tersebut termasuk deretan faktor yang memicu tidak optimalnya manajemen unggas.

Salah satu kandang ayam di wilayah Kuningan,Jawa Barat yang terendam banjir
akibat curah hujan tinggi

Perubahan nyata yang terjadi pada musim pancaroba adalah terjadinya perubahan cuaca yang drastis, kelembaban relatif tinggi, fluktuasi suhu dan kelembaban yang tajam, serta adanya perbedaan yang mencolok antara siang dan malam dengan perbedaan lebih dari 6°C. Suhu yang cenderung ekstrim antara siang hari kadang mencapai 35°C, sedangkan malam hari sangat rendah. Dalam dunia perunggasan, kondisi tersebut berdampak pada meningkatnya wet litter serta gas amonia lebih cepat terbentuk.


Dampak Musim Pancaroba terhadap Dunia Perunggasan

a)  Immunosupresif

Dari sisi fisiologis, kondisi ini cukup memaksa ayam untuk cepat beradaptasi dengan lingkungan. Tidak heran, jika di kandang sering ditemui adanya ayam panting alias “megap-megap” pada siang hari namun cenderung bergerombol pada malam hari akibat suhu yang dingin. Hal ini merupakan salah satu usaha ayam untuk berdamai dengan lingkungan. Namun perlu disadari, ayam yang dipelihara saat ini adalah jenis ayam modern yang memiliki kelemahan relatif sulit beradaptasi dengan lingkungan.

Ayam juga tidak memiliki pengatur suhu (thermoregulator) yang baik, terutama pada ayam muda. Sistem thermoregulator terdiri dari anterior (bagian depan) hipotalamus, bagian preoptik besar (cerebrum), tali saraf otak ke sepuluh (nervus vagus) dan tali-tali saraf tepi yang sensitif terhadap temperatur. Kedua kelemahan tersebut menjadi faktor pemicu bangsa aves termasuk unggas memiliki kepekaan yang tinggi terhadap adanya perubahan suhu.

Kepekaan yang tinggi berbuntut negatif dimana ayam menjadi mudah stres. Stres inilah yang akan menjadi titik awal permasalahan dalam pemeliharaan unggas. Stres merupakan kondisi immunosupresant, dimana akan berakibat pada buruknya sistem pertahanan unggas. Alhasil, sedikit infeksi bibit penyakit dari lapangan mampu mengacaukan performan ayam baik pertumbuhan daging (broiler) maupun produksi telur (layer). Stres juga berdampak pada rendahnya respon kekebalan terhadap vaksinasi sehingga titer antibodi yang dihasilkan tidak optimal.


b)  Perkembangan DOC

Pada DOC, stres akibat pancaroba dampaknya akan terlihat nyata. Pada minggu awal, secara fisiologis terjadi proses penyerapan kuning telur. Kuning telur merupakan sumber makanan bagi DOC serta sumber antibodi maternal (antibodi asal induk). Stres akan berpengaruh terhadap proses penyerapan kuning telur tersebut. Padahal, pada minggu ini diperlukan pertumbuhan organ-organ dalam termasuk organ pencernaan yang pesat. Jadi, bisa dibayangkan apabila ayam DOC yang notabenenya “makhluk lemah” tidak memiliki sediaan pakan yang cukup serta antibodi yang melindungi dari infeksi bibit penyakit.


c)  Merebaknya Kasus Penyakit

Kasus AI yang menyerang di salah satu peternakan di Sulawesi Selatan pada SM II 2011

Disebutkan dalam salah satu majalah peternakan, terdapat enam penyakit penting yang sering berjangkit pada musim pancaroba yaitu CRD, koksidiosis, colibacillosis, ND, IB dan aspergillosis (mikotoksikosis). Sedangkan dalam catatan data Technical Support, Medion kejadian kasus penyakit yang menyerang pada bulan November – Oktober 2011 masih didominasi oleh penyakit bakterial berupa CRD, colibacillosis dan korisa. Namun perlu diwaspadai juga adanya penyakit viral seperti Gumboro, ND maupun AI.

Meningkatnya jumlah bibit penyakit di lapangan dapat bersumber dari ayamnya sendiri. Kondisi ayam yang stres (immunosupresif) menyebabkan bibit penyakit mudah menginfeksi. Disinilah awal mula terjadinya peningkatan jumah bibit penyakit. Karena mendapatkan hospes yang cocok, maka bibit penyakit mempunyai kesempatan untuk berkembang. Bakteri akan mengalami multiplikasi (memperbanyak diri dengan cara membelah), virus akan mengalami replikasi (memperbanyak diri dengan cara duplikasi), sehingga dalam feses maupun lendir ayam terinfeksi akan mengandung bibit penyakit dalam jumlah yang lebih banyak. Dalam istilah ilmiah terjadi shedding bibit penyakit. Feses dari ayam terinfeksi inilah yang akan menjadi sumber penularan penyakit ke ayam lainnya. Ditambah dengan meningkatnya kecepatan angin sehingga akan mempermudah dalam penyebaran penyakit.

