Pencahayaan Harus di Program dengan Baik

Perlu kita ketahui bersama bahwa pencahayaan yang kita berikan pada ayam petelur berpengaruh pada proses kematangan organ reproduksi dan pertumbuhan ayam. Oleh karena itu, jika kita lalai memperhatikan program pencahayaan, maka tak ayal produktivitas ayam pun akan terganggu. Sayangnya, meski cahaya dan ayam ada korelasinya, belum banyak peternak yang ambil pusing soal ini.

 

Fungsi Cahaya bagi Ayam Petelur

Cahaya dalam dunia fisika didefinisikan sebagai gelombang elektromagnetik yang dipancarkan oleh suatu benda. Dari penelitian intensif pada ayam komersial modern selama satu dekade terakhir dilaporkan bahwa cahaya dapat mempengaruhi fungsi fisiologis beberapa bagian otak besar ayam, khususnya hipotalamus.

Adanya pencahayaan, baik berasal dari cahaya alami (sinar matahari) maupun buatan (lampu) akan menstimulasi hipotalamus yang kemudian diteruskan ke kelenjar-kelenjar tubuh, seperti hipofisa, tiroid dan paratiroid untuk mensekresikan (menghasilkan) hormon. Kelenjar hipofisa akan mensekresikan folicle stimulating hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH). Hormon FSH berfungsi mematangkan folikel/sel telur pada indung telur (ovarium), sedangkan hormon LH berfungsi menggertak proses ovulasi (pelepasan sel telur dari ovarium ke oviduk/saluran telur). Kedua hormon inilah yang sangat berperan penting bagi pembentukan sebutir telur.

Adanya rangsangan cahaya juga akan menstimulasi kelenjar tiroid mensekresikan hormon tiroksin yang berfungsi mengatur kecepatan metabolisme tubuh sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan. Selain kelenjar hipofisa dan tiroid, kelenjar paratiroid juga terstimulasi oleh adanya cahaya untuk mensekresikan hormon paratiroksin yang berperan mengatur kadar kalsium (Ca) dan fosfor (P) dalam darah.

 

 

Ketentuan Pencahayaan

Setelah mengetahui fungsi dari cahaya, kita tahu ada begitu banyak manfaat bagi ayam petelur jika cahaya bisa diprogram dengan baik. Nah, terkait program pencahayaan ini, dasarnya ada pada lama dan besarnya intensitas cahaya yang diberikan. Selanjutnya, faktor lain seperti jumlah lampu, jarak dan distribusi lampu, warna gelombang serta jenis lampu yang digunakan sebaiknya juga ikut diperhatikan.

a) Lama dan intensitas pencahayaan

Pada ayam petelur, lama pencahayaan dan intensitas cahaya sangat dipengaruhi oleh periode atau umur ayam.

  • Masa starter (0-6 minggu): ayam diberikan pencahayaan dengan intensitas paling tinggi (20-40 lux) dan waktu paling lama, khususnya saat brooding (21-24 jam). Tujuannya untuk mempermudah ayam mengenali tempat ransum dan air minum sehingga merangsang aktivitas makan serta memacu pertumbuhan.

  • Masa grower (7-18 minggu): cahaya diberikan dalam waktu paling singkat (12 jam atau hanya dari cahaya matahari) dengan intensitas terendah (5-10 lux). Hal ini dimaksudkan untuk mengontrol perkembangan saluran reproduksi dan pencapaian berat badan yang optimal saat mulai berproduksi. Jika pada masa ini ayam diberi cahaya berlebihan, maka ada dua kemungkinan yang akan terjadi. Pertama, ayam akan bertelur dini. Kedua, berat badan ayam akan melebihi standar sehingga akan memperbesar kemungkinan kasus prolapsus.

  • Masa layer (> 18-80 minggu): cahaya diberikan maksimal 16 jam dengan intensitas 10-20 lux.

    Adapun ketentuan terkait penambahan cahaya pada masa ini, antara lain:

  1. Penambahan lama pencahayaan harus segera dilakukan saat ayam pertama kali bertelur.

  2. Penambahan lama pencahayaan berikutnya dilakukan secara ber-tahap yaitu bertambah ½ jam di tiap minggunya terhitung saat ayam pertama kali bertelur, hingga akhir-nya mencapai 16 jam.

  3. Jangan mengurangi lama pencahaya-an saat ayam berproduksi telur, terlebih lagi saat masa kritis (masa awal produksi sampai produksi puncak), yaitu di umur 18-28 minggu.

