Uji Serologis sebagai Pendukung Diagnosa | Print |
Salah satu kunci sukses dalam usaha peternakan ialah memiliki pengetahuan dan pengalaman yang luas. Diantaranya piawai mengolah diagnosa yang didapat menjadi berbagai tindakan nyata untuk memperbaiki kondisi peternakannya. Namun diagnosa penyakit adalah pekerjaan gampang-gampang susah. Kadang peternak menghadapi kesulitan untuk beberapa keadaan seperti di bawah ini :

 

  • Kesulitan mendapatkan akses informasi dan teknologi terbaru untuk menambah pengalamannya

Pengalaman memang merupakan guru terbaik. Peternak yang sudah lama berkecimpung di dunia perunggasan tentu memiliki lebih banyak pengetahuan dari pengalamannya. Meski begitu, peternak baru pun bisa memiliki pengetahuan luas dengan memanfaatkan semaksimal mungkin media informasi yang ada. Medion pun menyediakan berbagai sumber informasi yang dapat membantu peternak, mulai dari para tenaga profesional di lapangan (TS dan TSR) hingga buletin Info Medion. Selain itu, Medion juga menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan (Diklat) bagi peternak tiap bulan.


  • Minimnya gejala yang muncul namun kerugian ekonomi sudah sangat tinggi

Contohnya adalah infeksi avian influenza (AI) subklinis yang tidak menimbulkan kematian tinggi dan tidak ada gejala sakit. Gejala yang terlihat hanyalah penurunan produksi telur. Selain itu gejala yang terlihat mirip dengan Newcastle disease (ND) dan infectious bronchitis (IB) misalnya kerabang telur menjadi lembek, gangguan pernapasan, radang pada proventrikulus di dekat perbatasan dengan ampela (ventrikulus), ginjal membengkak, ovarium mengecil, dan pengendapan asam urat. Medion menyediakan pemeriksaan serologis berupa HI Test (ND, EDS dan AI) dan ELISA (IBD, IB dan ILT) untuk mengidentifikasi agen penyakit tersebut.

Penurunan produksi telur akibat serangan AI Subklinis terjadi karena pembendungan pembuluh darah di ovarium (A) sehingga suplai nutrisi ke ovarium terhambat dan rusaknya permukaan ovarium saat proses keluarnya virus dari sel (B) sehingga sistem hormon reproduksi terhambat

  • Kasus yang muncul merupakan kasus baru

Seorang peternak tentu hafal dengan penyakit-penyakit apa saja yang sering menyerang ternaknya dan bagaimana tindakan-tindakan yang seharusnya dilakukan. Namun sejalan dengan tingginya lalu lintas keluar masuk kandang maka semakin meningkatkan peluang tertular bibit penyakit baru dari luar.

Pada awal kasus AI tahun 2003, banyak peternak menduga bahwa yang menyebabkan kematian massal ayamnya ialah velogenic viscerotropic Newcastle disease (vvND) sehingga mereka melaksanakan revaksinasi ND darurat. Namun tetap saja, penyakit misterius tersebut merajalela di kandang mereka. Sejalan dengan waktu, diketahui bahwa penyakit tersebut adalah AI dan kini banyak yang telah melakukan tindakan preventif dengan memberikan Medivac AI.

  • Gejala yang muncul merupakan gabungan beberapa penyakit (komplikasi)

Sering suatu penyakit tidak muncul sendiri-sendiri. Hal ini tentu menyulitkan peternak dalam mendiagnosa penyakit apa saja yang menyerang ayamnya. Contohnya adalah CRD dengan colibacillosis atau Gumboro dengan ND.


Untuk membantu dalam meneguhkan diagnosa maka direkomendasikan untuk melakukan uji laboratorium, salah satunya adalah uji serologi.


Apa itu Uji Serologis

Uji serologis adalah pengujian yang menggunakan serum sebagai sampel. Prinsip utama uji serologis adalah mereaksikan antibodi dengan antigen yang sesuai. Antibodi adalah zat kekebalan yang dilepaskan oleh sel darah putih untuk mengenali serta menetralisir antigen (bibit penyakit baik virus maupun bakteri) yang ada dalam tubuh.