Tak terlepas kejadian kasus cacing pada ayam layer. Cacing akan mengeluarkan telur (cacing gilig) atau proglogtid (potongan tubuh cacing pita yang mengandung telur cacing pada cacing pita). Apabila terdapat vektor atau inang perantara seperti lalat, siput, kecoa, dll maka tidak heran jika ayam Anda mengalami penurunan nafsu makan yang berkibat pada penurunan produksi telur secara perlahan namun pasti.

Pada musim kemarau maupun musim pancaroba terjadi peningkatan jumlah partikel debu. Partikel debu merupakan media untuk penyebaran kuman seperti E. coli. Setiap gram debu mengandung lebih dari 105 partikel E. coli. E. coli dapat menyebabkan infeksi sekunder pada saluran pernapasan yang masuk ke dalam tubuh ayam pada saat panting karena heat stress.

Selain faktor stres, kejadian penyakit ini juga didukung dengan banyaknya penyakit pernapasan yang sulit diatasi, sistem pemasaran produk-produk unggas yang mengabaikan prinsip biosecurity. Penanganan kotoran serta bangkai ayam yang tidak sesuai prosedur membuka peluang penularan penyakit. Kondisi kandang seperti atap bocor yang tidak segera diperbaiki, tirai yang tidak berfungsi sebagaimana mestinya, kondisi litter yang lembab, dsb akan mempersulit ayam untuk beradaptasi sehingga tak heran angka afkir semakin tinggi.

Kondisi atap Vs Kondisi ayam
Kondisi atap yang tidak sesuai merupakan salah satu faktor yang memperparah kondisi ayam


d)  Penurunan Kualitas Pakan

Dampak pancaroba juga berdampak pada kualitas pakan. Kualitas bahan baku pakan mengalami penurunan dimana lebih rentan terhadap pertumbuhan jamur. Dari sisi non teknis, pasokan bahan baku di pasar menjadi fluktuaktif sehingga kualitas bukan hal yang utama lagi.

Pakan seharusnya di simpan pada suhu 25-28°C dengan kelembaban berkisar 60-70%. Kesalahan yang terkadang dilakukan adalah ketika bongkar pakan dari truk pada kondisi gerimis. Dengan dalih hanya hujan gerimis maka tidak akan berpengaruh ke kualitas pakan. Padahal molekul air ini yang akan menyebabkan rusaknya nutrisi pakan selama proses penyimpanan di tambah dengan suhu dan kelembaban dalam gudang yang relatif labil pada musim pancaroba.

Peningkatan kadar air selama penyimpanan karena disimpan di tempat yang lembab, menyebabkan komposisi sebagaimana tertera dalam label tidak lagi sesuai. Semakin tinggi kadar air, bahan kering persentasenya menurun. Protein yang semula tertera 20%, karena kadar air naik, pasti kandungan protein menjadi berkurang. Bukan hanya protein, asam amino maupun vitamin juga mengalami penurunan.

Patologi anatomi hati (liver) akibat mikotoksikosis

Kondisi ini juga memicu pertumbuhan jamur. Kontaminasi jamur menjadi permasalahan sendiri akibat racun yang dihasilkan (Mikotoksikosis) yang berakibat keracunan. Kasus tersebut cukup banyak di lapangan, meski jarang menimbulkan kematian tapi kejadian ini cukup signifikan dalam menekan performan ayam. Sedangkan jika suhu dan kelembaban terlalu rendah maka dapat merusak struktur dari pakan dan secara otomatis kandungan nutrisi menjadi berkurang. Alhasil, kebutuhan nutrisi menjadi tidak tercukupi.


e)  Penurunan Kualitas Air Minum

Pancaroba juga berimbas pada kualitas air minum. Berdasarkan data Technical support tahun 2011, permasalahan air pada musim pancaroba adalah tingginya tingkat pencemaran bakteri E. coli sehingga menyebabkan kandungan nitrit dalam air semakin tinggi. Selain nitrit, kandungan nitrat dalam air menjadi lebih tinggi akibat feses yang terbawa hujan sehingga dapat mengakibatkan ayam keracunan.