Pada fase layer ini, adanya pencahayaan akan membantu proses pembentukan telur, pertumbuhan berat badan dan membantu metabolisme Ca serta P yang sangat diperlukan untuk pembentukan kerabang telur dan tulang.

 

b) Jumlah lampu

Jumlah lampu yang diperlukan untuk memperoleh intensitas cahaya yang dikehendaki bisa dihitung dengan rumus:

N : jumlah lampu

Lumen : lumen lampu/nilai luminous flux (biasanya tertera pada kemasan lampu)

F-utilisasi : faktor pemanfaatan (0,65)

F-depresi : faktor penyusutan cahaya (0,9)

 

Misalnya dalam sebuah kandang berukuran panjang 30 m dan lebar 5 m, ingin dipasang lampu dengan daya 15 watt dan intensitas 40 lux. Dalam kemasan lampu tertera nilai luminous flux-nya 1030 lm. Berapakah jumlah lampu yang harus dipasang dalam kandang tersebut?

 

Jawab:


N = 9,9 (angka dibulatkan)

N = 10 buah lampu

Dari perhitungan ini bisa disimpulkan bahwa untuk kandang dengan luas 150 m2, harus dipasang 10 buah lampu dengan daya masing-masing lampu 15 watt.

Catatan: Jika di kemasan lampu tidak tertera nilai luminous lux, tapi hanya tertera nilai luminous efficacy, maka nilai lumen-nya adalah:

Lumen = daya (watt) x luminous efficacy

 

c) Jarak dan distribusi lampu

Terkait jarak dan distribusi lampu di kandang ayam sebenarnya tidak ada ketentuan yang baku. Lampu dapat dipasang di tengah, atau di sisi kiri dan kanan, dengan jarak antar lampu dibuat sama. Sedangkan untuk jarak/ketinggiannya dari lantai, disarankan 2 meter (lihat Gambar B).

d) Warna gelombang (light wavelengths) lampu

Menurut Pyrzak et al., (1987), warna gelombang lampu yang dipasang di kandang mempengaruhi produktivitas ayam petelur. Warna gelombang oranye-merah dilaporkan mampu merangsang ayam untuk memproduksi telur lebih tinggi dibanding warna biru atau hijau. Sebaliknya, warna gelombang biru-hijau mampu menstimuli pertumbuhan berat badan ayam lebih baik dibanding warna oranye-merah. Dengan mengetahui fakta ini, maka untuk kandang ayam petelur yang sudah memasuki masa bertelur, disarankan peternak menggunakan lampu yang memancarkan warna oranye-merah.

 

e) Jenis lampu

Pemilihan jenis lampu dalam pemeliharaan ayam petelur, sebaiknya disesuaikan dengan warna lampu yang dibutuhkan. Secara umum, ada 2 jenis lampu yang bisa digunakan untuk kandang ayam petelur di Indonesia, yaitu incandescent lamps dan fluorescent lamps.

  • Incandescent lamps adalah lampu pijar berbentuk bohlam yang menghasilkan cahaya dengan menyalurkan arus listrik melalui filamen yang ada di dalamnya. Lampu jenis ini umumnya berwarna oranye-merah, meskipun ada pula yang berwarna biru-putih. Harganya yang murah menjadikan lampu jenis ini banyak digunakan peternak. Meski demikian, lampu ini termasuk boros energi listrik.

  • Fluorescent lamps atau yang biasa kita kenal dengan istilah lampu neon adalah lampu listrik yang memanfaatkan gas neon dan lapisan fluorescent sebagai pemendar cahaya pada saat dialiri arus listrik. Meski harganya lebih mahal, namun lampu jenis ini mampu menghasilkan cahaya per watt lebih tinggi daripada lampu bohlam biasa (incandescent lamps). Jika peternak ingin menggunakan lampu ini untuk menerangi kandang ayam produksi, sebaiknya pilih lampu neon yang memancarkan warna oranye-merah (bisa disesuaikan dengan spesifikasi yang tertera pada kemasan lampu).

 

Info Medion Edisi Januari 2014

Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

 

Print

www.medion.co.id               info@medion.co.id                 0813-2185-7405 (Customer Service)                 facebook.com/medionwisata 
Cara berlangganan Info Medion SMS ke 0852 2114 1929 dengan format Reg IM Nama AlamatSurat AlamatEmail
agar tampilan website ini dapat berjalan lebih optimal, disarankan menggunakan program browsing internet terbaru