Tak Selamanya Titer Antibodi Tinggi, Ayam Aman | Print |
Antibodi merupakan suatu molekul protein yang dihasilkan oleh sel plasma sebagai akibat interaksi antara limfosit B dengan bibit penyakit atau agen asing (termasuk vaksin). Antibodi ini berfungsi menetralisir bibit penyakit yang berhasil menginfeksi ke dalam tubuh ayam. Kemampuan titer antibodi dalam menetralisir infeksi bibit penyakit akan optimal jika titernya protektif.


Uji Serologis

Belakangan ini, uji serologis semakin populer dikalangan peternak. Terlebih lagi dengan semakin sulitnya melakukan identifikasi penyakit. Dengan melakukan uji serologis, peternak semakin diyakinkan dalam menentukan jenis penyakit yang menyerang ayamnya. Secara umum pelaksanaan uji serologis bertujuan :

  • Monitoring hasil vaksinasi

Waktu uji serologis untuk pemantauan hasil vaksinasi dibedakan berdasarkan jenis vaksin yang digunakan. Pengambilan sampel darah untuk pemantauan titer antibodi vaksin aktif sebaiknya dilakukan pada hari ke-14 post vaksinasi sedangkan untuk vaksin inaktif sebaiknya dilaksanakan 3 minggu setelah vaksinasi. Pengambilan darah yang lebih awal dapat “membuyarkan” analisis.


  • Menentukan umur vaksinasi pertama

Hal ini banyak dilakukan guna menentukan waktu vaksinasi Gumboro yang pertama.


  • Mendiagnosa serangan penyakit

Keseragaman dan tinggi rendahnya titer antibodi antibodi dapat memberikan gambaran tahapan serangan penyakit. Saat terjadi infeksi, tubuh ayam tidak langsung membentuk antibodi. Pada kasus ND, jika ayam tetap hidup maka 6-10 hari baru terdeteksi adanya titer antibodi. Sedangkan pada kasus AI titer antibodi baru terdeteksi 1-2 minggu post infeksi dengan gambaran titer yang sangat tinggi. Jika ayam yang terinfeksi belum divaksin biasanya keseragaman titer antibodinya jelek dimana bisa dijumpai titer antibodi yang sangat tinggi dan sangat rendah. Oleh karena itu, uji serologis yang dilakukan sesaat setelah virus menginfeksi tidak selalu memberikan hasil yang jelas.


  • Pemetaan titer antibodi

Pemetaan titer antibodi di farm dilakukan dengan melakukan uji serologis secara rutin pada setiap periode pemeliharaan pada umur yang sama. Pada peternakan ayam petelur, pengambilan darah untuk pemetaan titer antibodi dilakukan setiap 1-2 bulan. Adanya pemetaan titer antibodi di suatu farm ini berperan sebagai base line titer (titer dasar) yang bisa digunakan memantau titer antibodi, menentukan dan mengevaluasi program vaksinasi maupun mendeteksi serangan penyakit sedini mungkin.

Hati-hati saat menginterpretasikan data hasil uji serologis pada anak ayam umur < 45 hari

Monitoring titer antibodi yang dilakukan pada anak ayam seringkali memberikan gambaran yang kurang sesuai. Saat ayam berumur < 45 hari, proses pembentukan kekebalan terutama kekebalan humoral (antibodi yang terlarut dalam darah) belum sempurna. Oleh karena itu pemeriksaan antibodi yang terlarut dalam darah dengan HI test hasilnya juga belum optimal. Pada umur tersebut, ayam juga mempunyai kekebalan jenis lain yaitu kekebalan seluler yang tidak dapat terdeteksi saat pemeriksaan HI test. Guna membuktikan vaksinasi yang telah dilakukan mampu menstimulasi pembentukan antibodi yang protektif biasanya dilakukan dengan uji tantang di kandang SPF.

Medion telah melakukan trial pemberian Medivac AI pada ayam pedaging. Vaksinasi dilakukan pada umur 10 hari dengan dosis 0,2 ml tiap ekor. Tiga minggu post vaksinasi dilakukan pemantauan titer antibodi dan uji tantang memakai virus HPAI dengan dosis 104CLD50 per ekor.


Titer antibodi AI hasil vaksinasi dengan Medivac AI tercantum pada grafik 1. Meskipun titer antibodi yang terbentuk relatif banyak di bawah standar (>16), namun mampu melindungi ayam pada saat ditantang (grafik 2).

