Menyibak Arti Penting Uji Serologi | Print |

Usaha peternakan ayam merupakan investasi besar. Salah satu ancaman terhadap investasi tersebut adalah tantangan penyakit khususnya penyakit viral yang tidak dapat disembuhkan dengan pengobatan. Selain program vaksinasi dan biosecurity, kita juga perlu melakukan monitoring status kesehatan ayam yang dipelihara. Monitoring status kesehatan ayam dapat dilakukan dengan pemantauan titer antibodi yaitu uji serologi.

Uji serologi yang sering digunakan adalah HI Test (Haemagglutination Inhibition Test) dan ELISA. Kedua metode tersebut bertujuan untuk mengukur titer antibodi yang terdapat dalam serum. Dengan mengetahui gambaran titer antibodi tersebut akan didapatkan beberapa manfaat diantaranya :

a. Menentukan Jadwal Vaksinasi Pertama

Secara alami, DOC yang baru menetas akan memiliki kekebalan yang diturunkan oleh induknya (antibodi maternal,red). Pengukuran antibodi maternal Gumboro dapat digunakan untuk membantu menentukan jadwal vaksinasi pertama dengan tepat. Selain itu dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk menentukan jenis vaksin yang akan digunakan, jenis intermediate atau intermediate plus. Ketepatan jadwal vaksinasi serta ketepatan pemilihan jenis vaksin merupakan titik kritis yang mempengaruhi keberhasilan vaksinasi. Untuk dapat menentukan jadwal vaksinasi Gumboro pertama, maka pengambilan sampel dilakukan pada ayam umur 1-4 hari (sebelum vaksinasi pertama) dengan jumlah sampel minimal 18 sampel.

Selain Gumboro, dapat juga digunakan untuk mengetahui antibodi maternal lainnya seperti ND, AI maupun IB. Apabila gambaran antibodi maternal kurang bagus, maka peternak dapat mengambil langkah untuk melakukan vaksinasi lebih awal. Tentunya didukung juga dengan biosecurity ketat meminimalkan bibit penyakit yang ada di lapangan.

b. Menentukan Jadwal Revaksinasi

Pada ayam layer terutama fase produksi, peternak tentu tidak mau kecolongan dari virus-virus penyebab turunnya produksi telur seperti ND, AI, EDS maupun IB. Oleh karena itu perlu untuk dilakukan monitoring titer antibodi yang terdapat dalam tubuh ayam.

Kita ketahui bahwa antibodi ini berperan sebagai “satpam” yang akan menetralisir/menghancurkan agen penyakit sesuai dengan jenis antibodi yang terbentuk. Sebagai contoh, ketika titer antibodi AI di dalam tubuh rendah, secara kasat mata ayam tidak menunjukkan gejala apapun. Namun ketika ada serangan bibit penyakit dari lapangan, titer antibodi yang rendah tersebut tidak mampu menghalau serangan tersebut, alhasil outbreak pun tak dapat dielakkan. Lantas siapakah yang akan menanggung kerugiannya?. Berbeda halnya jika dilakukan monitoring secara rutin setiap bulan, gambaran titer yang rendah akan terdeteksi sedini mungkin. Revaksinasi segera dilakukan sehingga titer antibodi masuk dalam level aman (melindungi,red). Grafik 1 merupakan contoh hasil pemeriksaan titer antibodi terhadap AI yang dilakukan pada ayam layer umur 40 minggu dengan jadwal vaksinasi AI terakhir pada umur 18 minggu.

Dari grafik tersebut terlihat gambaran titer antibodi dan % kebal di bawah standar serta tingkat keseragaman (CV) yang variatif yaitu 111,02%. Dengan didukung data post vaksinasi yang sudah lama (12 minggu), maka segera lakukan revaksinasi agar mempunyai kekebalan yang protektif.

 


c. Mengetahui Keberhasilan Vaksinasi

 

 

Keberhasilan vaksinasi dapat diindikasikan dengan 2 hal yaitu tidak adanya serangan/outbreak penyakit dan gambaran titer antibodi yang terbentuk. Untuk melihat gambaran titer, pengambilan sampel darah dapat dilakukan pada 2-3 minggu post vaksinasi apabila menggunakan vaksin aktif dan 3-4 minggu post vaksinasi apabila menggunakan vaksin inaktif. Hasil titer dapat terbaca dari nilai GMT (Geometric Mean Titre), % kebal di atas standar dengan tingkat keseragaman yang baik. Grafik 2 merupakan contoh gambaran titer antibodi hasil vaksinasi yang baik dimana GMT, % kebal diatas standar dengan tingkat keseragaman baik (11,33 %).