Fungsi uji serologis adalah :

  • Membantu dalam mendiagnosa penyakit

Ayam yang divaksin atau terinfeksi virus lapangan akan terbentuk antibodi (IgA, IgG dan IgM). IgG ialah antibodi utama dalam serum. Antibodi ini terdeteksi paling cepat 7 hari post infeksi/vaksinasi. Uji serologi dapat dipakai untuk membantu menentukan adanya infeksi lapangan atau dari hasil kerja vaksin. Contohnya ayam layer umur 60 hari yang belum pernah divaksin AI. Hasil uji serologi terdeteksi adanya titer antibodi AI. Hal ini mengindikasikan adanya virus AI lapangan.

Contoh lain adalah adanya kasus penurunan produksi telur tanpa gejala dan perubahan yang spesifik. Uji serologi dapat dilakukan terhadap penyakit-penyakit yang dominan mengganggu produksi telur yaitu titer ND, IB, EDS dan AI.

Dua kemiripan gejala klinis AI (kiri) dan ND (kanan), berupa peradangan di trakea dan ovarium


  • Monitoring titer antibodi

Karena perbedaan kondisi peternakan, kadang titer antibodi lebih cepat turun daripada yang seharusnya. Penyebabnya adalah tingginya infeksi lapang, ayam stres atau penyakit immunosupressif seperti Gumboro atau CRD. Dengan uji serologis rutin tiap bulan, diharapkan status titer antibodi ayam tetap terpantau dan dapat memperkirakan kapan ayam akan divaksinasi kembali.


  • Mengetahui keberhasilan vaksinasi

Untuk mengetahui tingkat keberhasilan vaksinasi maka pemeriksaan uji serologis dapat dilakukan pada 2-3 minggu post vaksinasi aktif atau 3-4 minggu post vaksinasi inaktif.


  • Pemetaan baseline titer

Baseline titer adalah level minimal titer antibodi agar peternakan aman dari infeksi penyakit tertentu di lingkungan peternakan itu sendiri. Baseline titer bersifat spesifik untuk satu penyakit dan satu peternakan. Daerah yang sering terinfeksi ND tentu baseline titernya lebih tinggi dibanding daerah jarang kasus ND. Sering terjadi, peternakan yang memiliki titer antibodi ND rendah justru tidak pernah terserang ND, namun titer antibodi ND yang tinggi di peternakan lain, ternyata tidak dapat membebaskan peternakan tersebut dari serangan ND.

Pemantauan titer antibodi sebaiknya dilakukan secara rutin agar diketahui status ayam sakit atau sehat, mengevaluasi program vaksinasi, mendeteksi serangan penyakit sedini mungkin dan juga pemetaan baseline titer. Pada ayam petelur, pemetaan baseline titer setidaknya memerlukan data pemantauan titer antibodi selama satu periode pemeliharaan, begitu juga ayam pedaging.


  • Mengukur antibodi maternal

Antibodi maternal merupakan antibodi yang diwariskan dari induk ayam kepada anaknya. Antibodi maternal ini akan berkurang (menurun) secara periodik. Pada saat antibodi maternal rendah (di bawah standar protektif) peluang ayam terinfeksi penyakit semakin besar. Oleh karena itu perlu dilakukan vaksinasi untuk menggertak pembentukan antibodi dalam tubuh ayam yang protektif.

Pengukuran antibodi maternal sering dilakukan pada DOC


Uji serologis untuk mengukur antibodi maternal dilakukan ketika DOC. Pengukuran antibodi maternal sering dilakukan pada kasus Gumboro. Laboratorium pemeriksa akan memprediksi kapan titer antibodi maternal turun dan memperkirakan waktu vaksinasi pertama dilakukan. Gambaran antibodi maternal ini juga digunakan sebagai dasar pemilihan jenis vaksin Gumboro yang akan digunakan. Vaksin intermediate plus (Medivac Gumboro A) dapat bekerja akan menggertak pembentukan antibodi secara optimal ketika titer antibodi maternal 500 (ELISA) sedangkan vaksin intermediate (Medivac Gumboro B) pada titer antibodi maternal di 200 (ELISA).

