Pentingnya Mengukur Titer Antibodi

Bisnis peternakan ayam merupakan usaha yang membutuhkan investasi besar dan penuh dengan risiko. Salah satu ancaman terhadap investasi tersebut adalah tantangan penyakit, khususnya penyakit viral yang tidak dapat disembuhkan dengan pengobatan. Dengan maraknya penyakit viral yang menginfeksi ayam saat ini, maka diperlukan program vaksinasi dan biosekuriti yang ketat, serta pemantauan (monitoring) terhadap status kesehatan ayam yang dipelihara. Monitoring status kesehatan ayam ini dapat dilakukan dengan pemeriksaan titer antibodi melalui uji serologi.

Beberapa Jenis Uji Serologis

Uji serologi didefinisikan sebagai sebuah uji yang digunakan untuk melihat gambaran titer antibodi di dalam tubuh ayam. Teknik uji ini menggunakan serum darah sebagai sampel, karena di dalamnya terkandung antibodi (antibodi humoral, red). Antibodi merupakan zat kebal yang dihasilkan oleh sel darah putih untuk memerangi antigen (bibit penyakit).

Dalam perkembangannya, peternak mulai menyadari perlunya melakukan uji serologi, terlebih lagi dengan semakin banyaknya jenis penyakit atau padatnya jadwal vaksinasi. Terdapat beberapa jenis metode yang digunakan dalam uji serologi, namun yang paling sering aplikasikan adalah metode HI test dan ELISA. Bahkan ada beberapa peternak yang telah menjadikan seperangkat alat HI test sebagai sebuah investasi untuk mendukung usaha peternakannya. Berikut penjelasan mengenai kedua metode uji tersebut:

  1. Uji HI (Haemaglutination Inhibition) test

    Secara bahasa haemaglutination inhibition dapat diartikan hambatan haemaglutinasi. Sedangkan haemaglutinasi merupakan penggumpalan sel darah merah. Kemampuan mengaglutinasi sel darah merah ini tidak dimiliki oleh semua virus atau bakteri yang menyerang ayam, tetapi hanya beberapa virus dan bakteri yang mempunyai zat haemaglutinin. Contohnya antara lain Paramyxovirus (virus ND), Poxvirus (virus cacar), Adenovirus (virus EDS), Orthomyxovirus (virus AI), bakteri Avibacterium paragallinarum (penyebab snot/korisa), bakteri Mycoplasma sp. (penyebab CRD), dan bakteri Salmonella pullorum (penyebab pullorum). Prinsip kerja dari HI test ialah mereaksikan serum dan antigen dengan pengenceran tertentu sehingga dapat diketahui sampai pengenceran berapa antibodi yang terkandung dalam serum dapat menghambat terjadinya aglutinasi sel darah merah. Untuk bidang perunggasan, HI test merupakan metode uji serologi yang mudah dilakukan dan hasilnya dapat diketahui dengan cepat.

 

2. Uji ELISA (Enzym Linked Immunosorbent Assay)

ELISA sebagai salah satu metode uji serologi mempunyai satu kelebihan yaitu memiliki tingkat spesifikasi yang tinggi (yaitu kemampuan mendeteksi ayam yang tidak terinfeksi atau ayam yang tidak terinfeksi dinyatakan negatif). Metode uji ini banyak digunakan untuk mendeteksi infeksi virus (IB, Gumboro, AE, atau SHS) maupun bakteri, seperti Salmonella sp. (penyebab salmonellosis) dan Pasteurella mulcotida (penyebab kolera). ELISA juga merupakan metode uji serologi yang cepat untuk menguji sampel dalam jumlah besar. Namun peralatannya relatif mahal.

