Menjaga Kualitas Vaksin dari Hulu ke Hilir

Terlepas dari benar atau tidak, kualitas vaksin tentu menjadi hal pertama yang dipertanyakan oleh peternak ketika ayamnya terserang penyakit—terutama penyakit viral—pasca vaksinasi. Hal ini dinilai cukup beralasan, karena salah satu faktor yang mempengaruhi keberhasilan vaksinasi ialah kualitas vaksin.


Vaksin Berkualitas

Vaksin dikatakan memiliki kualitas baik jika segel vaksin masih utuh atau etiket produknya masih terpasang dengan baik. Selain itu, expired date (tanggal kadaluarsa) belum habis/terlewatkan dan bentuk fisiknya tidak berubah.

Sebagai produk biologis, vaksin memiliki karakteristik tertentu dan memerlukan penanganan khusus sejak diproduksi di pabrik hingga dipakai di peternakan. Beberapa hal yang dapat menurunkan atau merusak kualitas vaksin diantaraya kemasan rusak, tercemar bahan kimia seperti detergen dan logam-logam berat (Ca, Mg, Mn, dll), suhu penyimpanan dan pH tidak sesuai maupun terkena sinar matahari lansung.


Suhu Menjadi Titik Kritis Handling Vaksin

Selama ini masih ada beberapa peternak yang beranggapan bahwa semakin dingin suhu ruang penyimpanan vaksin, maka kondisi vaksin akan semakin baik. Pendapat itu tentu tidak benar dan perlu diluruskan.

Umumnya memang semua vaksin akan rusak bila terpapar panas atau terkena sinar matahari langsung. Misalnya jika vaksin disimpan pada suhu ruang (±30°C). Namun sebaliknya, beberapa vaksin ternyata juga tidak tahan terhadap pembekuan, bahkan dapat rusak. Contohnya adalah vaksin inaktif yang dalam penyimpanannya tidak boleh < 2°C apalagi sampai membeku.

Vaksin inaktif bentuk suspensi yang disimpan pada suhu 2-8°C, secara normal akan membentuk 2 lapis cairan. Bila vaksin tersebut dikocok, maka vaksin akan homogen. Kemudian vaksin akan membentuk 2 lapis cairan kembali jika didiamkan dalam waktu yang cukup lama. Berbeda halnya jika vaksin pernah disimpan di freezer atau pernah beku, vaksin akan membentuk 2 lapis cairan hanya dalam waktu < 5 menit. Untuk vaksin inaktif bentuk emulsi yang pernah beku, tidak akan menunjukkan perubahan sejelas vaksin suspensi. Namun dapat dipastikan bahwa potensi dari vaksin itu telah menurun.

Dari beberapa bahasan di atas dapat kita simpulkan bahwa suhu menjadi salah satu titik kritis yang menentukan kualitas vaksin dari awal produksi hingga dipakai peternak. Yang menjadi pertanyaan disini, bagaimana metode penyimpanan vaksin sejak masih di pabrik? Bagaimana dengan proses distibusinya? Bisa saja kualitas vaksin sudah rusak selama perjalanan.

Ada beberapa aspek yang perlu diperhatikan dalam handling vaksin secara umum, yaitu:

  • Vaksin harus disimpan pada tempat khusus dengan suhu 2-8ºC.

  • Pengeluaran vaksin dari ruang penyimpanan harus memperhatikan tanggal kadaluarsa (FEFO, First Expired First Out) dan urutan masuk vaksin (FIFO, First In First Out). Jadi, vaksin yang memiliki tanggal kadaluarsa terdekat dikeluarkan lebih dulu.

  • Waktu pengiriman vaksin harus mampu dikelola dengan baik. Perhatikan pula jarak tempuh pengiriman. Hal ini untuk menjamin ketepatan waktu pengiriman dan memperkecil kemungkinan terjadi kerusakan vaksin selama perjalanan. Dengan kondisi tersebut, diharapkan pula vaksin selalu dalam kondisi “fresh” saat akan digunakan oleh peternak.


Cold Chain System dari Hulu ke Hilir

Dalam segala kondisi, suhu vaksin baik aktif maupun inaktif harus dijaga antara 2-8ºC. Mengacu pada standar suhu tersebut, maka produsen vaksin harus mampu menerapkan cold chain system dalam setiap lini penyimpanan dan distribusi vaksinnya

Sistem rantai dingin atau cold chain system adalah sistem pengelolaan vaksin sesuai prosedur untuk menjaga vaksin tersimpan pada suhu dan kondisi yang telah ditetapkan. Sistem tersebut mulai diterapkan dari pabrik hingga vaksin diberikan kepada sasaran (peternak,red). Cold chain system disini bermanfaat untuk memperkecil kesalahan penanganan vaksin sehingga potensi vaksin tetap terjaga hingga akan digunakan.

 Sarana dan prasarana yang dibutuhkan dalam menunjang cold chain system diantaranya:

  • Cool room (ruang pendingin)

Vaksin yang telah lulus proses QC (quality control), wajib disimpan dalam cool room khusus vaksin bersuhu 2-8ºC. Hendaknya cool room ini selain tersedia di pabrik pusat, juga terdapat di wilayah pemasaran/distributor vaksin. Penyusunan vaksin dalam cool room juga harus memperhatikan kepadatan tumpukan agar sirkulasi udara dingin tersebar secara merata.

  • Alat pembawa vaksin

Salah satu contohnya ialah cold box berisi es batu. Alat ini umum digunakan untuk menyimpan sementara vaksin yang akan dikirim ke konsumen.

Lalu bagaimana jika jarak pengiriman cukup jauh? Apakah vaksin tetap akan dibawa menggunakan cold box? Tentu hal ini akan menimbulkan resiko besar terhadap kerusakan. Akan jauh lebih aman apabila cold box hanyadigunakan untuk mengirim vaksin antar wilayah dalam kota. Sedangkan untuk wilayah yang cukup jauh, gunakan mobil khusus pengirim vaksin yang dilengkapi dengan mesin pendingin agar suhu tetap terjaga 2-8ºC.

