Strategi Mengoptimalkan Kekebalan Hasil Vaksinasi

Vaksinasi merupakan tindakan memasukkan vaksin ke dalam tubuh ternak untuk menggertak pembentukan kekebalan (antibodi) sehingga dapat mencegah infeksi penyakit. Berhasil atau tidaknya vaksinasi menghasilkan titer antibodi dengan level protektif dipengaruhi oleh banyak faktor seperti kualitas vaksin, kondisi ayam, metode vaksinasi, keterampilan vaksinator, serta kondisi lingkungan (agen penyakit, biosekuriti). Dari semua faktor tersebut yang umum menyebabkan kegagalan vaksinasi adalah turunnya status kondisi tubuh ayam akibat stres atau agen immunosuppressant (penyebab imunosupresi).

Berbagai macam agen immunosuppressant yang mengancam ternak ayam telah dijelaskan pada rubrik Artikel Utama edisi ini. Salah satu cara untuk mencegah imunosupresi yaitu dengan mengonsumsi imunostimulan. Lalu bagaimana imunostimulan dapat mengoptimalkan kekebalan hasil vaksinasi? Berikut akan kami bahas.

 

Imunostimulan

Seperti yang telah disampaikan di awal bahwa turunnya kondisi tubuh ayam bisa menyebabkan kegagalan vaksinasi. Menurunnya kondisi tubuh ini juga menandakan, baik kekebalan spesifik maupun non-spesifik tidak bisa bekerja optimal melawan serangan bibit penyakit dari luar. Hal ini bisa disebabkan oleh menurunnya aktivitas sel makrofrag atau menurunnya jumlah produksi kekebalan humoral dan seluler di dalam tubuh ayam. Untuk meningkatkan kembali aktivitas sel makrofag dan produksi zat kebal (antibodi), ayam harus memperoleh nutrisi pakan yang tepat dan seimbang, serta meminimalkan faktor stres atau imunosupresi.

Namun karena kita tidak bisa menjamin 100% pakan di lapangan baik kualitasnya, atau sulit menghindari ancaman stres maupun faktor imunosupresi, maka kita perlu memberikan suplemen tambahan bagi ayam. Suplemen tersebut bisa berupa vitamin, mineral, elektrolit, asam amino, premix, dan bahan aktif imunostimulan.

Imunostimulan adalah bahan yang dapat bekerja meningkatkan kerja sistem kekebalan. Dalam hal ini imunostimulan berperan:

  • Meningkatkan aktivitas fagositosis dari sel-sel makrofag.

  • Merangsang tubuh ayam untuk memproduksi lebih banyak kekebalan humoral (sel B-limfosit) dan kekebalan seluler (sel T-limfosit).

Selain itu, imunostimulan juga mampu menekan reaksi sistem kekebalan yang berlebihan pada kondisi imunosupresi (misalnya kondisi stres). Dengan demikian melalui pemberian imunostimulan, kekebalan atau daya tahan tubuh ayam selalu optimal dan siap menghalau serangan virus, bakteri, atau mikroba patogen lainnya yang masuk ke tubuh ayam. Di Indonesia, produk imunostimulan banyak macamnya dan dibuat dari berbagai sumber bahan baku, seperti dari jasad renik khamir (ragi) dan mayoritas berasal dari esktrak tanaman.

 

Imunostimulan Herbal

Indonesia memiliki keanekaragaman hayati sekitar ± 300.000 jenis tanaman, dan di antaranya 26% telah dibudidayakan. Sementara sekitar 74% sisanya masih tumbuh liar di hutan-hutan. Dari jumlah tersebut, sebanyak 940 jenis tanaman telah digunakan sebagai tanaman obat tradisional atau fitobiotik untuk manusia.

Tidak hanya untuk manusia, saat ini banyak pula peternak unggas yang telah memanfaatkan tanaman sebagai obat alami untuk diberikan pada ternak yang dipelihara. Tujuan pemberiannya pun beragam, seperti meningkatkan nafsu makan, memacu pertumbuhan, mengurangi bau kotoran di kandang, meningkatkan produksi dan kualitas telur, mengobati ternak yang sakit, dan terakhir untuk meningkatkan daya tahan tubuh ternak atau sebagai imunostimulan.