Dari data penanganan kasus lapangan, terlihat bahwa kasus colibacillosis baik pada ayam layer maupun broiler meningkat terutama pada kwartal terakhir tahun 2011 dimana terjadi perubahan dari musim kemarau ke musim penghujan. Musim pancaroba yang akan kita hadapi pada sekitar bulan Maret mendatang adalah perpindahan dari musim penghujan ke musim kemarau. Meskipun dari data di atas, kejadian kasus colibacillosis pada bulan Maret-Mei 2011 cenderung lebih rendah jika dibanding pada bulan September – November, kita tetap harus wasada terhadap infeksi colibacillosis. Pada masa perpindahan musim penghujan ke musim kemarau, debit air menjadi berkurang sehingga konsentrasi bakteri E. coli semakin tinggi. Bukan hanya bakteri E. coli saja, bakteri seperti Salmonella sp. pun ikut nimbrung.


Bagaimana Menghadapi Pancaroba

Secara matematis, dalam mencapai potensi yang maksimal, kondisi lingkungan hanya sebagai faktor penambah. Sedangkan faktor pengali diperankan oleh manajemen. Dengan istilah lain, manajemen berpengaruh sangat besar bahkan proporsinya 70% untuk mencapai potensi yang optimal. Jadi meskipun lingkungan di luar kurang bersahabat, selama manajemen bagus maka kerugian dapat dihindari. Manajemen bertujuan untuk menciptakan kondisi yang nyaman bagi ayam.

  • Infrastruktur kandang

Setiap akan ada pemeliharaan ayam, kondisi kandang harus selalu diperhatikan. Jangan biarkan atap bocor, tampias hujan masuk, tirai tidak layak pakai, dll. Semua harus dipastikan berfungsi secara optimal. Salah satu musim pancaroba ditandai dengan adanya hujan deras disertai angin kencang. Hati-hati dengan kondisi kandang ayam. Kondisi penyangga yang sudah lama terutama untuk kandang panggung perlu dievaluasi ketahanannya. Disarankan untuk menebang pohon-pohon besar yang terdapat di sekitar kandang, karena selain menganggu sirkulasi udara, juga berpotensi untuk tumbang disaat angin kencang menerpa.

Pohon tinggi disekitar kandang sangat rawan terutama ketika ada angin kencang
  • Pengaturan suhu dan kelembaban

Suhu dan kelembaban yang fluktuaktif cukup menguras energi bagi peternak guna memberikan kondisi nyaman pada ayam. Kelembaban udara mencerminkan banyaknya air yang terikat oleh udara. Semakin tinggi kelembaban maka kandungan air yang terikat semakin tinggi. Tingkat kelembaban akan mempengaruhi suhu yang dirasakan oleh ayam. Hal ini karena pengeluaran panas tubuh dilakukan secara evaporasi.

Perlu dipahami satu hal, bahwa suhu yang dirasakan oleh ayam (suhu efektif) bukan suhu yang tertera pada termometer (suhu aktual). Saat kelembaban tinggi, suhu yang dirasakan oleh ayam menjadi lebih tinggi dibandingkan suhu yang tertera pada termometer. Sebagai contoh, saat kelembaban 70% dan suhu yang terbaca pada termometer adalah 29,4°C, maka suhu efektif yang dirasakan oleh ayam adalah 31,6°C dengan kondisi kecepatan angin 0 m/detik


 
  • Pengaturan oksigen

Kepadatan kandang perlu diperhatikan karena keterkaitannya dengan ketersediaan oksigen di dalam kandang. Menambah luasan kandang (memperlebar sekatan kandang) merupakan langkah awal menurunkan tingkat heat stress. Penambahan kipas dapat dilakukan pada daerah yang aliran anginnya kurang. Ketinggian kipas setidaknya 40-50 cm dari lantai dengan kecepatan angin tidak lebih dari 2,5 m/detik. Perlu diperhatikan bahwa alira udara dari kipas tidak boleh langsung mengenai tubuh ayam. Kipas dapat dipasang setelah lepas masa brooding.

  • Pemantauan kondisi ayam di lapangan

Kondisi ayam harus selalu dipantau secara cermat. Apabila ada beberapa ayam menunjukkan gejala klinis seperti ngorok atau diare, disarankan untuk memberikan antibiotika spektrum luas seperti Proxan-S, Trimezyn, Doctril, dll. Hal ini bertujuan sebagai tindakan antisipasi awal “cleaning program” sehingga keparahan dan penyebaran penyakit bisa ditekan. Selain pemberian antibiotika, analisa faktor non infeksius seperti kondisi pakan, kualitas air, kondisi kandang maupun kebersihan alat kandang lainnya

  • Pemantauan titer antibodi

Salah satu dampak yang paling nyata dari musim pancaroba adalah stres yang mengakibatkan lemahnya sistem imun sehingga respon terhadap vaksinasi tidak optimal. Pada ayam layer, perlu dilakukan pemantauan titer guna mengetahui status kekebalan tubuh ayam terutama terhadap viral seperti ND, AI, IB maupun EDS. Uji yang sering dilakukan dengan hasil yang cepat menggunakan metode HI Test (Haemagglutination Inhibition) atau ELISA. Uji ini juga bertujuan untuk mengetahui keberhasilan vaksinasi. Jadi, ketika dalam pemantauan titer, hasilnya kurang bagus maka peternak dapat segera mengambil tindakan seperti revaksinasi