  • Lemari es

Penyimpanan vaksin di tingkat konsumen dapat menggunakan lemari es yang diset suhu 2-8ºC. Adapun prosedur penyimpanan vaksin yang baik di lemari es antara lain:

  1. Vaksin harus disimpan pada lemari es bagian refrigerator. Jangan menyimpan vaksin pada bagian freezer
  2. Vaksin aktif tidak boleh disimpan pada rak di depan pintu freezer
  3. Vaksin inaktif tidak boleh disimpan pada rak yang berada tepat di depan pintu dan di bawah freezer
  4. Lemari es sebaiknya dikhususkan hanya untuk menyimpan vaksin
  5. Lakukan monitoring suhu lemari es secara rutin agar kerusakan lemari es sejak awal terdeteksi

Menjaga kualitas vaksin bukan sebatas menyimpannya pada suhu dingin dan hanya dilakukan di tingkat pabrik saja. Banyak titik kritis yang harus dikontrol secara kontinyu mulai dari hulu ke hilir, artinya sejak vaksin selesai diproduksi hingga sampai di tangan konsumen. Salam.

 


Info Medion Edisi Januari 2012

Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

 

Uji Laboratorium Sebagai Mitra Usaha Peternakan

Beberapa waktu yang lalu seorang peternak layer di Semarang, ayamnya terinfeksi penyakit dengan ciri produksi telur turun tanpa diikuti perubahan kualitas telur, kematian normal. Pada perubahan patologi anatomi terjadi pendarahan di trachea, lemak jantung dan lemak perut. Karena peternak merasa binggung dengan kasus yang terjadi, peternak tersebut melakukan uji serologi AI dan ND untuk membantu peneguhan diagnosa penyakit. Dari uji ini, diperoleh hasil yang jelas sehingga permasalahan segera teratasi dengan tepat dan peternak merasa terbantu.

Dari kejadian diatas, dapat disimpulkan bahwa ketepatan kita dalam mendiagnosa penyakit akan sangat menentukan ketepatan treatment yang harus dilakukan. Diagnosa yang tepat boleh diibaratkan seperti penentuan target atau sasaran. Jika target atau sasarannya salah maka bukan suatu keniscayaan treatment yang dilakukan akan sia-sia dan tidak optimal. Tentu saja ini akan menimbulkan kerugian yang besar, baik untuk biaya pengobatan, penurunan produksi dan kematian ternak kita.


Manfaat Uji Laboratorium

Berbagai manfaat uji laboratorium dalam usaha peternakan unggas, yaitu :

1.  Uji Serologi

Salah satu penentu keberhasilan vaksinasi adalah ketepatan program atau jadwal vaksinasi. Dengan melakukan uji serologi (HI test atau ELISA) akan membantu peternak dalam menentukan waktu vaksinasi/revaksinasi yang tepat sehingga diharapkan titer antibodi hasil vaksinasi/ revaksinasi tersebut optimal. Uji serologi juga dapat digunakan untuk mengukur atau me mantau keberhasilan vaksinasi dengan melihat pembentukan titer protektif (melindungi). Selain itu juga dengan monitoring titer yang rutin peternak akan mempunyai baseline titer antibodi tertentu yang penting di masa produksi seperti ND, AI dan IB sehingga jika suatu saat ada penyimpangan dari titer dasar ini, bisa menjadi suatu peringatan dini (early warning system) terhadap kondisi ayam.

Saat ada kasus penyakit, hasil titer antibodi juga bisa membantu peneguhan diagnosa dengan membandingkan titer antibodi sebelum, saat permulaan kasus dan 1 minggu kemudian. Dengan begitu akan diperoleh arahan diagnosa dan penanganan penyakitnya bisa tepat.

Peralatan HI Test
(Sumber : Dok. Medion)

Peralatan ELISA
(Sumber : Dok. Medion)


2.  Uji Identifikasi virus/bakteri

Uji ini digunakan untuk mendeteksi jenis mikroorganisme secara detail melalui pemeriksaan biologi molekuler (PCR dan DNA Sequencing). Sebagai contoh jika di suatu farm sering terjadi kasus penyakit dengan gejala yang mirip seperti ND dan AI, maka dengan melakukan uji PCR dapat diidentifikasi virus penyebab penyakit sehingga dapat memastikan penyebab penyakit tersebut apakah ND atau AI. Dengan begitu tidak akan ada keragu-raguan lagi untuk penanganan penyakitnya.

Mesin PCR untuk uji identifikasi virus (biologi molekuler)
(Sumber : Dok. Medion)

3.  Uji Feses

Penyakit cacing dan koksidiosis yang sering menyerang ayam kadang masih disepelekan, padahal kedua jenis penyakit ini dapat memberikan kerugian ekonomi bagi peternak. Sebagai contoh penyakit koksidiosis meskipun merupakan penyakit parasit, penyakit ini dapat bersifat immunosuppressive atau menekan sistem kekebalan ayam yang dapat berefek pada daya tahan tubuh ayam. Dengan melakukan uji feses, kita dapat mengidentifikasi jenis cacing yang menyerang unggas, babi, sapi dan kambing. Selain itu juga kita dapat mengetahui jenis Eimeria (protozoa penyebab koksidiosis) yang menyerang ayam.

 

4.  Uji Parasit Darah

Farm-farm yang dekat dengan daerah pantai, sungai, rawa, danau atau banyak semak-belukar disekitar kandang patut waspada terhadap serangan “malaria like” atau malaria. Karena daerah tersebut banyak dijumpai genangan dan tempat persembunyian nyamuk yang merupakan vektor/ pembawa bibit penyakit tersebut. Oleh karenanya dengan uji parasit darah dapat mendeteksi adanya parasit (malaria atau “malaria like”) yang terdapat di dalam darah unggas.

