Pentingnya Uji Kualitas Ransum | Print |

Ransum tersusun dari kumpulan bahan baku yang diformulasikan secara khusus sehingga memiliki kandungan nutrisi yang sesuai dengan kebutuhan. Kualitas ransum sangat ditentukan dari kualitas bahan baku yang digunakan. Namun saat ini kualitas bahan baku sulit dipertahankan karena iklim sudah tidak stabil lagi akibat adanya pemanasan global. Selain itu perbedaan supplier juga akan mempengaruhi keragaman kualitas bahan baku. Melihat kondisi tersebut perlu sekiranya kita melakukan suatu uji yang terdiri dari uji fisik, mikroskopik maupun kimia agar bahan baku dan ransum tetap berkualitas.

Dari pengujian bahan baku, terutama uji kimia, kita bisa mendapatkan data real kandungan nutrisi yang dapat digunakan sebagai dasar formulasi ransum. Dan pengujian ransum jadi dapat difungsikan untuk memastikan kembali ransum yang dibuat apakah sudah sama dengan formula awal. Hal ini perlu dilakukan karena terkait alur proses pembuatan ransum yang panjang terutama saat penimbangan dan pencampuran yang sangat memungkinkan terjadinya penurunan kualitas.

Terdapat perbedaan parameter yang diukur dalam pengujian kualitas fisik, mikroskopik dan kimia. Namun ketiganya mempunyai hubungan yang erat. Misalnya jika kualitas fisik dan mikroskopik tidak bagus maka kemungkinan besar kualitas kimianya juga kurang bagus.

1.  Uji fisik

Uji fisik dilakukan dengan melihat penampakan yang bisa diukur dengan panca indra, seperti berat jenis, ukuran partikel (partikel size), biji pecah, biji jamur, benda asing, kutu, bau, warna dan rasa.

  • Berat jenis (BJ)

    Adalah mengukur berat sampel dibagi dengan volume sampel, satuannya g/l. Langkah pengujiannya dengan mengambil sampel, selanjutnya dimasukkan dalam tabung ukur 1 l lalu ditimbang untuk mengetahui beratnya.

Tabel 1. Berat Jenis Bahan Baku


(Sumber : Khajerern et al., 1999)

  • Kontaminasi

    Adalah bahan yang tidak diharapkan ada dalam bahan baku atau ransum. Adanya bahan kontaminan ini akan mengakibatkan adanya nilai nutrisi semu, seperti halnya penambahan urea pada tepung ikan atau kontaminasi tepung bulu pada meat bone meal (MBM) atau poultry meat meal (PMM). Penambahan urea maupun tepung bulu akan meningkatkan nilai protein kasar, namun urea tidak dapat dimanfaatkan oleh tubuh ayam, bahkan beracun sedangkan protein kasar dari tepung bulu meskipun kadarnya tinggi namun kecernaannya rendah.

    Selain urea dan tepung bulu, penambahan bahan kontaminan juga bisa meningkatkan berat (massa), biasanya dengan menambahkan kerikil. Salah satu cara mendeteksinya bisa dilakukan uji BJ. Selain itu, kontaminasi biji pecah, biji berjamur, kutu, kotoran (benang, tumpi, janggel, dll) juga sering terjadi.

    Sieve shaker
    , suatu alat bantu yang bisa digunakan untuk mendeteksi adanya bahan kontaminan, seperti pecahan biji jagung. Alat ini bekerja dengan memisahkan ukuran sampel melalui beberapa screen dengan ukuran berbeda (semakin ke bawah semakin kecil). Hasil perhitungan jumlah bahan kontaminan kemudian dibandingkan dengan standar. Menurut SNI (1998), jumlah biji pecah dalam jagung maksimal 2%.

 

Sieve shaker berfungsi memisahkan partikel pada sampel biji-bijian
(Sumber : www.wikipedia.com)

  • Bau

    Setiap bahan baku penyusun ransum maupun ransum jadi mempunyai bau dan warna yang spesifik. Misalnya jagung mempunyai aroma khas jagung. Bungkil kedelai yang bagus mempunyai ciri-ciri fisik bau segar khas kedelai.

  • Warna

    Setiap bahan baku penyusun ransum maupun ransum jadi mempunyai warna yang spesifik. Warna mempengaruhi kandungan nutrisi suatu bahan baku. Misalnya jagung warna kuning keputihan kandungan karotenoidnya lebih rendah dibanding dengan jagung kuning orange. Berbeda dengan bungkil kacang kedelai, warna yang terlalu cerah keputihan mengindikasikan kandungan tripsin inhibitor tinggi (suatu zat yang menghambat pencernaan protein).