 

Serum sebagai Sampel Utama

Serum mengandung antibodi sehingga ketersediaannya mutlak untuk uji serologis. Serum adalah bagian dari plasma darah (bagian cair darah). Serum yang dalam kondisi bagus berwarna kuning bening.

Teknik dan waktu pengambilan serum adalah dua faktor penting dalam penanganan serum. Waktu pengambilan yang tepat akan memperlihatkan kondisi imunitas ayam yang sebenarnya dan terhindar dari salah penafsiran.

Waktu pengambilan sampel serum tersebut adalah :

  • Saat antibodi maternal masih sangat tinggi (pre-vaksinasi), biasa dilakukan pada DOC untuk menentukan umur atau jadwal vaksinasi Gumboro yang pertama

  • Dua hingga tiga minggu post vaksinasi aktif atau tiga hingga empat minggu post vaksinasi inaktif. Hal ini dikarenakan vaksinasi aktif lebih cepat mencapai level protektif namun lebih cepat pula turunnya sedangkan vaksin inaktif bekerja perlahan mencapai level titer protektif

  • Setiap satu bulan sebagai monitoring titer antibodi

 

Teknik Pengambilan Serum

Prinsip kehati-hatian harus diterapkan dalam pengambilan serum. Sampel serum yang rusak adalah sia-sia karena mengganggu proses dan pembacaan hasil uji serologi. Beberapa faktor penyebab kerusakan serum ialah sinar matahari, suhu tinggi, pH dan kontaminasi logam. Teknik pengambilan serum yang baik yaitu :

  • Siapkan peralatan yang diperlukan (syringe steril, kapas beralkohol, label dan vial steril). Syringe 3 ml untuk ayam besar dan syringe 1 ml untuk DOC. Rute pengambilan darah tergantung ukuran ayam, yaitu DOC melalui jantung (intracardial) sedangkan ayam besar dapat melalui vena brachialis sayap

Pengambilan darah dapat dilakukan melalui sayap vena bachialis (panah) maupun jantung

  • Pengambilan darah dilakukan secara acak. Jumlah sampel minimal 0,5% dari populasi atau 15-20 sampel/kandang. Sedangkan jumlah sampel untuk uji maternal antibodi IBD disarankan 18 sampel/flok dari anak ayam sehat berumur 1-4 hari (pre-vaksinasi). Pada kandang baterai, sampel diambil dari ayam di bagian bawah, tengah, atas dan ke arah diagonal. Sampel dari kandang postal diambil di masing-masing pojok dan tengah kandang

  • Ambil darah sebanyak 0,5 ml untuk DOC dan 1-2 ml untuk ayam dewasa. Lalu syringe segera ditarik sampai batas volume sehingga terdapat ruangan luas untuk pembentukan serum. Diamkan syringe pada suhu kamar (25oC) dengan posisi datar atau berdiri sampai serum terbentuk (minimal 2 jam), hindarkan dari suhu panas juga sinar matahari langsung. Serum darah yang keluar sekitar 0,75-1 ml tiap 2 ml darah

  • Setelah serum terbentuk, segera pisahkan dengan bekuan darah lalu masukkan ke dalam vial yang sudah dilabel. Tempatkan serum pada suhu -20oC atau freezer (tahan 2-5 tahun), serum juga bisa disimpan pada suhu 2 - 8oC namun hanya tahan 3- 5 hari

  • Untuk pengiriman ke laboratorium masukkan vial dalam styrofoam (bekas tempat vaksin aktif) atau plastik tertutup. Pastikan posisi vial tegak/tidak terbalik. Lalu masukkan ke marina cooler atau filopur yang diisi es batu dengan perbandingan 1 : 3.


Macam Uji Serologis

Berikut penjelasan singkat berbagai macam uji serologis yang dilakukan di peternakan unggas :

  • Rapid Plate Agglutination Test (RPAT)

Prinsip utama RPAT adalah pengikatan antigen standar (yang termodifikasi) dengan sampel serum (antibodi) yang sesuai sehingga terjadi agglutinasi. Uji ini digunakan untuk mendeteksi Mycoplasma gallisepticum, M. synoviae dan Salmonella pullorum.