 

5.  Uji Kualitas Ransum

Mengetahui kandungan nutrisi ransum terutama ransum formulasi sendiri (self mixing) atau jika ada perubahan supplier bahan baku ransum. Hal ini karena kita ketahui bersama bahwa hampir 70% biaya produksi dikeluarkan untuk biaya ransum, sehingga sedikit mengeluarkan dana untuk melakukan uji ransum dapat memberikan ketenangan terhadap kualitas ransum yang kita berikan ke ternak kita. Uji kandungan nutrisi ransum juga dapat membantu dalam menemukan penyebab gangguan produksi telur yang bukan disebabkan faktor infeksius (infeksi penyakit).

 

6.  Uji Kualitas Air

Air bisa menjadi media penularan penyakit seperti colibacillosis, salmonellosis, dll. Selain itu air merupakan media penting dalam pelarutan vitamin/obat maupun vaksin, sehingga air yang berkualitas sangat diperlukan demi keberhasilan pengobatan maupun vaksinasi. Oleh karenanya, ada baiknya kita perlu melakukan uji kualitas air minimal setiap pergantian musim (2 kali setahun) untuk melihat kualitas kimia (kandungan nitrat, nitrit, kesadahan, pH) dan bakteriologi (kandungan bakteri E. coli atau Salmonella sp.)


Menyadari manfaat dan arti penting uji laboratorium dalam menjaga usaha peternakan unggas tersebut, Medion, Perusahaan Indonesa yang inovatif dan berkualitas menghadirkan Medion Laboratorium (MediLab). MediLab menyediakan berbagai uji laboratorium dan telah hadir di beberapa daerah di seluruh wilayah Indonesia. Selain itu juga demi kepuasan konsumen, MediLab berkomitment dalam 1 x 24 jam hasil HI test sudah dapat diterima peternak, lengkap dengan interpretasi hasil dan rekomendasi. Hal ini akan memudahkan peternak dalam melakukan uji laboratorium dan hasil pengujian dapat diketahui dengan cepat.

MediLab menerapkan metode uji sesuai dengan standard operational procedures (SOP). Uji juga dilakukan oleh personal yang handal dan profesional, sesuai bidang keahliannya. Ruangan laboratorium didesain secara khusus dan peralatan yang digunakan berteknologi tinggi serta dilakukan kalibrasi secara rutin untuk memastikan semuanya sesuai standar. Hal tersebut menjadikan hasil uji laboratorium lebih akurat.


Apa Kata Mereka ?

Sejak perkenalannya dengan Medion, Bapak Yudi Harianto (Owner Yudi Harianto Farm, Kediri) telah menggunakan jasa uji laboratorium di MediLab khususnya uji serologi (HI test) untuk memonitoring hasil vaksinasi pada peternakan ayam petelurnya. Berbicara mengenai uji serologi, Bapak yang hobi berenang ini memaparkan peranan penting HI test yaitu mengetahui perkembangan titer antibodi sehingga penentuan jadwal revaksinasi lebih tepat. Selain itu juga, bisa mendukung dalam menganalisa atau diagnosa penyebab penyakit. Dengan alasan inilah dan menyadari pentingnya uji laboratorium, peternak yang memiliki populasi 70.000 ekor layer ini kini setiap periode pemeliharaan rutin melakukan HI Test terhadap ND dan AI.

Lain lagi drh. Dani Sasongko (Manager Titi Hendra Farm, Banjarmasin), beliau menuturkan melakukan uji laboratorium secara rutin seperti memiliki “Detektif”. Hal ini karena saat ini penyakit itu sulit dibedakan secara fisik (gejala klinis) maupun perubahan patologinya. Salah satu solusi deteksi dini yaitu dengan uji laboratorium secara rutin, sehingga ketika farm ada masalah tidak akan ragu dalam melakukan diagnosa. Dengan hasil uji laboratorium tersebut akan membantu meneguhkan diagnosa, sehingga Manager Titi Hendra yang akrab dipanggil drh. Dani ini merasa sangat terbantu oleh adanya MediLab. Hal inilah yang menjadikan alasan, farm yang memiliki populasi 360.000 ekor layer ini, selain rutin melakukan HI test juga pernah melakukan uji PCR dan akan selalu mempercayakan berbagai uji laboratorium lainnya di MediLab.

drh. Dani Sasongko, ketika mengikuti acara Roadshow Medion di Banjarmasin
(Sumber : Dok. Medion)


Kedua testimoni tersebut sekaligus menjelaskan bahwa MediLab bisa diandalkan dalam membantu monitoring hasil vaksinasi dan untuk menjaga investasi usaha peternakan terhadap adanya kasus penyakit. Penjelasan ini diharapkan bisa menambah wawasan dan pengetahuan tentang peran penting uji laboratorium dalam usaha peternakan. Semoga bermanfaat

 



Info Medion Edisi Oktober 2011

Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

 

Mengantisipasi Reaksi Post Vaksinasi

Vaksinasi merupakan upaya menstimulasi pembentukan titer antibodi yang protektif (mampu melindungi ayam dari serangan penyakit, red). Caranya dengan “memasukkan” sejumlah mikroorganisme, baik virus atau bakteri yang telah dilemahkan atau dimatikan (yang lebih kita kenal sebagai vaksin) dengan dosis yang terukur.

Aplikasi vaksinasi ini dibedakan berdasarkan sediaan vaksin. Vaksin inaktif yang biasanya berbentuk suspensi atau emulsi diberikan dengan cara suntikan subkutan (leher) maupun intramuskuler (dada, paha). Sedangkan untuk vaksin aktif, yang berisi mikroorganisme hidup yang dilemahkan, biasanya diberikan melalui air minum, cekok, tetes mata, tetes hidung, spray dan juga suntikan. Jika diaplikasikan secara tepat vaksin akan mampu menstimulasi pembentukan titer antibodi secara protektif (melindungi) dalam waktu 2-3 minggu pada vaksin aktif atau 3-4 minggu pada vaksin inaktif.

