Pentingnya Keseragaman untuk Pullet Berkualitas

Seorang peternak ayam petelur di Blitar mulai beternak sejak tahun 2007 dan selalu memulai pemeliharaan dengan persiapan kandang yang cukup beserta segala peralatannya. Setiap DOC masuk, ia melakukan seleksi ayam yang sesuai dan tidak sesuai standar termasuk seleksi berat badan yang dilakukan dengan penimbangan. Saat itulah ia memahami bahwa di awal pemeliharaan sudah bisa didapatkan gambaran performa ayam yang baik dan kurang baik. Sehingga seleksi dan penimbangan berat badan ayam sejak awal sangat penting.

Peternak tersebut rutin melakukan pencatatan hingga mencapai fase pullet (16 minggu). Dari hasil pencatatan tersebut ia bisa melihat keseragaman dari ayam yang dipelihara. Ia menemukan hal menarik bahwa jika dilihat secara sekilas tidak akan ada perbedaan, tetapi setelah melihat data ternyata ditemukan perbedaan berat badan dan pertumbuhan yang cukup signifikan. Peternak di Blitar tersebut menyadari bahwa sebenarnya produksi telur tidak hanya ditentukan oleh keberhasilan manajemen dan pakan pada masa bertelur. Masa pertumbuhan juga sangat menentukan produktivitas ayam petelur. Dalam hal inilah dia menekankan pentingnya kontrol berat badan dan keseragaman pada masa pemeliharaan pullet yang akan berpengaruh pada masa produksi mendatang.

Pullet di Peternakan saat ini

Banyak peternak yang mengeluh sulitnya mencapai standar performa ayam petelur walau telah melakukan berbagai macam usaha ketika masa produksi. Bisa jadi, fakta ini disebabkan masih sedikit peternak yang memberi perhatian lebih terhadap manajemen pullet di peternakannya atau bahkan belum memahami tentang pentingnya fase tersebut. Terkadang upaya pemeliharaan yang dilakukan hanya fokus pada peningkatan nutrisi dan perbaikan program kesehatan, namun hal ini tidak dapat menjadi solusi apabila kualitas pullet yang dari awalnya sudah rendah.

Populasi ayam petelur selalu meningkat dari tahun ke tahun, berdasarkan Statistik Peternakan dan Kesehatan Hewan hingga 2016 tercatat populasi ayam ras petelur di Indonesia mencapai 161.349.806 ekor sedangkan pada tahun 2015 masih 155.007.388 ekor. Jika umur produksi ayam ras petelur rata-rata mencapai 90 minggu, maka kebutuhan pullet setiap minggunya bisa mencapai 1.792.775 ekor. Ini menunjukkan bahwa peluang bisnis ayam petelur, khususnya pullet, masih sangat luas.

Pullet adalah ayam petelur yang dipelihara di umur 0-16 minggu. Namun biasanya sudah bisa dikatakan pullet jika telah memasuki umur 12-16 minggu. Program pembentukan pullet yang optimal harus dimulai sejak DOC hingga menjelang awal produksi. Pullet memiliki tahapan perkembangan tubuh yang kompleks sesuai periodenya (starter dan grower). Perkembangan kerangka tubuh (frame size) yang terbentuk sempurna akan sangat mendukung pencapaian puncak produksi yang optimal.

Pentingnya Memahami Keseragaman Pullet

Produktivitas ayam petelur yang optimal dipengaruhi banyak faktor, salah satunya keseragaman ayam mulai dari DOC hingga masa pullet atau siap berproduksi. Keseragaman yang baik dapat diartikan ayam dalam 1 populasi memiliki kesamaan. Kondisi ini menjadi syarat penting agar produksi telur atau henday bisa mencapai puncak. Seperti telah kita ketahui, tingkat produktivitas ayam petelur diperhitungkan melalui perbandingan antara jumlah produksi telur yang dihasilkan pada satu populasi tertentu. Jadi saat keseragaman ayam tidak optimal maka waktu produksi telurnya akan sangat beragam sehingga puncak produksi sulit tercapai.