Akankah Titer Antibodi yang Tinggi, Selalu Protektif?


Tingginya titer antibodi yang terdeteksi melalui uji serologis, baik HI test atau ELISA tidak selalu menjadi sebuah “garansi” atau “asuransi” bahwa ayam akan terhindar dari serangan kasus penyakit. Ada beberapa gambaran uji serologis yang berkaitan dengan titer yang tinggi. Dalam hal ini kita relatif sulit membedakan titer hasil vaksinasi atau titer hasil infeksi lapang. Untuk itu ada beberapa hal yang perlu kita perhatikan lebih mendalam, yaitu :

  • Titer tinggi namun keseragaman jelek

Tidak hanya tingginya titer antibodi yang kita harapkan, tetapi tingkat keseragaman (koefisien variasi atau CV) yang baik (< 35%) juga sangat berperan menentukan tingkat perlindungan yang diberikan oleh antibodi.

Saat titer antibodi tinggi namun CV buruk perlu ditinjau program vaksinasi sebelumnya. Jika vaksinasi yang terakhir dilakukan > 5 bulan dengan vaksin inaktif atau > 2 bulan untuk vaksin aktif maka kita perlu waspada. Tingginya titer antibodi itu bukan murni dari hasil vaksinasi tapi telah tercampur dengan infeksi lapang.

Selain itu fenomena itu juga dapat disebabkan adanya infeksi laten dan atau infeksi kronis. Fenomena ini meningkat seiring perubahan karakter virus. Virus ND, AI dan IB merupakan virus yang memiliki karakter tersebut. Sekali virus tersebut menyerang suatu floks, maka virus tersebut akan tetap tinggal di tubuh ayam sehingga ayam itu berperan sebagai carrier (pembawa). Lebih parahnya lagi vaksinasi yang diberikan hanya dapat menekan gejala klinis namun tidak dapat mencegah infeksi ulang maupun ekskresi virus ke lapangan dari ayam carrier. Akibatnya ayam yang lain menjadi mudah terinfeksi ulang. Saat divaksinasi titer antibodi yang terbentuk cepat turun dan tingkat keseragaman cepat memburuk.

Fenomena ini juga dapat kita temukan pada kasus serangan korisa. Seperti yang telah kita ketahui bersama, setelah menginfeksi bakteri korisa, yaitu Haemophilus paragallinarum memilih tempat predileksi di sinus hidung (sinus infraorbitalis) yang miskin pembuluh darah. Akibatnya kasus korisa relatif sulit dibasmi secara tuntas. Pemberian vaksinasi korisa menjadi salah satu solusi tepat untuk menekan kerugian yang ditimbulkan dari serangan korisa. Hanya saja seringkali ditemukan tingginya titer antibodi (titer yang protektif) belum tentu diikuti dengan tingkat keseragaman titer antibodi yang baik.

H. paragallinarum mempunyai tempat predileksi di sinus infraorbitalis yang miskin pembuluh darahnya sehingga sulit dibasmi


Keseragaman berat badan yang kurang baik juga dapat menyebabkan tingkat keseragaman titer antibodi memburuk. Hal ini terkait dengan perbedaan respon antibodi yang diberikan oleh ayam dengan berat badan besar dan kecil.


  • Ketidaksesuaian antara virus/bakteri vaksin dengan virus/bakteri lapangan

Kesesuaian jenis, strain atau serotipe mikroorganisme vaksin dengan bibit penyakit yang menyerang sangat penting, terlebih lagi untuk mikroorganisme patogen yang tidak mempunyai kekebalan silang. Virus infectious bronchitis (IB) mempunyai 8 serotipe, yaitu Massachusetts, Connecticut, Georgia, Delaware, Iowa 97, Iowa 69, New Hampshire dan Australian T, virus infectious bursal disease (IBD) atau Gumboro memiliki 2 serotipe sedangkan virus avian influenza (AI) mempunyai 144 subtipe (yang merupakan kombinasi antar 16 H (hemagglutinin) dan 9 N (neuraminidase). Dan virus-virus itu (IB, IBD maupun AI) antar serotipe atau subtipe tidak memiliki kekebalan silang atau dengan kata lain pemberian vaksin dengan serotipe atau subtipe yang berbeda dengan serotipe atau subtipe yang menyerang tidak akan mampu memberikan perlindungan dengan baik, terlebih lagi jika virus telah mengalami mutasi atau terbentuk varian baru. Oleh karena itu, sudah selayaknya kita bijaksana dalam pemilihan jenis vaksin. Pilih vaksin dengan kandungan virus yang sama dengan serotipe atau subtipe virus yang menyerang.