Hasil uji RPAT, hasil negatif ditunjukkan pada gambar kanan atas, sedangkan yang lainnya menunjukkan hasil positif

Uji ini sangat sensitif, cepat, mudah, tanpa perlakuan dan peralatan khusus sehingga dapat dilakukan di mana saja. Caranya dengan mencampur satu tetes serum dengan satu tetes antigen di atas plate. Aduk selama 5 detik, 1 menit dan 2 menit lalu dilihat hasilnya. Hasil positif jika terbentuk endapan/butiran-butiran pasir (agglutinasi) dan hasil negatif jika tidak terjadi agglutinasi. Endapan itu adalah ikatan antibodi-antigen.


  • Haemagglutination Inhibition (HI) Test

Uji ini telah digunakan luas dan keberadaannya menjadi wajib di tiap laboratorium. Meski kurang sensitif dibanding RPAT namun uji ini lebih spesifik daripada RPAT. Kelebihan lain adalah ekonomis dan tidak perlu peralatan khusus berharga mahal. Prinsip dasar HI Test adalah hambatan reaksi agglutinasi sel darah merah (RBC) oleh virus akibat terikatnya virus tersebut oleh antibodi spesifik. Oleh karena itu, uji ini hanya dapat dilakukan untuk mikroba yang mengagglutinasi RBC. Pada ayam, virus AI, ND, IB (setelah ditambah enzim tertentu) dan egg drop syndrome serta Mycoplasma dapat diuji dengan HI Test.

Secara singkat, metode kerja uji HI adalah pengenceran bertingkat serum sampel hingga pengenceran terbesar yang masih sanggup menghambat agglutinasi RBC. Hasil positif jika tidak terjadi agglutinasi dan hasil negatif jika terjadi agglutinasi.

Hasil yang didapat diformulasikan sehingga diketahui titer antibodinya sehingga dapat dibandingkan dengan standar titer protektif. Titer protektif adalah batas minimal jumlah antibodi dalam tubuh yang masih mampu melindungi terhadap virus tertentu. Standar titer protektif antibodi tergantung dari jenis virus spesifik. Sebagai contoh, titer protektif ND untuk ayam layer adalah 64, berarti jika di bawah nilai tersebut, maka antibodi di dalam tubuh ayam tidak dapat melindungi ayam dari virus, begitu juga sebaliknya. Selain titer tersebut, kita juga perlu memperhatikan persentase kebal dan keseragamannya.

HI test, pengenceran serum bertingkat dari terkecil (kiri) ke terbesar (kanan). Hasil positif tidak terjadi agglutinasi (sepuluh kolom kiri) dan hasil negatif terjadi aglutinasi (dua kolom kanan)

 

  • Enzym Linked Immunosorbent Assay (ELISA)

Penggunaan ELISA sudah sangat luas karena lebih memiliki beberapa keunggulan yaitu cepat, dapat menguji sampel dalam jumlah banyak, akurat, mampu menghitung titer (kuantitatif) dan lebih fleksibel. Bahkan uji ini juga dapat digunakan di penelitian penelitian bidang tanaman serta industri makanan dalam mendeteksi alergi makanan serta efek toksik dari obat-obatan.

Di unggas, ELISA sering digunakan dalam deteksi antibodi terhadap IB, IBD, Salmonella sp dan Pasteurella multocida. Meski begitu, ELISA juga punya kekurangan yaitu harga peralatan yang mahal misalnya ELISA reader, washer dan komputer. Selain itu, ELISA kit tidak bisa dibuat sendiri.

ELISA reader

  • Agar Gel Precipitation Test (AGPT)

Sesuai namanya, uji ini menggunakan teknik presipitasi (pengendapan) antigen oleh antibodi yang sesuai. Uji ini bersifat kualitatif yaitu dapat mengetahui keberadaan antibodi spesifik antigen atau tidak.