Keseragaman menjadi ukuran variabilitas ayam dalam suatu populasi. Secara fisik, berat badan ayam petelur haruslah seragam. Seragam disini tentulah diartikan berat badan sebagian besar ayam sama, yaitu sesuai dengan standar. Berat badan ayam petelur dikatakan sesuai standar jika mencapai + 10% dari target berat badan dari standar panduan pemeliharaan tiap strainnya. Sebagai contoh, target berat badan ayam petelur umur 12 minggu ialah 1.076 gram sehingga berat badan dikatakan standar bila minimal 968 gram dan maksimal 1.184 gram (Hyline Manual Guide, 2016).

Lebih baik lagi apabila saat fase grower berat badan bisa di angka minimal sama atau melebihi target. Mengapa? Saat ayam mulai menghasilkan telur sampai puncak produksi, yang disebut masa kritis, biasanya mengalami stres disebabkan target produksi telur yang harus meningkat drastis menuju puncak, berat atau ukuran telur pun harus bertambah dan tak ketinggalan pertambahan berat badan.

Untuk mencapai target tersebut membutuhkan lebih banyak nutrisi yang siap digunakan saat asupan nutrisi belum optimal. Dan “simpanan” ini akan diambil dari kelebihan berat badan tersebut.

Namun berat badan ayam yang terlalu besar juga bukan sebuah keuntungan. Berat badan yang terlalu gemuk akan menimbulkan adanya timbunan lemak di daerah perut (abdomen). Kondisi ini akan mengurangi elastisitas saluran telur karena tertahan oleh tumpukan lemak tubuh tersebut. Akibatnya saat terjadi kontraksi saluran telur relatif sulit kembali ke posisi semula atau ada sebagian saluran telur yang berada di luar. Kondisi ini yang akan memicu munculnya kasus prolapsus.

Keseragaman tidak hanya untuk berat badan, namun keseragaman ukuran kerangka tubuh maupun kedewasaan kelamin juga perlu dicapai karena akan sangat berpengaruh terhadap produksi dan kualitas telur. Ukuran kerangka yang optimal sangat berpengaruh terhadap produksi dan kualitas telur. Saat proses pembentukan telur, kalsium pada kerangka tubuh akan diambil untuk dideposisikan pada kerabang telur. Setelah selesai, kerangka ini akan di re-formulasi (dibentuk kembali) dengan suplai kalsium dan fosfor dari ransum. Kerangka tubuh yang kecil akan mensuplai kalsium dalam jumlah kecil. Kondisi ini akan mengakibatkan ukuran telur menjadi relatif kecil. Normal atau tidaknya ukuran kerangka (frame size) bisa diketahui dari panjang shank (tulang kering). Pada umur 19 minggu, ayam layer biasanya memiliki panjang shank 10,4 cm dan ukurannya akan tetap sama hingga ayam berumur tua.

 

Dewasa Kelamin

Kematangan seksual (dewasa kelamin) yang terjadi secara serempak sangat diperlukan agar puncak produksi segera tercapai dan bisa bertahan lama. Kematangan seksual ini haruslah diselaraskan dengan kedewasaan tubuh (berat badan).

Disaat ayam ada yang mulai berproduksi telur, kita harus segera memberikan stimulasi pencahayaan agar produksi telur dapat berlangsung secara serempak. Oleh karena itu, suatu populasi ayam dengan tingkat keseragaman yang baik, yaitu setidaknya 80-85% ayam harus memiliki berat badan, kerangka tubuh dan kedewasaan kelamin yang sama. Dengan kondisi ini, manajemen pemeliharaannya menjadi relatif mudah untuk diterapkan, seperti manajemen ransum, program pencahayaan dan vaksinasi. Kebutuhan ayam akan terpenuhi dengan baik dan respon fisiologis juga akan sama. Kondisi ini sangat diperlukan guna mencapai produksi telur yang optimal.