Seperti yang telah kita ketahui bersama, vaksin yang kita berikan pada ayam harus mempunyai sifat immunogenik, yaitu mampu merangsang pembentukan antibodi spesifik yang protektif. Mengingat aktivitas antibodi dalam mem”bloks” mikro-organisme pathogen yang menginfeksi tubuh ayam seperti bekerjanya antara kunci dengan gemboknya. Kunci akan mampu bekerja optimal dalam membuka gembok jika ada kecocokkan, begitu juga antara antibodi dengan mikroorganisme patogen, keduanya harus ada kecocokan sehingga perlindungan yang ditimbulkan optimal. Contohnya saat kita memberikan Medivac IB H-52 maka antibodi yang terbentuk ialah antibodi IB Massachusetts. Begitu juga saat Medivac AI (subtipe H5N1) kita berikan pada ayam maka antibodi yang terbentuk ialah antibodi AI dengan subtipe H5N1. Perlindungan yang diberikan vaksin (antibodi hasil vaksinasi, red) akan optimal jika virus IB atau AI yang menyerang mempunyai serotipe atau subtipe yang sama.

Antibodi bersifat spesifik dalam membloks virus. Oleh karena harus ada kesesuaian antara vaksin dan virus yang menyerang


Teknik identifikasi serotipe atau subtipe mikroorganisme patogen yang menyerang suatu farm telah banyak dikembangkan oleh para ahli. Reverse-transcriptase atau polymerase chain reaction (RT/PCR) merupakan contoh metode yang digunakan untuk melakukan identifikasi terhadap jenis mikroorganisme. Selain itu, HI test maupun ELISA juga bisa digunakan untuk identifikasi jenis mikroorganisme yang menginfeksi ayam. Satu hal yang perlu kita ketahui bersama, penentuan atau penetapan adanya serotipe atau subtipe baru memerlukan proses penelitian yang relatif panjang dan yang bertanggung jawab terhadap hal ini ialah para peneliti. Oleh karena itu, untuk mengeluarkan argumen bahwa telah ada varian atau serotipe baru perlu disertai bukti secara laboratorium.

Jika terjadi kegagalan vaksinasi dimana setelah divaksin ternyata ayam masih terserang penyakit, seringkali peternak berfikiran bahwa bibit penyakit yang telah menyerang telah mengalami perubahan atau mutasi. Alangkah lebih baiknya sebelum kita menetapkan (dengan perkiraan) bawah mikroorganisme pathogen telah bermutasi, kita evaluasi terlebih dahulu teknik vaksinasi dan faktor-faktor yang mempengaruhi keberhasilannya. Bagaimana kualitas vaksin yang digunakan? Sesuaikah diagnosa penyakit yang telah kita lakukan? Apakah vaksinasi diberikan dengan teknik yang benar? Sehat atau sakitkah ayam yang kita beri vaksin? Bagaimana aplikasi tata laksana pemeliharaan dan biosecurity yang telah kita lakukan?

Selain itu, alangkah lebih baiknya jika kita bersikap bijak dalam penggunaan vaksin. Hindari pemakaian vaksin dengan jenis atau serotipe virus yang berbeda. Terlebih lagi jika sifat virus tersebut mudah bermutasi, seperti AI. Sebelum kita memutuskan untuk menggunakan atau mengganti jenis vaksin (dengan jenis virus vaksin yang berbeda), sebaiknya kita evaluasi terlebih dahulu teknik vaksinasi yang telah kita lakukan (seperti yang telah dijabarkan pada paragraf sebelumnya).


  • Tingginya tantangan bibit penyakit

Meskipun tinggi, titer antibodi yang terbentuk dari hasil vaksinasi tetap ada batasnya. Sedangkan, jumlah bibit penyakit yang terdapat di sekitar atau di lingkungan kandang jika dibiarkan akan berkembang melebihi batas kemampuan antibodi dengan titer tinggi melindungi ayam terhadap infeksi bibit penyakit. Oleh karena itu, tingginya titer antibodi yang dihasilkan dari vaksinasi tidak akan memberikan perlindungan yang optimal jika konsentrasi bibit penyakit yang berada di sekitar ayam sangat tinggi (tidak sepadan dengan titer antibodi yang terbentuk dalam tubuh ayam). Tantangan bibit penyakit yang tinggi di lingkungan sekitar akan mempercepat penurunan titer antibodi dalam tubuh ayam. Hal ini disebabkan terjadi efek netralisasi antara bibit penyakit dengan titer antibodi.