  • Sanitasi air minum

Penurunan kualitas air minum harus membuat peternak semakin ekstra hati-hati. Dalam mengantisipasi kondisi yang demikian, lakukan pemeriksaan uji kualitas air meliputi uji fisik, kimia maupun bakteriologi. Sanitasi air minum perlu dilakukan guna meminimalkan bibit penyakit yang terdapat pada air minum. Medisep, Desinsep atau Neo Antisep dapat dijadikan sebagai alternatif desinfektan untuk membunuh bibit penyakit yang terdapat pada air minum. Pada saat vaksinasi melalui air minum, dapat ditambahkan Medimilk atau Netrabil untuk membantu memperbaiki kualitas air minum sehingga potensi virus vaksin dalam menggertak pembentukan antibodi menjadi optimal.

Medimilk dan Netrabil, produk yang digunakan untuk meningkatkan kualitas air minum pada saat vaksinasi

  • Manajemen pakan yang baik

Adanya kasus aspergillosis/ mikotoksikosis perlu di akali dengan manajemen pakan yang baik. Kelembaban yang tinggi berefek pada pakan yang mudah menggumpal serta tengik. Prinsip first in first out serta pengaturan kelembaban dalam kandang mampu menekan pertumbuhan jamur. Pakan perlu diberi alas papan dengan ketinggian sekitar 5-10 cm.

Pakan dialasi dengan papan kayu serta dihindarkan dari serangan tikus maupun serangga lainnya

 
Pada musim pancaroba, perlu dilakukan pengecekan pakan secara rutin baik secara visual/fisik maupun secara laboratorium meliputi pemeriksaan kimiawi maupun biologi. Tanda- tanda pakan rusak diantaranya adanya bau yang tidak semestinya, terjadi penggumpalan (jenis mash) serta terkadang ditemui adanya jamur, kutu atau sejenisnya

  • Manajemen feses

Terutama pada pemeliharaan ayam broiler di kandang panggung maupun ayam layer pada kandang batrei,perlu diperhatikan penanganan fesesnya. Kondisi yang lembab berakibat larva lalat mudah berkembang. Tidak asing di telinga kita, bahwa lalat merupakan vektor yang berperan dalam penularan penyakit. Lalat dalam jumlah yang banyak membuat peternak/anak kandang merasa tidak nyaman di dalam kandang sehingga secara psikologis akan mempengaruhi kinerja

  • Meningkatkan stamina ayam

Menghadapi perubahan cuaca yang terus berubah-ubah, ayam sangat memerlukan daya tahan tubuh yang lebih ekstra. Daya tahan akan optimal apabila stres atau faktor pengganggu dapat diminimalkan. Fluktuaktif suhu yang cukup drastis dapat menyebabkan penurunan penyerapan pakan, alhasil FCR pun membengkak. Pemberian vitamin terutama yang mengandung vitamin C dan E akan membantu peningkatan daya tahan tubuh ayam serta menekan efek heat stress maupun cold stress. Meskipun ayam mampu mensintesa vitamin C namun dalam kondisi stres kadar vitamin C dalam darah akan menurun. Vita Stress, Fortevit dan Vita Strong dapat menjadi solusi dalam kasus ini

  • Manajemen SDM

Semua tindakan antisipasi di atas tidak akan terlaksana dengan baik jika tanpa dibarengi keasadaran serta peningkatan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia). Peningkatan skill dapat dilakukan dengan mengikuti pendidikan dan pelatihan, seminar-seminar yang diadakan oleh instansi tertentu seperti PT Medion. Pemberian bonus atau penghargaan dapat menjadikan motivasi tersendiri terutama untuk peternak plasma maupun anak kandang sehingga secara tidak langsung dapat berpengaruh pada performance ayam yang dihasilkan

Musim pancaroba bukanlah “momok” yang menakutkan dalam dunia perunggasan. Kerugian akibat cuaca yang fluktuaktif dapat diminimalisir dengan manajemen yang optimal. Sukses untuk peternakan Indonesia.

 


Info Medion Edisi Februari 2012

Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

 

Print

Artikel Terbaru

www.medion.co.id               info@medion.co.id                 0813-2185-7405 (Customer Service)                 facebook.com/medionwisata 
Cara berlangganan Info Medion SMS ke 0852 2114 1929 dengan format Reg IM Nama AlamatSurat AlamatEmail
agar tampilan website ini dapat berjalan lebih optimal, disarankan menggunakan program browsing internet terbaru