 

Kontrol Berat badan

Kontrol berat badan (penimbangan) merupakan hal yang penting pada pemeliharaan ayam petelur dan perlu dilakukan secara rutin. Berat badan yang sesuai standar merupakan indikator dari status kondisi kesehatan pullet dan sebagai penentu dari potensi produksi di masa periode bertelur.

 

Ayam pullet yang terlalu ringan atau terlalu berat dari standar pada akhirnya tidak akan mampu berproduksi secara maksimal. Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat melakukan kontrol berat badan ialah :

  1. Jumlah sampel ayam yang ditimbang 100 ekor tiap kandang secara merata di setiap bagian kandang dan bisa ditingkatkan 5% jika dipelihara pada kandang baterai. Metode penimbangannya pun sebaiknya per individu ayam.

  2. Penimbangan berat badan saat ayam petelur umur 0-4 minggu dilakukan secara berkelompok sedangkan umur > 4 minggu sebaiknya dilakukan per individu ayam.

  3. Timbangan yang digunakan sebaiknya timbangan gantung dengan skala pembagi tidak lebih dari 20 gram.

  4. Saat umur 0-18 minggu, kontrol berat badan sebaiknya dilakukan setiap 1 minggu sekali, umur 18 minggu sampai puncak produksi dilakukan setiap 2 minggu sekali. Setelah puncak produksi ayam hanya perlu ditimbang setiap 1 bulan sekali.

  5. Waktu penimbangan dilakukan pada waktu yang tetap, misalkan pada hari Senin pagi dengan kondisi tembolok masih kosong, sehingga akan bias karena waktu yang berbeda. Sekalipun berat ransum yang dikonsumsi bisa diminimalisir tetap saja berbeda.

  6. Setelah penimbangan, hitung keseragaman dengan membandingkan antara ayam yang sesuai standar.

Target keseragaman berat badan dalam satu flok yang baik adalah 80-85% untuk pullet, sedangkan untuk ayam yang sudah berproduksi antara 70-80%. Keseragaman ideal terjadi bila 80-85% dari populasi ayam berat badannya sesuai dengan standar, dengan toleransi ± 10% dari target.

Jika ada dua kelompok berat badan ayam, yang satu sesuai standar dan yang lain dibawah standar maka lakukan pemeriksaan dan evaluasi terhadap hal-hal yang dapat menyebabkan berat badan rendah, seperti distribusi tempat ransum dan air minum maupun manajemen potong paruh yang kurang tepat. Lain halnya jika keseragaman baik tapi berat badan rata-rata dibawah standar. Penanganannya ialah melakukan pemeriksaan kualitas dan jumlah ransum yang diberikan. Selain itu, perhatikan juga kenyamanan kandang (suhu, kelembapan dan sirkulasi udara). Sedangkan, apabila berat badan ayam lebih dari standar, lakukan treatment untuk menurunkan berat badan secara perlahan dan bertahap. Biasanya bisa dengan mengurangi jatah ransum (feed intake) sebesar 2-5 g/ekor/hari secara bertahap hingga diperoleh berat badan sesuai standar.

 

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Keseragaman

Faktor yang perlu diperhatikan agar keseragaman tercapai antara lain :

  • Kualitas DOC

     

    DOC yang baik sangat menentukan pertumbuhan ayam pada periode berikutnya. Keseragaman ayam akan tercapai jika DOC juga seragam. DOC yang berasal dari berbagai strain breeder juga biasanya memiliki pertumbuhan yang berbeda. Oleh karena itu, dalam sebuah kandang sebaiknya dipelihara DOC dengan jenis yang sama.