  • Rasa

    Sama halnya dengan bau dan warna, uji rasa bisa digunakan untuk mendeteksi kualitas. Jika rasa tepung ikan sama seperti asinnya masakan, maka diprediksikan kadar garamnya sekitar 2–3%.


2.  Uji mikroskopis

Pengujian dengan mengamati ukuran dan bentuk partikel bahan menggunakan alat mikroskop. Dalam uji mikroskopis metode TCE (Tetrachorethilene), mikroskop yang digunakan adalah mikroskop sterio dengan kemampuan perbesaran 8-50 kali dan mikroskop compound dengan perbesaran 4-400 kali. Dengan menggunakan alat tersebut ciri-ciri fisik bahan baku bisa diketahui lebih detail, sehingga jika ada kontaminasi bisa terdeteksi.


Adanya kontaminasi tepung bulu pada tepung ikan ditandai dengan adanya serabut tipis
(Sumber : Khajerern et al., 1999)


3. Uji Kimia

Adalah nilai suatu zat yang ada di dalam sampel yang bisa diketahui dengan adanya suatu reaksi kimia. Kualitas kimia yang minimal harus di-ketahui oleh pelaku usaha ayam adalah kadar air (KA), protein kasar (PK), lemak kasar (LK), serat kasar (SK), abu, kalsium (Ca), fosfor (P) dan energi metabolisme (EM). Hasil analisis ini menentukan formulasi ransum, yaitu seberapa banyak akan digunakan dalam campuran. Kedelapan parameter nutrisi tersebut ada yang dibutuhkan ayam dalam jumlah banyak dan ada yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit. Jika ada parameter nutrisi yang tidak seimbang, maka efeknya akan sangat besar terhadap performa ayam.

  • Kadar Air (KA)

    Kadar air menentukan nilai presentase nutrisi yang ada dalam bahan baku atau ransum jadi. KA yang tinggi akan menurunkan kandungan nutrisi yang ada dan mempengaruhi tingkat kontaminasi jamur. Selain itu KA juga mempengaruhi warna, bau dan tekstur.

  • Protein Kasar (PK)

    Protein kasar sangat dibutuhkan ayam untuk pertumbuhan dan produksi, sehingga kandungannya wajib diketahui. Namun jika jumlahnya kelebihan akan memicu feses basah.

  • Lemak Kasar (LK)

    Lemak kasar adalah komponen nutrisi yang dibutuhkan oleh ayam namun jika kelebihan akan berdampak negatif, seperti penurunan feed intake. Salah satu fungsi lemak adalah sebagai pelarut vitamin (A,D,E,K) dan sumber energi.

  • Serat Kasar (LK)

    Salah satu fungsi serat yaitu mempengaruhi laju alir pakan dalam usus sehingga memudahkan proses pencernaan dan penyerapan nutrisi. Meskipun demikian jika kelebihan justru akan menghambat pencernaan dan penyerapan karena serat kasar tidak dapat dicerna oleh ayam.

  • Abu

    Kandungan abu mencerminkan kandungan mineral secara kuantitatif. Semakin banyak abu maka semakin banyak kandungan mineralnya. Namun jika jumlahnya kelebihan, proses penyerapan nutrisi akan terganggu dan menurunkan nafsu makan.

  • Kalsium (Ca) dan fosfor (P)

    Kalsium dan fosfor adalah mineral yang sangat dibutuhkan ayam. Kekurangan kalsium dan fosfor berakibat pertumbuhan tulang dan kualitas kerabang telur akan terganggu. Namun jika kelebihan justru akan mengurangi daya serapnya.

  • Energi metabolisme (P)

    Energi metabolisme adalah energi yang dapat digunakan oleh tubuh ayam. Kelebihan energi akan berdampak terhadap penurunan konsumsi ransum.

Untuk mendapatkan hasil pengujian yang mewakili kualitas seluruh sampel bahan baku atau ransum jadi, dibutuhkan sampel yang representatif. Menurut Defra (2002), sampel yang representatif didapatkan dari 10% total bahan baku atau ransum yang ada dan diambil secara acak di setiap bagian. Misalnya dalam gudang ransum terdapat 100 karung, maka yang diambil sampel adalah 10 karung (total sampel yang didapatkan ± 2 kg dari 10 karung tersebut).

Pengujian kualitas fisik, mikroskopik dan kimia mempunyai tujuan untuk memastikan bahan baku atau ransum jadi benar-benar berkualitas. Uji kualitas sebaiknya dilakukan secara periodik, disetiap kedatangan bahan baku dan ransum maupun saat terjadi perubahan supplier. Guna memudahkan hal tersebut Medion telah menyediakan fasilitas uji kualitas pakan (MediLab) dan jasa formulasi ransum. Salam. Sukses selalu.

 


Info Medion Edisi November 2011

Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

 

 

Produk Medion