Adakalanya ditemukan gejala ngorok setelah pemberian vaksin pernapasan, seperti ND atau IB. Hal ini tentu akan menimbulkan pertanyaan dalam diri kita, apakah vaksinasi yang diberikan menyebabkan outbreak? Atau mungkin terjadi infeksi sekunder oleh Mycoplasma gallisepticum? Ataukah malah gejala itu merupakan gejala normal?


Wajar, Reaksi Vaksinasi Muncul

Setelah “diinfeksikan” ke dalam tubuh ayam, vaksin akan langsung bekerja menggertak sistem kekebalan tubuh ayam untuk memproduksi titer antibodi. Mekanismenya pun berbeda antara vaksin aktif dan inaktif. Saat vaksin aktif berada dalam tubuh, virus vaksin akan bermultiplikasi (memperbanyak diri) terlebih dahulu sebelum menuju ke organ limfoid. Nah, pada saat proses multiplikasi inilah biasanya akan muncul reaksi post vaksinasi.

 

Leleran (eksudat) di hidung yang merupakan hasil komplikasi antara reaksi post vaksinasi ND dengan infeksi Mycoplasma gallisepticum.
(Sumber : World Poultry,2006)

Gejala yang muncul sangat tergantung dari jenis vaksin yang diberikan. Jika vaksin yang diberikan mengandung mikroorganisme yang memiliki target organ pernapasan, maka reaksi post vaksinasi yang muncul berupa gangguan pernapasan ringan, seperti ngorok atau mata berair. Namun jika target bukan saluran pernapasan, misalnya bursa Fabricius, layaknya vaksin Gumboro, maka sewajarnya reaksi post vaksinasi yang muncul tidak berupa ngorok.

Lain halnya pada vaksin inaktif, mikroorganisme vaksin akan langsung menuju ke organ limfoid untuk menstimulasi pembentukan titer antibodi. Akibatnya tidak akan ditemukan reaksi post vaksinasi. Atau dengan kata lain, reaksi post vaksinasi secara normal hanya ditemukan setelah pemberian vaksin aktif. Meskipun demikian pada vaksin inaktif, ayam biasanya akan mengalami stres akibat suntikan jika aplikasi dan handling ayam tidak dilakukan dengan tepat.

Reaksi post vaksinasi yang muncul juga bisa menjadi penanda bahwa tubuh merespon keberadaan vaksin melalui pembentukan titer antibodi. Malah jika tidak ditemukan reaksi post vaksinasi, bisa mengindikasikan, vaksin tidak bekerja atau respon tubuh untuk membentuk kekebalan tidak optimal. Kondisi ini bisa disebabkan beberapa faktor diantaranya dosis vaksin kurang, vaksin rusak akibat terkena sinar matahari atau suhu penyimpanan yang tidak sesuai atau titer antibodi saat pelaksanaan vaksinasi masih tinggi sehingga vaksin ternetralisasi.


Reaksi Post Vaksinasi atau Bukan?

Apabila kita perhatikan, gejala ngorok atau leleran hidung yang muncul setelah vaksinasi mirip dengan gejala serangan CRD maupun penyakit pernapasan lainnya? Lalu bagaimana kita membedakannya?

Gejala post vaksinasi secara normal akan muncul dan terdeteksi pada 2-3 hari setelah vaksinasi. Dan pada 5-7 hari post vaksinasi, gejala tersebut akan hilang dengan sendirinya. Kedua hal inilah yang membedakan dengan gejala penyakit.


Antisipasi Agar Reaksi Tidak Berlebihan

Memang reaksi post vaksinasi merupakan gejala yang wajar ditemukan setelah vaksinasi. Namun, gejala ini bisa menjadi bumerang jika pelaksanaan vaksinasi dilakukan pada ayam yang kurang sehat, strain mikroorganisme vaksin yang ganas, dosis berlebih, adanya faktor stres maupun kondisi kandang yang kurang nyaman (kadar amonia tinggi). Kondisi ini akan menyebabkan reaksi post vaksinasi terjadi secara berlebihan. Bahkan bisa menurunkan nafsu makan, menghambat pertumbuhan maupun meningkatkan mortalitas.


Langkah antisipasi perlu kita lakukan untuk mencegah reaksi post vaksinasi yang berlebihan, diantaranya :

  • Pastikan ayam sehat

    Menjadi syarat dilakukannya vaksinasi ialah ayam dalam kondisi sehat. Tujuannya agar tubuh ayam, dalam hal ini organ limfoid, mampu merespon keberadaan vaksin melalui pembentukan titer antibodi yang protektif. Saat vaksin diberikan pada ayam yang sakit atau sedang terjadi outbreak bisa jadi akan memperparah kondisi ayam dan tentu saja titer antibodi yang terbentuk tidak protektif. Selain itu besar kemungkinan akan muncul reaksi post vaksinasi yang berlebihan.

  • Dosis vaksin tepat dan setiap ayam mendapatkan dosis yang sama

    Selayaknya vaksin diberikan dengan dosis sesuai aturan pakai yang tertera pada etiket atau leaflet. Terutama untuk vaksin dengan tingkat reaksi yang tinggi seperti ILT. Hal ini untuk meminimalkan reaksi post vaksinasi yang berlebih.

    Selain itu, setiap ayam hendaknya bisa memperoleh dosis yang sama. Kondisi ini akan lebih mudah tercapai apabila vaksinasi dilakukan melalui tetes mata, hidung, mulut dan suntikan. Pada pemberian vaksin melalui air minum perlu sekiranya kita memberikan perhatian lebih pada jumlah tempat minum dan distribusinya maupun kuantitas dan kualitas air yang digunakan melarutkan vaksin.