Jumlah atau konsentrasi bibit penyakit di sekitar lingkungan ayam akan mempercepat penurunan titer antibodi yang terbentuk dari vaksinasi

Pelaksanaan sanitasi dan biosecurity secara tepat dan ketat akan membantu menurunkan tantangan bibit penyakit yang terdapat di sekitar ayam. Jika akan melakukan desinfeksi kandang, baik dengan cara semprot maupun desinfeksi (campur) air minum alangkah lebih baiknya jika dilakukan pada 48 jam sebelum vaksinasi (terutama vaksinasi melalui oral, baik cekok maupun melalui air minum).

Setelah melakukan vaksinasi, tetap berikan atau terapkan manajemen pemeliharaan secara baik. Berikan kondisi yang nyaman bagi aktivitas ayam dengan menjaga suhu dan kelembaban lingkungan kandang yang ideal, yaitu 25-28oC dan 60-70%. Berikan selalu ransum dengan kualitas dan kuantitas yang sesuai dengan kebutuhan ayam. Hindari ransum yang telah menggumpal atau yang telah ditumbuhi jamur.


  • Adanya infeksi penyakit lain

Infeksi agen penyakit lainnya ke dalam tubuh ayam, terlebih lagi agen penyakit yang menimbulkan efek immunosuppressive (menyebabkan penurunan sistem kekebalan tubuh) dapat memicu penurunan titer antibodi yang telah terbentuk. Saat ayam terinfeksi bibit penyakit lain, secara otomatis tubuh ayam akan melakukan “perlawanan”. Dan hal tersebut akan menyebabkan energi maupun zat nutrisi dalam tubuhnya dialokasikan untuk menangani infeksi bibit penyakit tersebut. Akibatnya, titer antibodi yang telah terbentuk di dalam tubuh ayam menjadi lebih cepat turun.

Selain itu, adanya infeksi bibit penyakit tertentu juga bisa mengakibatkan sistem pertahanan tubuh ayam menurun fungsinya bahkan rusak sehingga dapat menstimulasi masuknya bibit penyakit lain. Kasus CRD misalnya, saat terserang CRD saluran pernapasan bagian atas, terutama silia hidung akan mengalami kerusakan. Sedangkan kita tahu, silia hidung tersebut berfungsi sebagai organ kekebalan primer. Akibatnya, bibit penyakit lainnya, seperti virus ND lebih mudah menginfeksi ke dalam tubuh ayam. Hal ini tentu saja akan mempercepat penurunan titer antibodi ND yang telah mencapai protektif.

Kerusakan silia hidung akibat infeksi bakteri mycoplasma gallisepticum (penyabab CRD) akan memicu infeksi bibit penyakit lainnya, termasuk virus ND sehingga titer antibodi ND yang telah terbentuk menjadi lebih cepat turun

Meminimalkan tantangan bibit penyakit lainnya dengan menerapkan biosecurity secara ketat dan tata laksana pemeliharaan menjadi solusi tepat untuk menjaga titer antibodi tetap protektif. Selain itu, pemberian antibiotik yang ditujukan sebagai upaya pencegahan juga dapat dilakukan, terlebih lagi jika kita sudah mengetahui periode waktu (umur ayam) seringnya suatu penyakit (misalnya CRD) menyerang. Teknik pemberian obat sebagai upaya pencegahan serangan penyakit telah familiar dilakukan oleh peternak. Meskipun pada dasarnya pemberian obat sebagai upaya pencegahan penyakit juga merupakan suatu pengobatan.