  • Kepadatan kandang

    Kandang yang terlalu padat akan meningkatkan kompetisi dalam mendapatkan ransum, air minum maupun oksigen. Kompetisi ini akan memunculkan ayam yang kalah dan menang sehingga pertumbuhannya menjadi tidak seragam. Kepadatan ayam petelur saat masa grower (4-10 minggu) sebaiknya 12 ekor/m2 (ISA Management Guide, 2015). Kepadatan kandang hendaknya diatur untuk meminimalkan kompetisi.

  • Tempat ransum dan air minum

    Manajemen pemberian ransum (feeding) yang tidak optimal bisa menyebabkan tidak tercukupinya asupan nutrisi sehingga berdampak terhadap rendahnya tingkat keseragaman. Misalnya apabila akibat terlambatnya pemberian ransum, atau jumlah dan distribusi tempat ransum yang tidak sesuai dengan jumlah ayam. Jumlah dan distribusi tempat ransum dan air minum harusnya sesuai dengan populasi ayam sehingga suplai ransum dan air minum sesuai dengan kebutuhan. Selain itu, jumlah pemberian dan kualitas ransum maupun air minum harus sesuai dengan kebutuhan ayam.

  • Kandang yang nyaman

    Ayam akan tumbuh dan berproduksi secara optimal jika dipelihara di kandang yang nyaman. Kenyamanan ini bisa ditunjukkan dari suhu (25-28°C) dan kelembapan udara (70%) kandang. Selain itu, sirkulasi udara harus diperhatikan sehingga mampu membawa keluar gas berbahaya, seperti amonia, CO2 dan memasukkan O2 secara optimal. Manajemen buka tutup tirai perlu diterapkan secara tepat. Penambahan exhaused fan/kipas juga bisa dilakukan untuk membantu sirkulasi udara pada kandang dengan aliran angin rendah.

  • Potong paruh

     

    Pemotongan paruh mampu meningkatkan efisiensi ransum. Apabila hal ini tidak dilakukan, atau dilakukan namun hasil potongannya tidak sesuai, maka konsumsi ransum tetap tidak akan efisien dan justru akan berpengaruh terhadap pencapaian keseragaman. Hal tersebut disebabkan karena ayam lebih suka memilih ransum yang butiran dan ransum yang lebih halus akan tidak dimakan. Tentu saja hal tersebut akan merugikan peternak secara materi karena tingginya biaya ransum yang perlu dikeluarkan untuk mencapai performa dan keseragaman ayam yang baik.

  • Program kesehatan yang tepat

    Penyakit dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan keseragaman. Oleh karena itu, program kesehatan harus diterapkan secara tepat. Vaksinasi dilakukan secara tepat baik jadwal, jenis vaksin maupun aplikasi vaksinasinya. Begitu juga pengobatan, hendaknya dilakukan dengan tepat. Biosekuriti perlu diaplikasikan secara ketat agar tantangan bibit penyakit bisa diminimalkan. Sehingga ayam akan tumbuh berkembang secara optimal hingga mencapai produksi maksimal.

Kendala yang Muncul saat Pemeliharaan Pullet dan Penanganannya

Manajemen pada masa pemeliharaan DOC hingga pullet ini memang cenderung rumit dan membutuhkan perhatian yang lebih intensif selain dari hanya memperhatikan keseragaman. Agar keseragaman dapat tercapai lebih baik lagi, maka perlu didukung pula dengan perbaikan manajemen pemeliharaan seperti memilih DOC berkualitas sejak awal, memperhatikan kepadatan kandang, serta menciptakan kondisi sirkulasi udara yang nyaman seperti yang telah dijelaskan sebelumnya. Namun, masih ada lagi kendala yang sering dialami saat masa pemeliharaan pullet seperti berikut:

  • Masa brooding kurang optimal

    Kegagalan pada masa ini akan mempersulit pencapaian produktivitas yang optimal pada fase siap berproduksi. Pada masa brooding, ayam akan mengalami pertumbuhan sangat pesat dan mencakup semua organ yang berperan bagi produktivitas ayam. Karena serangkaian proses yang terjadi selama masa brooding begitu penting, maka perhatian dan penanganan secara intensif tidak bisa terlewatkan pada masa ini. Penuhi semua kebutuhan masa brooding mulai dari aspek chick guard, pemanas, litter, ketersediaan ransum dan air minum, kebutuhan suhu dan kelembapan kandang, udara, maupun cahaya. 