 

Penggunaan Soccorex dengan tingkat presisi yang tinggi akan membantu ayam mendapatkan dosis vaksin yang tepat.
(Sumber : Dok.Medion)


Saat tiap ayam memperoleh dosis vaksin aktif yang tidak sama, maka akan memicu munculnya rolling reaction, yaitu reaksi post vaksinasi meningkat dan berlangsung lebih lama. Hal ini terjadi karena secara normal akan terjadi shedding virus vaksin ke lingkungan. Akibatnya ayam yang memperoleh dosis vaksin rendah seakan-akan tervaksinasi ulang sehingga reaksi post vaksinasi meningkat dan berlangsung lebih lama. Hal lain yang juga perlu diperhatikan untuk mencegah rolling reaction ialah melakukan vaksinasi seluruh ayam pada satu flok atau satu kandang secara serentak/bersama-an dalam satu hari.

Aplikasi yang kurang tepat juga akan meningkatkan reaksi post vaksinasi. Contohnya saat aplikasi vaksin melalui spray, maka ukuran partikel cairan vaksin yang terlalu kecil dapat memicu terjadinya reaksi post vaksinasi yang berlebih, terutama pada ayam yang berumur kurang dari 4 minggu.

  • Kondisi lingkungan yang nyaman

    Hal ini terutama terkait dengan sirkulasi udara yang baik dan kadar amonia yang rendah. Seringkali kedua hal inilah yang menjadi pemicu reaksi post vaksinasi menjadi lebih parah dan kadang berakhir dengan terjadinya infeksi penyakit pernapasan. Oleh karena itu, kondisi kandang harus kita optimalkan, baik dari kepadatan kandang, sistem ventilasi maupun jadwal pembersihan feses ayam.

  • Konsentrasi bibit penyakit dikurangi, terutama Mycoplasma gallisepticum

    Keberadaan bibit penyakit, terutama M. gallisepticum dapat memicu reaksi post vaksinasi menjadi lebih parah bahkan mengalami kegagalan, terutama vaksin pernapasan. Infeksi M. gallisepticum ini pun akan memicu infeksi penyakit lainnya, seperti Eschericia coli. Akibatnya reaksi post vaksinasi akan menjadi semakin parah dan titer antibodi tidak akan terbentuk optimal.

  • Faktor immunosuppressive minimal

    Stres, mikotoksin, Gumboro dan Mareks merupakan beberapa faktor immunosuppressive yang dapat menghambat pembentukan titer antibodi dan menyebabkan reaksi post vaksinasi yan berlebihan. Oleh karena itu penting sekiranya untuk meminimalkan atau menghilangkan faktor immunosuppressant saat vaksinasi.

  • Support dengan vitamin, jika perlu antibiotik

    Pemberian vitamin, seperti yang terkandung dalam Fortevit maupun vitamin dan elektrolit dalam Vita Stress akan meningkatkan stamina tubuh ayam dan mampu menekan stres akibat vaksinasi. Harapannya, tubuh mampu merespon pembentukan antibodi secara optimal, sehingga terbentuk titer yang protektif, yang mampu melindungi ayam dari infeksi penyakit.

    Jika diperlukan antibiotik, seperti Neo Meditril, Proxan-S, Doxytin, juga dapat diberikan, terutama jika 3-4 hari sebelum vaksinasi muncul gejala serangan penapasan atau infeksi bakterial lainnya. Harapannya dengan pemberian antibiotik ini konsentrasi bibit penyakit dalam tubuh ayam menurun sehingga vaksin mampu menstimulasi pembentukan titer antibodi secara optimal. Pemberian antibiotik inipun bisa dilakukan jika pada 5-7 hari post vaksinasi gejala gangguan pernapasan tidak kunjung hilang.

Reaksi post vaksinasi menjadi sebuah kewajaran, yang menggambarkan bahwa tubuh ayam sedang merespon vaksin dengan membentuk antibodi. Hanya saja perlu sekiranya kita mengantisipasi terjadinya reaksi post vaksinasi yang berlebihan sehingga titer antibodi dapat terbentuk secara optimal (protektif). Sukses untuk kita semua.

 


Info Medion Edisi Juli 2011

Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

Menyibak Arti Penting Uji Serologi

Usaha peternakan ayam merupakan investasi besar. Salah satu ancaman terhadap investasi tersebut adalah tantangan penyakit khususnya penyakit viral yang tidak dapat disembuhkan dengan pengobatan. Selain program vaksinasi dan biosecurity, kita juga perlu melakukan monitoring status kesehatan ayam yang dipelihara. Monitoring status kesehatan ayam dapat dilakukan dengan pemantauan titer antibodi yaitu uji serologi.

Uji serologi yang sering digunakan adalah HI Test (Haemagglutination Inhibition Test) dan ELISA. Kedua metode tersebut bertujuan untuk mengukur titer antibodi yang terdapat dalam serum. Dengan mengetahui gambaran titer antibodi tersebut akan didapatkan beberapa manfaat diantaranya :

a. Menentukan Jadwal Vaksinasi Pertama

Secara alami, DOC yang baru menetas akan memiliki kekebalan yang diturunkan oleh induknya (antibodi maternal,red). Pengukuran antibodi maternal Gumboro dapat digunakan untuk membantu menentukan jadwal vaksinasi pertama dengan tepat. Selain itu dapat digunakan sebagai pertimbangan untuk menentukan jenis vaksin yang akan digunakan, jenis intermediate atau intermediate plus. Ketepatan jadwal vaksinasi serta ketepatan pemilihan jenis vaksin merupakan titik kritis yang mempengaruhi keberhasilan vaksinasi. Untuk dapat menentukan jadwal vaksinasi Gumboro pertama, maka pengambilan sampel dilakukan pada ayam umur 1-4 hari (sebelum vaksinasi pertama) dengan jumlah sampel minimal 18 sampel.