 

  • Pengambilan sampel yang kurang tepat

Pengambilan sampel darah yang akan digunakan untuk uji serologis merupakan titik kritis pertama yang menentukan diagnosa akhir. Sampel darah yang diambil dengan jumlah lebih sedikit tentu saja tidak akan memberikan gambaran yang baik tentang kondisi titer antibodi dalam suatu populasi ayam. Selain itu, waktu pengambilan sampel darah juga akan berpengaruh pada hasil yang diperoleh. Sampel darah yang diambil pada fase awal infeksi jika diuji serologis menunjukkan titer antibodi yang sangat tinggi dan sangat rendah dengan tingkat keseragaman yang buruk.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat pengambilan sampel darah yang akan digunakan dalam uji serologis ialah :

  1. Pengambilan sampel dilakukan secara acak, baik dari ayam yang sehat maupun yang tampak sakit

  2. Jumlah sampel darah yang diambil minimal 0,5% dari jumlah populasi ayam. Namun pengambilan sampel darah pada anak ayam (DOC) yang akan digunakan untuk menentukan waktu vaksinasi Gumboro, jumlah sampel yang diambil sebaiknya 18 sampel tiap floks (Deventer formula) dan hanya dipilih anak ayam yang sehat. Jika dipilih anak ayam yang sakit atau dehidrasi bisa mempengaruhi hasil analisis

  3. Setelah diambil serumnya, guna pengiriman sampel ke laboratorium sebaiknya sampel serum disimpan atau dimasukkan dalam termos es atau kotak steroform yang telah ditambah es sehingga suhu dalam termos atau stero-form 2-4oC. Jika akan disimpan, tempatkan sampel serum tersebut pada bagi refrigerator (bisa bertahan selama 2-3 hari) atau jika akan disimpan dalam waktu yang lama (> 5 hari) tempatkan pada bagian freezer dengan suhu - 20oC.


Tidak menutup kemungkinan juga adanya kerusakan sampel serum yang digunakan dalam uji serologis juga dapat merancukan hasil uji tersebut. Oleh karena itu, usahakan sampel serum tidak terkontaminasi dan pastikan sampel serum yang akan digunakan dalam analisis tidak dalam keadaan membeku. Oleh karenanya sebelum digunakan, jika sampel serum dalam kondisi beku karena disimpan di suhu - 20oC hendaknya dilakukan thawing (peningkatan suhu secara bertahap) sehingga suhu serum sama dengan suhu ruangan.

Penanganan sampel serum yang akan digunakan dalam uji serologis sudah selayaknya dilakukan dengan hati-hati sehingga hasil yang diperoleh mencerminkan kondisi titer antibodi dari suatu populasi ayam


  • Kesalahan pengukuran jenis antibodi

Jenis antibodi yang terdapat di dalam serum yang paling banyak adalah IgM dan IgG. IgM merupakan imunoglobulen utama yang pertama dihasilkan dalam respon imun primer sedangkan IgG ialah imunoglobulin utama dalam respon kekebalan sekunder.

Umumnya titer antibodi yang diukur melalui uji serologis ialah IgG dan hal ini juga dilakukan untuk pengukuran titer antibodi ILT maupun koksidiosis. Padahal, pada kasus koksidiosis dan ILT antibodi yang lebih berperan ialah IgA yang terdapat pada permukaan mukosa bukan IgG yang ada di dalam darah. Oleh karena itu, meski hasil uji serologis menunjukkan hasil yang protektif namun ayam masih terserang koksidiosis maupun ILT.


  • Tata laksana vaksinasi yang kurang tepat

Pelaksanaan vaksinasi secara benar dan tepat akan sangat berpengaruh pada tingkat titer antibodi yang terbentuk. Tata laksana vaksinasi dimulai dari pemilihan vaksin yang berkualitas sampai teknik aplikasi vaksin ke dalam tubuh ayam.

Fenomena tingginya titer antibodi (dengan CV yang buruk) namun tidak melindungi dapat disebabkan dosis vaksin yang diberikan pada ayam tidak seragam atau antara ayam memperoleh dosis yang berbeda-beda. Beberapa hal yang perlu diperhatikan saat pelaksanaan vaksinasi untuk menekan kemungkinan dosis yang diterima oleh ayam tidak seragam, yaitu :

  1. Jika pemberian vaksin melalui air minum, pastikan jumlah tempat air minum yang digunakan sesuai dengan jumlah ayam. Selain itu, atur distribusi tempat air minum secara merata

  2. Jika diberikan secara tetes mata, hidung atau mulut maupun injeksi, pastikan pada botol larutan dapar atau alat suntik Soccorex tidak terdapat gelembung udara. Selain itu, atur tekanan tangan yang kita berikan sehingga ayam memperoleh tetesan atau volume vaksin yang sama


Titer tinggi bukan suatu jaminan ayam aman dari penyakit. Masih diperlukan beberapa hal seperti yang telah disebutkan dalam artikel ini. Sukses!!



Info Medion Edisi Mei 2008

Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

 

Produk Medion