 

Manfaat uji Serologi

Ada dua manfaat besar yang bisa diperoleh peternak jika melakukan uji serologi, yaitu:

  1. Monitoring kesehatan ayam

Mengetahui status kesehatan ayam dalam kondisi sehat atau sakit akan memudahkan peternak dalam menyusun program pencegahan dan penanganan penyakit, serta melakukan evaluasi untuk periode pemeliharaan berikutnya. Monitoring status kesehatan ini bisa dilakukan salah satunya dengan uji serologi. Sebagai contoh ketika titer antibodi AI di dalam tubuh ayam berada di bawah level protektif (melindungi), secara kasat mata ayam tidak menunjukkan gejala apapun. Jika dalam kondisi itu kemudian muncul serangan virus AI dengan jumlah tinggi, maka titer antibodi tersebut tidak mampu menghalau serangan AI. Alhasil outbreak AI pun tak dapat terelakkan.

Berbeda halnya jika dari awal kita sudah melakukan monitoring dengan uji serologi, maka gambaran titer yang berada di bawah level protektif tersebut akan terdeteksi sedini mungkin. Selanjutnya sebagai tindakan mencegah outbreak AI, kita bisa melakukan revaksinasi agar titer antibodi AI mencapai level protektif, memberi multivitamin untuk meningkatkan daya tahan tubuh ayam, dan memperketat biosekuriti. Agar gambaran titer hasil uji serologi ini lebih akurat dan mewakili kondisi tantangan di lapangan, maka dalam pelaksanaan uji serologi harus digunakan jenis antigen yang sesuai dengan strain virus lapangan yang biasanya menyerang.

Dalam kegiatan monitoring status kesehatan ayam, uji serologi berfungsi untuk:

    • Mengukur antibodi maternal

      Secara alami, anak ayam yang baru menetas akan memiliki kekebalan yang diturunkan oleh induknya atau disebut antibodi maternal. Antibodi maternal ini akan berkurang (menurun) kadarnya secara periodik. Pengukuran antibodi maternal (melalui uji serologi, red) sering dilakukan untuk menentukan jadwal vaksinasi Gumboro. Dengan demikian akan diprediksi kapan titer antibodi maternal turun sehingga dapat diperkirakan waktu yang tepat untuk vaksinasi Gumboro pertama dan memilih jenis vaksin Gumboro yang cocok digunakan.

    • Melihat keberhasilan vaksinasi

      Caranya dengan mengukur titer antibodi humoral yang terbentuk setelah vaksinasi. Pengujian dilakukan 2-3 minggu setelah pemberian vaksin aktif atau 3-4 minggu setelah pemberian vaksin inaktif. Gambaran titer antibodi yang representatif didapat jika pengujian dilakukan pada ayam umur ≥ 5 minggu (sistem kekebalan humoral sudah sempurna).

    • Menentukan jadwal vaksinasi ulang (revaksinasi)

      Lamanya titer antibodi bertahan pada level protektif dalam tubuh ayam dipengaruhi beberapa faktor, salah satunya tantangan penyakit di lapangan. Semakin tinggi tantangan atau infeksi lapang membuat titer antibodi cepat turun. Faktor lainnya adalah kondisi imunosupresif, dimana pembentukan titer antibodi menuju ke level protektif akan terhambat oleh kondisi imunosupresif (akibat Gumboro, mikotoksikosis, ayam stres, dll). Dengan dilakukannya uji serologi rutin setiap bulan, maka gambaran titer antibodi protektif akan terus terpantau dan dapat diperkirakan kapan ayam perlu divaksinasi kembali.

    • Early warning system

      Early warning system merupakan sistem peringatan dini dalam peternakan ayam. Sistem ini dapat berjalan jika peternak memiliki data baseline titer dari ayam yang dipelihara dan diperoleh melalui uji serologi secara rutin setiap bulan. Baseline titer merupakan level minimal titer antibodi agar peternakan aman dari infeksi penyakit tertentu. Sinyal adanya masalah ditunjukan dari adanya gambaran titer terkini yang menyimpang (misal lebih rendah) dari baseline titer. Tindakan pencegahan seperti revaksinasi pun harus segera dilakukan, sehingga produktivitas ayam tetap optimal dan peternak terhindar dari kerugian.