Selain Gumboro, dapat juga digunakan untuk mengetahui antibodi maternal lainnya seperti ND, AI maupun IB. Apabila gambaran antibodi maternal kurang bagus, maka peternak dapat mengambil langkah untuk melakukan vaksinasi lebih awal. Tentunya didukung juga dengan biosecurity ketat meminimalkan bibit penyakit yang ada di lapangan.

b. Menentukan Jadwal Revaksinasi

Pada ayam layer terutama fase produksi, peternak tentu tidak mau kecolongan dari virus-virus penyebab turunnya produksi telur seperti ND, AI, EDS maupun IB. Oleh karena itu perlu untuk dilakukan monitoring titer antibodi yang terdapat dalam tubuh ayam.

Kita ketahui bahwa antibodi ini berperan sebagai “satpam” yang akan menetralisir/menghancurkan agen penyakit sesuai dengan jenis antibodi yang terbentuk. Sebagai contoh, ketika titer antibodi AI di dalam tubuh rendah, secara kasat mata ayam tidak menunjukkan gejala apapun. Namun ketika ada serangan bibit penyakit dari lapangan, titer antibodi yang rendah tersebut tidak mampu menghalau serangan tersebut, alhasil outbreak pun tak dapat dielakkan. Lantas siapakah yang akan menanggung kerugiannya?. Berbeda halnya jika dilakukan monitoring secara rutin setiap bulan, gambaran titer yang rendah akan terdeteksi sedini mungkin. Revaksinasi segera dilakukan sehingga titer antibodi masuk dalam level aman (melindungi,red). Grafik 1 merupakan contoh hasil pemeriksaan titer antibodi terhadap AI yang dilakukan pada ayam layer umur 40 minggu dengan jadwal vaksinasi AI terakhir pada umur 18 minggu.

Dari grafik tersebut terlihat gambaran titer antibodi dan % kebal di bawah standar serta tingkat keseragaman (CV) yang variatif yaitu 111,02%. Dengan didukung data post vaksinasi yang sudah lama (12 minggu), maka segera lakukan revaksinasi agar mempunyai kekebalan yang protektif.

 


c. Mengetahui Keberhasilan Vaksinasi

 

 

Keberhasilan vaksinasi dapat diindikasikan dengan 2 hal yaitu tidak adanya serangan/outbreak penyakit dan gambaran titer antibodi yang terbentuk. Untuk melihat gambaran titer, pengambilan sampel darah dapat dilakukan pada 2-3 minggu post vaksinasi apabila menggunakan vaksin aktif dan 3-4 minggu post vaksinasi apabila menggunakan vaksin inaktif. Hasil titer dapat terbaca dari nilai GMT (Geometric Mean Titre), % kebal di atas standar dengan tingkat keseragaman yang baik. Grafik 2 merupakan contoh gambaran titer antibodi hasil vaksinasi yang baik dimana GMT, % kebal diatas standar dengan tingkat keseragaman baik (11,33 %).

Apabila terjadi kegagalan vaksinasi yang tercermin dari gambaran titer yang kurang bagus, lakukan beberapa evaluasi. Kondisi ayam saat divaksin, keseragaman dosis vaksin yang diterima oleh ayam terkait dengan aplikasi, handling vaksin, kualitas vaksin yang digunakan dan ketepatan penanganan sampel serum. Dengan demikian, vaksinasi berikutnya diharapkan dapat berhasil serta mampu melindungi ayam secara optimal. Dengan mengetahui data hasil vaksinasi, dapat menghilangkan keraguan terhadap kualitas vaksin serta memberikan rasa aman karena ternak terlindungi. Jumlah sampel yang dapat mewakili kondisi ayam di lapangan adalah 0,5% dari total populasi atau minimal 15-20 sampel/kandang.

d. Early Warning System

Jika peternak jeli mengamati hasil titer, apabila suatu saat ditemukan adanya gambaran titer yang berbeda dari biasanya (baseline titer), hal ini bisa menjadi suatu peringatan dini (early warning system) terhadap kondisi ayam. Baseline dapat diketahui dengan mengumpulkan data-data hasil uji serologi sebelumnya yang di cek secara rutin sehingga akan terbentuk pola gambaran titer pada suatu peternakan. Titer antibodi yang terlalu tinggi pun tidak selamanya bagus. Lebih baik cocokkan dengan baseline titer yang ada. Bisa jadi hal ini mengindikasikan adanya infeksi lapangan namun ayam mampu bertahan sehingga titer yang terbentuk berasal dari virus lapangan. Monitoring titer dapat dilakukan secara rutin setiap 1-2 bulan sekali setelah masuk masa produksi terutama terhadap titer antibodi ND, AI dan IB.

e. Membantu Peneguhan Diagnosa

Tidak dipungkiri lagi bahwa akhir-akhir ini untuk menentukan diagnosa penyakit terkadang membingungkan bagi peternak maupun tenaga medisnya. Uji serologi selain berperan dalam monitoring titer, ternyata juga memiliki peranan dalam membantu meneguhkan diagnosa. Ketika ayam divaksin atau terinfeksi bibit penyakit, maka respon yang terjadi adalah menggertak pembentukan antibodi sesuai dengan agen yang masuk dalam tubuh.

ND, AI, EDS dan IB merupakan penyakit viral yang sering menjadi penyebab utama menurunnya produksi telur. Dan terkadang penyakit ini sulit dibedakan apabila tidak menunjukkan gejala/perubahan yang spesifik. Pada saat seperti inilah uji serologi perlu dilakukan guna membantu meneguhkan diagnosa. Pengambilan sampel pada kondisi seperti ini sebaiknya dilakukan 2x yaitu pada permulaan terjadinya kasus serta 12-21 hari kemudian. Adanya kenaikan titer serta ketidakseragaman gambaran titer pada pemeriksaan kedua, dapat disimpulkan bahwa kemungkinan besar ayam sedang terinfeksi virus lapangan sesuai dengan jenis antibodi yang diuji.