Secara garis besar obat alami yang berasal dari tanaman dibagi menjadi 3 macam, yaitu obat tradisional/jamu, Obat Herbal Terstandar (OHT), dan fitofarmaka. Menurut SK Kepala Badan POM RI No. HK.00.05.4.2411, perbedaan dari ketiga macam obat alami tersebut tercantum pada Tabel 1.

 

Saat ini kita paham betul bahwa obat tradisional/jamu adalah jenis obat alami cukup banyak dipakai oleh peternak di lapangan. Sedangkan produk obat herbal terstandar dan fitofarmaka masih sedikit penggunaannya akibat harganya yang lebih tinggi dibanding obat tradisional dan juga masih terbatasnya kedua jenis produk tersebut di pasaran.

Meski memiliki harga yang lebih tinggi dibanding obat tradisional, produk herbal terstandar yang diperuntukkan bagi ternak memiliki kualitas lebih baik, dinilai dari bahan baku yang digunakan. Pada obat herbal terstandar, pihak produsen sudah menggunakan bahan baku berupa ekstrak tanaman. Sedangkan pada penggunaan jamu, peternak harus mengolah tanaman herbal terlebih dahulu untuk mendapatkan ekstrak dan hal ini membutuhkan tenaga dan biaya yang tidak sedikit. Apalagi jika jamu tersebut akan digunakan secara kontinyu setiap hari.

Menyadari perlunya penyediaan produk obat herbal terstandar bagi peternak, maka Medion kini mulai mengembangkan produk herbal terstandar yang sudah dipastikan aman dan terstandarisasi, salah satunya imunostimulan herbal Imustim. Imustim merupakan suplemen herbal berbentuk cair yang berfungsi meningkatkan kekebalan tubuh unggas.

Dari hasil penelitian R&D Medion (2016), pemberian Imustim sebelum dan sesudah vaksinasi terbukti bekerja sebagai imunostimulan dengan mempercepat peningkatan titer antibodi hasil vaksinasi (Grafik 1 dan 2). Imustim juga mampu mempercepat peningkatan titer antibodi hasil vaksinasi pada kondisi jadwal vaksinasi yang padat (kondisi imunosupresi, red) seperti yang telah disampaikan pada rubrik Artikel Utama edisi ini.

Sebaiknya Imustim diberikan 3 hari berturut-turut sebelum dan setelah periode vaksinasi agar hasil vaksinasi lebih optimal. Imustim aman digunakan untuk jangka panjang dan dapat dicampur langsung dengan obat atau vitamin. Ketika ada jadwal vaksinasi, sebaiknya Imustim diberikan secara terpisah dengan vaksin untuk memastikan kualitas dan potensi vaksin tetap terjaga. Namun begitu, Imustim bisa diberikan di hari yang sama dengan vaksinasi, tetapi di waktu yang berbeda. Misalnya pagi hari diberikan vaksin dan sore harinya diberikan Imustim. Jangan mencampur Imustim dengan desinfektan atau kaporit untuk memaksimalkan daya kerja zat aktif di dalam Imustim. Air yang mengandung desinfektan atau kaporit tetap harus diendapkan 6 jam terlebih dahulu sebelum digunakan untuk mencampur obat, vitamin, serta Imustim.

Selain untuk mengoptimalkan hasil vaksinasi, Imustim juga bisa diberikan saat ayam terserang penyakit guna mempercepat proses pemulihan kesehatan. Pemberiannya dilakukan selama 5 hari berturut-turut ketika ayam terlihat dalam kondisi lemah atau sakit.

Demikian bahasan mengenai imunostimulan untuk mengoptimalkan kekebalan hasil vaksinasi. Selain memberikan imunostimulan pada ayam, tetap perhatikan faktor lainnya yang mempengaruhi keberhasilan vaksinasi. Semoga bermanfaat.

 


 

Info Medion Edisi Januari 2017

Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

www.medion.co.id               info@medion.co.id                 0813-2185-7405 (Customer Service)                 facebook.com/medionwisata 
Cara berlangganan Info Medion SMS ke 0852 2114 1929 dengan format Reg IM Nama AlamatSurat AlamatEmail
agar tampilan website ini dapat berjalan lebih optimal, disarankan menggunakan program browsing internet terbaru