Menjaga Kualitas Vaksin dari Hulu ke Hilir | Print |

Terlepas dari benar atau tidak, kualitas vaksin tentu menjadi hal pertama yang dipertanyakan oleh peternak ketika ayamnya terserang penyakit—terutama penyakit viral—pasca vaksinasi. Hal ini dinilai cukup beralasan, karena salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan vaksinasi ialah kualitas vaksin.


Vaksin Berkualitas

Vaksin dikatakan memiliki kualitas baik jika segel vaksin masih utuh atau etiket produknya masih terpasang dengan baik. Selain itu, expired date (tanggal kadaluarsa) belum habis/terlewatkan dan bentuk fisiknya tidak berubah.

Sebagai produk biologis, vaksin memiliki karakteristik tertentu dan memerlukan penanganan khusus sejak diproduksi di pabrik hingga dipakai di peternakan. Beberapa hal yang dapat menurunkan atau merusak kualitas vaksin diantaraya kemasan rusak, tercemar bahan kimia seperti detergen dan logam-logam berat (Ca, Mg, Mn, dll), suhu penyimpanan dan pH tidak sesuai maupun terkena sinar matahari lansung.


Suhu Menjadi Titik Kritis Handling Vaksin

Selama ini masih ada beberapa peternak yang beranggapan bahwa semakin dingin suhu ruang penyimpanan vaksin, maka kondisi vaksin akan semakin baik. Pendapat itu tentu tidak benar dan perlu diluruskan.

Umumnya memang semua vaksin akan rusak bila terpapar panas atau terkena sinar matahari langsung. Misalnya jika vaksin disimpan pada suhu ruang (±30°C). Namun sebaliknya, beberapa vaksin ternyata juga tidak tahan terhadap pembekuan, bahkan dapat rusak. Contohnya adalah vaksin inaktif yang dalam penyimpanannya tidak boleh < 2°C apalagi sampai membeku.

Vaksin inaktif bentuk suspensi yang disimpan pada suhu 2-8°C, secara normal akan membentuk 2 lapis cairan. Bila vaksin tersebut dikocok, maka vaksin akan homogen. Kemudian vaksin akan membentuk 2 lapis cairan kembali jika didiamkan dalam waktu yang cukup lama. Berbeda halnya jika vaksin pernah disimpan di freezer atau pernah beku, vaksin akan membentuk 2 lapis cairan hanya dalam waktu < 5 menit. Untuk vaksin inaktif bentuk emulsi yang pernah beku, tidak akan menunjukkan perubahan sejelas vaksin suspensi. Namun dapat dipastikan bahwa potensi dari vaksin itu telah menurun.

Dari beberapa bahasan di atas dapat kita simpulkan bahwa suhu menjadi salah satu titik kritis yang menentukan kualitas vaksin dari awal produksi hingga dipakai peternak. Yang menjadi pertanyaan disini, bagaimana metode penyimpanan vaksin sejak masih di pabrik? Bagaimana dengan proses distibusinya? Bisa saja kualitas vaksin sudah rusak selama perjalanan.

Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam handling vaksin secara umum, yaitu:

  • Vaksin harus disimpan pada tempat khusus dengan suhu 2-8ºC.

  • Pengeluaran vaksin dari ruang penyimpanan harus memperhatikan tanggal kadaluarsa (FEFO, First Expired First Out) dan urutan masuk vaksin (FIFO, First In First Out). Jadi, vaksin yang memiliki tanggal kadaluarsa terdekat dikeluarkan lebih dulu.

  • Waktu pengiriman vaksin harus mampu dikelola dengan baik. Perhatikan pula jarak tempuh pengiriman. Hal ini untuk menjamin ketepatan waktu pengiriman dan memperkecil kemungkinan terjadi kerusakan vaksin selama perjalanan. Dengan kondisi tersebut, diharapkan pula vaksin selalu dalam kondisi “fresh” saat akan digunakan oleh peternak.


Cold Chain System dari Hulu ke Hilir

Dalam segala kondisi, suhu vaksin baik aktif maupun inaktif harus dijaga antara 2-8ºC. Mengacu pada standar suhu tersebut, maka produsen vaksin harus mampu menerapkan cold chain system dalam setiap lini penyimpanan dan distribusi vaksinnya

Sistem rantai dingin atau cold chain system adalah sistem pengelolaan vaksin sesuai prosedur untuk menjaga vaksin tersimpan pada suhu dan kondisi yang telah ditetapkan. Sistem tersebut mulai diterapkan dari pabrik hingga vaksin diberikan kepada sasaran (peternak,red). Cold chain system disini bermanfaat untuk memperkecil kesalahan penanganan vaksin sehingga potensi vaksin tetap terjaga hingga akan digunakan.

 Sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam menunjang cold chain system diantaranya:

  • Cool room (ruang pendingin)

Vaksin yang telah lulus proses QC (quality control), wajib disimpan dalam cool room khusus vaksin bersuhu 2-8ºC. Hendaknya cool room ini selain tersedia di pabrik pusat, juga terdapat di wilayah pemasaran/distributor vaksin. Penyusunan vaksin dalam cool room juga harus memperhatikan kepadatan tumpukan agar sirkulasi udara dingin tersebar secara merata.

  • Alat pembawa vaksin

Salah satu contohnya ialah cold box berisi es batu. Alat ini umum digunakan untuk menyimpan sementara vaksin yang akan dikirim ke konsumen.

Lalu bagaimana jika jarak pengiriman cukup jauh? Apakah vaksin tetap akan dibawa menggunakan cold box? Tentu hal ini akan menimbulkan resiko besar terhadap kerusakan. Akan jauh lebih aman apabila cold box hanyadigunakan untuk mengirim vaksin antar wilayah dalam kota. Sedangkan untuk wilayah yang cukup jauh, gunakan mobil khusus pengirim vaksin yang dilengkapi dengan mesin pendingin agar suhu tetap terjaga 2-8ºC.

  • Lemari es

Penyimpanan vaksin di tingkat konsumen dapat menggunakan lemari es yang diset suhu 2-8ºC. Adapun prosedur penyimpanan vaksin yang baik di lemari es antara lain:

  1. Vaksin harus disimpan pada lemari es bagian refrigerator. Jangan menyimpan vaksin pada bagian freezer
  2. Vaksin aktif tidak boleh disimpan pada rak di depan pintu freezer
  3. Vaksin inaktif tidak boleh disimpan pada rak yang berada tepat di depan pintu dan di bawah freezer
  4. Lemari es sebaiknya dikhususkan hanya untuk menyimpan vaksin
  5. Lakukan monitoring suhu lemari es secara rutin agar kerusakan lemari es sejak awal terdeteksi

Menjaga kualitas vaksin bukan sebatas menyimpannya pada suhu dingin dan hanya dilakukan di tingkat pabrik saja. Banyak titik kritis yang harus dikontrol secara kontinyu mulai dari hulu ke hilir, artinya sejak vaksin selesai diproduksi hingga sampai di tangan konsumen. Salam.

 


Info Medion Edisi Januari 2012

Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

 

 

Produk Medion