 

Pada kasus ayam broiler, serologi juga memiliki peranan penting. Akhir-akhir ini banyak peternak broiler mengalami kerugian akibat adanya serangan penyakit yang bersifat mendadak dan menyebabkan kematian dalam jumlah banyak. Sebagai contoh pada salah satu peternakan broiler, umur 21 hari dimana ayam tersebut tidak dilakukan vaksinasi AI, tingkat kematian mencapai 40 % dalam waktu 3 hari. Pada pemeriksaan patologi anatomi menunjukkan gejala/ perubahan yang mengarah ke AI. Peternak ingin mengetahui apakah kematian tersebut akibat serangan AI atau bukan. Dari hasil pemeriksaan uji serologi ditemukan terdapat beberapa sampel yang menunjukkan adanya gambaran titer antibodi (grafik 3).

Dengan demikian gambaran titer antibodi yang terbentuk kemungkinan besar merupakan hasil dari infeksi virus lapangan. Namun demikian perlu peneguhan diagnosa dengan isolasi dan identifikasi agen penyebab penyakit. Pada kasus ini hasil uji PCR (Polymerase Chain Reaction) positif AI H5N1.

Dalam membaca hasil uji serologi, terdapat beberapa istilah yang harus dipahami yaitu :

a. Geometric Mean Titre (GMT)

GMT merupakan gambaran rata-rata titer antibodi terhadap sampel yang diperiksa. Hal ini bisa mencerminkan gambaran titer antibodi dalam suatu flok atau kandang apabila jumlah sampel memenuhi syarat

b. Persen (%) Kebal

Merupakan nilai yang menunjukkan berapa jumlah persentase ayam yang memiliki titer antibodi di atas standar. Semakin tinggi persentasenya, maka akan semakin bagus

c. CV (Coefisien of Variation)

CV merupakan tingkat keragaman titer antibodi dalam populasi. Semakin kecil nilai CV maka tingkat keragaman semakin kecil, dengan kata lain keseragaman titer antibodi dalam populasi tersebut baik

Uji serologi memegang peranan penting dalam memantau titer antibodi terhadap penyakit terutama penyakit viral penurun produksi telur. Sedikit penambahan biaya mampu mengurangi rasa was-was karena peternakan adalah investasi besar Anda. Medilab merupakan laboratorium yang salah satunya melayani uji serologi. Semoga menambah wawasan dan sukses selalu.




Info Medion Edisi Maret 2011

Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

Kata Peternak yang Telah Membuktikan Kualitas Vaksin AI Medion

Avian Influenza (AI) merupakan penyakit viral yang selalu menjadi perhatian kita bersama. Mengingat efek yang ditimbulkannya begitu besar terhadap peternakan kita, seperti halnya penurunan produksi secara drastis, mencapai 20-80% sampai kematian ayam kita. Selain itu, virus penyebab AI yang termasuk dalam golong orthomyxovirus ini memiliki karakteristik mudah mengalami mutasi, baik minor (antigenic drift) maupun mayor (antigenic shift), sehingga tingkat keganasannya bisa berubah-ubah (bisa semakin ganas maupun sebaliknya).

Medion, sebagai Perusahaan Indonesia yang inovatif dan berkualitas telah ditunjuk oleh Pemerintah Indonesia untuk memproduksi vaksin AI, yaitu Medivac AI dan Medivac ND-AI. Tidak hanya sebatas itu, Medion selalu melakukan pemantauan perkembangan virus AI dan keandalan Medivac AI maupun Medivac ND-AI dalam melindungi ayam dari serangan virus mematikan ini. Mengenai bukti keandalan Medivac AI dan Medivac ND-AI telah dibahas secara detail pada artikel utama Info Medion edisi bulan ini. Sedangkan pendapat peternak yang telah merasakan keandalan vaksin AI Medion, kami tampilkan pada lembar ini.


Telur Intan Group - Malang

H. Abd. Kholiq, pria kelahiran Malang, 43 tahun silam merupakan pendiri sekaligus pemilik dari Telur Intan Group. Saat ini, populasinya ayamnya tidak kurang dari 1,6 juta yang terdiri dari ayam petelur di farm internal 150.000 ekor dan plasma 450.000 ekor serta populasi kemitraan ayam pedaging mencapai 1 juta ekor.

 

H. Abd. Kholiq saat kontrol kandang bersama Bapak Maskon, District Assistant Manager (DAM) wilayah Malang
(Sumber : Dok. Medion)


Bersama Istri tercinta, Hj Siti Rukhoyah
(Sumber : Dok. Medion)

Berbicara mengenai vaksin AI, pria yang memiliki moto hidup “Jujur, disiplin, loyal dan kreatif” ini sejak tahun 2004 telah mempercayakan perlindungan AI pada Medivac AI. Meski pada awal tahun 2005 sempat beralih ke vaksin AI pesaing karena harganya yang lebih murah, pada pertengahan 2005 kembali menggunakan Medivac AI karena tingkat kegagalan vaksin AI pesaing tersebut masih relatif tinggi. Suami dari Hj Siti Rukhoyah ini menuturkan, “Medivac AI memiliki kualitas terbaik yang dibuktikan dari tidak adanya kasus outbreak AI dan hasil titer antibodinya protektif.” Sedangkan peternak di sekitar peternakannya yang tidak menggunakan Medivac AI masih banyak yang terserang penyakit viral ini.