Metode ini menggunakan AGP yang terdiri dari dua tipe lubang yaitu satu lubang di tengah, diisi antibodi atau antigen standar dan beberapa lubang mengitari lubang pertama yang diisi antigen atau serum sampel. Setelah diisi, AGP diinkubasi selama 18-48 jam lalu diamati. Jika positif akan terlihat garis putih yang terletak di antara antigen dan antibodi begitu pun sebaliknya. Hasil positif berarti antibodi berikatan dengan antigen tersebut.

Terbentuknya garis putih mengelilingi lubang menunjukkan hasil positif

Kelebihan metode ini adalah dapat diaplikasikan untuk berbagai macam mikroba. Di bidang perunggasan, uji ini sering digunakan untuk mendeteksi IB, ILT dan fowl adenovirus (FAV) atau inclusion body hepatitis (IBH).


  • Serum Neutralization Test (SNT)

Metode ini paling tepat digunakan untuk mendeteksi antibodi terhadap serotipe yang berbeda dari virus yang diuji karena bisa menjabarkan beberapa serotipe virus yang menginfeksi unggas. Uji ini berguna untuk virus-virus yang memiliki banyak serotipe seperti IB dan IBH. Namun metode ini butuh peralatan mahal dan telur spesific patogen free (SPF) guna persiapan kultur jaringan atau kultur organ.


Tindakan yang Dilakukan

HI test dan ELISA menjadi metode uji serologis yang sering digunakan peternak. Hasil dari uji HI test, ELISA dan SNF berupa angka yang menggambarkan titer antibodi sedangkan AGPT dan RAPT hanya bisa mengidentifikasi mikrobia apa yang menyerang ayam.

Dari hasil uji serologis tersebut akan semakin memperkuat diagnosa penyakit. Hasil tersebut perlu kita interpretasikan sebagai salah satu dasar bagi kita memberikan perlakuan atau tidakan yang sesuai. Laboratorium Medion (Medilab) dalam melakukan uji serologis selalu menyertakan interpretasi hasil uji untuk mempermudah peternak melakukan tindakan penanganan kasus. Hanya saja jumlah sampel serum yang digunakan harus sesuai (minimal 0,5% atau 15-20 sampel tiap kandang) agar interpretasi yang diberikan mendekati kondisi yang sebenarnya. Jika Anda berminat melakukan uji serologis dapat menghubungi tenaga lapangan Medion yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.

Titer antibodi yang tinggi belum dapat digunakan sebagai jaminan bahwa ayam akan aman dari infeksi bibit penyakit. Beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam melakukan interpretasi hasil uji serologis ialah tingkat keseragaman (koefisien variasi) titer antibodi, kesesuaian mikrobia vaksin dengan mikrobia lapangan, tingkat tantangan bibit penyakit di kandang, adanya penyakit komplikasi atau penyakit immunosuppressive (menurukan sistem kekebalan tubuh) dan jumlah sampel yang kurang sesuai. Penjelasan lebih lengkapnya dapat diakses pada situs web Info Medion (hhtp://info.medion.co.id) dengan judul “Tak Selamanya Titer Antibodi Tinggi, Ayam Aman”.

Selain berpedoman pada hasil uji serologis, agar tindakan yang dilakukan lebih tepat perlu diketahui juga mengenai sejarah serangan penyakit yang terjadi di farm, anamnesa peternak, gejala klinis maupun perubahan bedah bangkai (patologi anatomi). Dengan demikian, diharapkan tindakan yang diberikan akan mampu mangatasi kasus secara optimal, ayam sebuh dan kembali berproduksi optimal.

Berbagai macam uji serologis yang tersedia hendaklah dimanfaatkan sebaik mungkin untuk membantu dalam pendiagnosaan penyakit secara lebih tepat. Hasil diagnosa penyakit memiliki kedudukan yang sangat penting dalam upaya pengendalian serangan penyakit. Kesalahan diagnosa penyakit akan berakibat fatal, ayam tidak kunjung sembuh sehingga produktivitas menurun bahkan tidak jarang bertambahnya tingkat kematian. Saat diagnosa penyakit dilakukan secara tepat maka treatment yang diberikan akan sesuai sehingga kasus serangan penyakit dapat ditekan atau diatasi secara optimal. Salam.

 


Info Medion Edisi September 2009

Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

 

Produk Medion