  • Nutrisi tidak sesuai dengan fase pemeliharaan ayam

    Kandungan nutrisi dalam ransum erat kaitannya dengan tahapan pertumbuhan ayam. Ransum fase starter diformulasikan memiliki kandungan protein yang lebih tinggi dibanding fase grower dan layer karena dibutuhkan untuk masa pertumbuhan. Jika ransum ini diberikan pada ayam petelur masa grower maka ayam akan menjadi kegemukan sehingga nantinya produksi telur tidak bisa optimal. Sedangkan ransum untuk fase layer membutuhkan lebih banyak nutrisi seperti protein, lemak, energi metabolisme serta berbagai mineral untuk mengoptimalkan produksi telurnya.

  • Kurangnya kontrol pencahayaan pada masa grower

    Kurangnya kontrol pencahayaan masa fase grower dan ayam mendapatkan cahaya berlebihan dapat mengakibatkan dua kemungkinan. Pertama, ayam akan bertelur dini. Kedua, berat badan ayam akan melebihi standar karena adanya kesempatan makan di malam hari, sehingga memperbesar kemungkinan kasus prolapsus. Pada fase ini cahaya bisa diberikan dalam waktu paling singkat (12 jam atau hanya dari cahaya matahari) dengan intensitas terendah (5-10 lux).

  • Penanganan pindah kandang yang tidak tepat

    Apabila penanganan pindah kandang dilakukan terlambat dan tidak tepat, stres yang dialami ayam lebih tinggi dan mengakibatkan produksi telur nanti akan lambat atau bahkan muncul kematian. Penangkapan harus dilakukan secara hati-hati di waktu seperti malam, pagi atau sore hari disaat kondisi kandang tidak panas. Upayakan agar ayam tidak terlalu banyak berterbangan dan “berteriak”. Gunakan juga sarana pengangkut ayam yang berkualitas dan nyaman seperti Keranjang Ayam Medion.

     

  • Kurangnya penerapan program kesehatan

    Penerapan program kesehatan termasuk komponen penting yang berpengaruh terhadap produktivitas ayam petelur. Idelanya ayam sudah divaksinasi terakhir maksimal 2 minggu sebelum produksi. Lakukan monitoring titer antibodi ND, AI, EDS dan IB secara rutin minimal 1 bulan sekali untuk melihat protektivitas titer antibodi. Berikan suplemen menambah nafsu makan dan peningkat daya tahan tubuh seperti Kumavit. Kumavit mengandung zat aktif dalam ekstrak Curcuma yang dapat mempercepat proses metabolisme nutrisi. Sedangkan untuk menambah mineral dan nutrisi lain dalam ransum ayam petelur bisa menggunakan Mineral Feed Suplement A. Penggunaan Mineral Feed Supplement A akan memperbaiki produksi telur dan meningkatkan mutu telur.

 

Keseragaman memiliki kedudukan yang penting terhadap tingkat produktivitas ayam. Kontrol keseragaman perlu secara rutin dilakukan, meliputi berat badan, ukuran kerangka tubuh dan dewasa kelamin. Salam.

 

 

www.medion.co.id               info@medion.co.id                 0813-2185-7405 (Customer Service)                 facebook.com/medionwisata 
Cara berlangganan Info Medion SMS ke 0852 2114 1929 dengan format Reg IM Nama AlamatSurat AlamatEmail
agar tampilan website ini dapat berjalan lebih optimal, disarankan menggunakan program browsing internet terbaru