Penggunaan Medivac AI pun aman, tidak menyebabkan stres yang berlebihan maupun mengganggu pertumbuhan, menyebabkan keterlambatan maupun penurunan produksi telur. “Saya pernah mendengar kalau divaksin AI bisa mengakibatkan keterlambatan pertumbuhan, keterlambatan produksi telur, bahkan mengakibatkan produksi telur turun. Namun dengan Medivac AI peternakan saya aman dan tidak terjadi hal seperti itu”, ujar Ayah dari Malinda Prilly, Muhammad Rizal Khoirurrojikin dan Muhammad Royyan. Keyakinan H. Abd. Kholiq untuk menggunakan produk Medion, terutama Medivac AI, semakin bertambah karena adanya servis dari tenaga lapangan yang andal dan profesional serta servis yang paling baik, meliputi pelayanan teknis di kandang, uji laboratorium, ceramah, seminar dan pelatihan skill tenaga lapangan (PPL, manajer, dll) baik melalui Diklat maupun praktek lapangan. Dan yang tidak kalah pentingnya ialah hubungan kekeluargaan yang baik dari tenaga lapangan sampai jajaran Top Management Medion.


Rama Sakti KK – Jakarta Timur

Rama Sakti KK didirikan oleh Bapak Akiong pada tahun 1982. Berkat kerja kerasnya, saat ini populasinya telah mencapai 600.000 ekor ayam pedaging.

Pada tahun 2007, beliau sangat antusias menggunakan produk Medion yaitu Medivac ND-AI. Alasannya adalah, sebelum kemunculan produk ini, beliau harus repot mencampurkan dua jenis vaksin untuk memerangi ND dan AI, sedangkan hasilnya belum tentu baik dan steril. Apalagi, Medion adalah perusahaan pelopor yang mengkombinasikan vaksin ND dan AI, sehingga dirasakan sangat bermanfaat bagi Bapak Akiong. Selain pelayanan Medion prima, kualitas produknya juga sangat baik. Pengiriman produk tidak pernah terlambat dan selama menggunakan Medivac ND-AI, tidak pernah terjadi outbreak AI di kandang miliknya.


Inti Tani – Makasar

Peternakan Inti Tani milik H. Jusup Madeamin sudah berdiri sejak tahun 2002 dan saat ini populasinya mencapai 170.000 ekor ayam pedaging dan 35.000 ekor ayam petelur. Setelah satu tahun berkecimpung di dunia peternakan, Bapak Jusup langsung menggunakan produk Medion. Sebelumnya, Bapak Jusup menggunakan berbagai macam jenis obat dan vaksin dari perusahaan-perusahaan lokal lain. Namun setelah mengenal Medion, beliau percaya pada kualitas produk-produk Medion. Menurutnya, produk Medion berkualitas baik dan pelayanannya sangat memuaskan. Selain itu, distribusinya lancar sehingga tidak sulit mendapatkan produk Medion pada saat keadaan mendesak.

Dalam memerangi AI, Bapak Jusup mempercayakannya pada Medivac AI, karena produk ini terbukti dapat menangani masalah yang ditimbulkan oleh virus AI. Sampai saat ini, Bapak Jusup tetap setia menggunakan produk-produk Medion untuk semua program medikasi dan vaksinasi.

 

(Sumber : Dok. Medion)

 

Budi Ayung Farm – Jakarta Barat

Budi Ayung Farm sudah berdiri sejak tahun 1980-an dan saat ini populasinya mencapai 165.000 ekor ayam petelur. Bapak Ayung, pemilik farm ini, mengenal Medivac AI sejak akhir tahun 2005, ketika terjadi outbreak AI besar-besaran di farmnya. Sebelumnya, beliau menggunakan produk dari perusahaan lain. Menurut penuturannya, semenjak menggunakan Medivac AI, tidak pernah terjadi outbreak AI lagi. Karena itulah, kepercayaannya kepada produk-produk Medion meningkat. Sampai hari ini beliau masih menjadi pelanggan setia Medion, bukan hanya Medivac AI, tetapi juga banyak produk-produk lainnya.


Shinta Farm – Solo

Sejak tahun 2008, program vaksinasi di Shinta Farm menggunakan produk impor seluruhnya. Alasannya adalah karena merasa lebih terpercaya dibandingkan dengan produk lokal.

Namun semenjak adanya kasus AI yang merebak dimana-mana, Ibu Siti Jamilah Suharna, pemilik Shinta Farm dengan populasi 75.000 ekor ayam petelur, mengikuti perkembangan kasus tersebut melalui info tenaga lapangan (termasuk tenaga lapangan Medion) maupun seminar-seminar. Semenjak saat itu, beliau menjadi lebih mengerti bahwa virus AI harus dibasmi dengan menggunakan vaksin yang homolog. Karena itulah, Ibu Siti Jamilah Suharna mulai menggunakan Medivac AI untuk semua ayamnya dan ternyata menunjukkan hasil yang sangat baik. Karena itulah sampai sekarang tetap setia menggunakan Medivac AI, bahkan beliau juga menggunakan semua jenis Medivac untuk program vaksinasi di farm-nya.

(Sumber : Dok. Medion)

Medivac AI telah banyak digunakan oleh peternak dari seluruh wilayah Indonesia dan terbukti efektif melindungi ayam, baik ayam petelur, pedaging, jantan dan pembibit dari serangan virus AI. Dalam kesempatan ini, Medion menyampaikan terima kasih atas kepercayaan Bapak Ibu peternak yang telah setia menggunakan Medivac AI. Kepercayaan Bapak Ibu ini akan kami jaga selalu dengan selalu memantau perkembangan virus AI ini sehingga dapat dihasilkan vaksin AI (Medivac AI dan Medivac ND-AI) yang memiliki perlindungan optimal terhadap serangan virus AI. Salam sukses selalu.



Info Medion Edisi November 2010

Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

www.medion.co.id               info@medion.co.id                 0813-2185-7405 (Customer Service)                 facebook.com/medionwisata 
Cara berlangganan Info Medion SMS ke 0852 2114 1929 dengan format Reg IM Nama AlamatSurat AlamatEmail
agar tampilan website ini dapat berjalan lebih optimal, disarankan menggunakan program browsing internet terbaru