Apabila terjadi kegagalan vaksinasi yang tercermin dari gambaran titer yang kurang bagus, lakukan beberapa evaluasi. Kondisi ayam saat divaksin, keseragaman dosis vaksin yang diterima oleh ayam terkait dengan aplikasi, handling vaksin, kualitas vaksin yang digunakan dan ketepatan penanganan sampel serum. Dengan demikian, vaksinasi berikutnya diharapkan dapat berhasil serta mampu melindungi ayam secara optimal. Dengan mengetahui data hasil vaksinasi, dapat menghilangkan keraguan terhadap kualitas vaksin serta memberikan rasa aman karena ternak terlindungi. Jumlah sampel yang dapat mewakili kondisi ayam di lapangan adalah 0,5% dari total populasi atau minimal 15-20 sampel/kandang.

d. Early Warning System

Jika peternak jeli mengamati hasil titer, apabila suatu saat ditemukan adanya gambaran titer yang berbeda dari biasanya (baseline titer), hal ini bisa menjadi suatu peringatan dini (early warning system) terhadap kondisi ayam. Baseline dapat diketahui dengan mengumpulkan data-data hasil uji serologi sebelumnya yang di cek secara rutin sehingga akan terbentuk pola gambaran titer pada suatu peternakan. Titer antibodi yang terlalu tinggi pun tidak selamanya bagus. Lebih baik cocokkan dengan baseline titer yang ada. Bisa jadi hal ini mengindikasikan adanya infeksi lapangan namun ayam mampu bertahan sehingga titer yang terbentuk berasal dari virus lapangan. Monitoring titer dapat dilakukan secara rutin setiap 1-2 bulan sekali setelah masuk masa produksi terutama terhadap titer antibodi ND, AI dan IB.

e. Membantu Peneguhan Diagnosa

Tidak dipungkiri lagi bahwa akhir-akhir ini untuk menentukan diagnosa penyakit terkadang membingungkan bagi peternak maupun tenaga medisnya. Uji serologi selain berperan dalam monitoring titer, ternyata juga memiliki peranan dalam membantu meneguhkan diagnosa. Ketika ayam divaksin atau terinfeksi bibit penyakit, maka respon yang terjadi adalah menggertak pembentukan antibodi sesuai dengan agen yang masuk dalam tubuh.

ND, AI, EDS dan IB merupakan penyakit viral yang sering menjadi penyebab utama menurunnya produksi telur. Dan terkadang penyakit ini sulit dibedakan apabila tidak menunjukkan gejala/perubahan yang spesifik. Pada saat seperti inilah uji serologi perlu dilakukan guna membantu meneguhkan diagnosa. Pengambilan sampel pada kondisi seperti ini sebaiknya dilakukan 2x yaitu pada permulaan terjadinya kasus serta 12-21 hari kemudian. Adanya kenaikan titer serta ketidakseragaman gambaran titer pada pemeriksaan kedua, dapat disimpulkan bahwa kemungkinan besar ayam sedang terinfeksi virus lapangan sesuai dengan jenis antibodi yang diuji.

 

Pada kasus ayam broiler, serologi juga memiliki peranan penting. Akhir-akhir ini banyak peternak broiler mengalami kerugian akibat adanya serangan penyakit yang bersifat mendadak dan menyebabkan kematian dalam jumlah banyak. Sebagai contoh pada salah satu peternakan broiler, umur 21 hari dimana ayam tersebut tidak dilakukan vaksinasi AI, tingkat kematian mencapai 40 % dalam waktu 3 hari. Pada pemeriksaan patologi anatomi menunjukkan gejala/ perubahan yang mengarah ke AI. Peternak ingin mengetahui apakah kematian tersebut akibat serangan AI atau bukan. Dari hasil pemeriksaan uji serologi ditemukan terdapat beberapa sampel yang menunjukkan adanya gambaran titer antibodi (grafik 3).

Dengan demikian gambaran titer antibodi yang terbentuk kemungkinan besar merupakan hasil dari infeksi virus lapangan. Namun demikian perlu peneguhan diagnosa dengan isolasi dan identifikasi agen penyebab penyakit. Pada kasus ini hasil uji PCR (Polymerase Chain Reaction) positif AI H5N1.

Dalam membaca hasil uji serologi, terdapat beberapa istilah yang harus dipahami yaitu :

a. Geometric Mean Titre (GMT)

GMT merupakan gambaran rata-rata titer antibodi terhadap sampel yang diperiksa. Hal ini bisa mencerminkan gambaran titer antibodi dalam suatu flok atau kandang apabila jumlah sampel memenuhi syarat

b. Persen (%) Kebal

Merupakan nilai yang menunjukkan berapa jumlah persentase ayam yang memiliki titer antibodi di atas standar. Semakin tinggi persentasenya, maka akan semakin bagus

c. CV (Coefisien of Variation)

CV merupakan tingkat keragaman titer antibodi dalam populasi. Semakin kecil nilai CV maka tingkat keragaman semakin kecil, dengan kata lain keseragaman titer antibodi dalam populasi tersebut baik

Uji serologi memegang peranan penting dalam memantau titer antibodi terhadap penyakit terutama penyakit viral penurun produksi telur. Sedikit penambahan biaya mampu mengurangi rasa was-was karena peternakan adalah investasi besar Anda. Medilab merupakan laboratorium yang salah satunya melayani uji serologi. Semoga menambah wawasan dan sukses selalu.




Info Medion Edisi Maret 2011

Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

 

Produk Medion