  1. Diagnostik (membantu meneguhkan diagnosis serangan penyakit)

    Mendiagnosis penyakit merupakan kegiatan yang dinilai cukup sulit, apalagi sekarang ini penyakit satu dan lainnya memiliki kemiripan gejala klinis maupun perubahan patologi anatomi. Salah satu cara peneguhan diagnosis tersebut adalah dengan uji serologi. Contohnya ketika ayam layer umur 14 minggu terserang penyakit dengan gejala klinis pilek dan kepala bengkak. Dari sini ayam diduga terinfeksi snot (korisa), namun ketika diobati dengan antibiotik dalam waktu lama tidak kunjung sembuh sehingga timbul kerucigaan terhadap serangan SHS (swollen head syndrome). SHS merupakan penyakit viral yang juga ditandai dengan kebengkakan pada daerah kepala. Untuk meneguhkan diagnosis ini, dilakukan uji serologi ELISA SHS. Hasilnya terdeteksi adanya titer antibodi SHS. Karena sebelumnya ayam belum pernah divaksinasi SHS namun muncul titer SHS, maka hal ini mengindikasikan adanya serangan virus SHS dari lapangan. Sebelumnya perlu diketahui bahwa ayam yang divaksin atau terinfeksi virus lapangan akan membentuk antibodi (IgA, IgG dan IgM). IgG ialah antibodi utama dalam serum. Antibodi ini terdeteksi paling cepat 7 hari post infeksi/vaksinasi. Oleh karena itu, jika ayam belum divaksin dengan kandungan virus/bakteri tertentu, tapi kemudian ketika diuji serologi muncul titer antibodi virus/ bakteri tersebut, maka ada indikasi infeksi virus/bakteri dari lapangan.

Dari berbagai manfaat yang telah diutarakan, bisa disimpulkan bahwa uji serologi sangat membantu dalam monitoring hasil vaksinasi dan menjaga investasi usaha peternakan terhadap adanya kasus penyakit. Karena menyadari pentingnya uji serologi itulah maka Medion menghadirkan Medilab yang juga menyediakan jasa uji serologi, baik metode HI test maupun ELISA.

Metode uji serologi di Medilab dilakukan sesuai standard operational procedures (SOP), mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI), Office Internationale Epizooticae (OIE), dll. Pengujian di Medilab juga telah mengimplementasikan ISO 17025:2008 (Standar Akreditasi Laboratorium Pengujian dan Kalibrasi). Peralatan yang digunakan pun selalu dikalibrasi secara rutin. Dengan demikian kualitas uji di Medilab dinilai handal dan terjamin.

Saat ini Medilab tersebar di sentra-sentra peternakan Indonesia sehingga memudahkan penyerahan sampel dan proses uji yang cepat. Tidak hanya hasil uji laboratorium, Medilab juga memberikan interpretasi hasil uji sekaligus saran dan tindak lanjutnya. Hal ini akan memudahkan peternak dalam memahami hasil uji dan melakukan treatment, baik pencegahan atau penanganan terhadap kasus yang sedang dihadapi.

Jadi, tunggu apa lagi. Lakukan uji serologi sekarang juga. Tenaga lapangan kami siap membantu Anda. Semoga sukses. Salam.

 


Info Medion Edisi Juli 2016

Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).


Info Medion Edisi Juli 2016

Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

Vaksinasi Benar untuk Produktivitas Maksimal

Dalam usaha peternakan unggas, masalah penyakit harus selalu diwaspadai karena akan merugikan peternak. Keberadaan penyakit dapat menurunkan produktivitas dan dapat menyebabkan kematian. Mencegah bibit penyakit masuk ke lingkungan peternakan dan ke dalam tubuh ternak merupakan cara ampuh yang dapat dilakukan. Yakni dengan cara biosekuriti dan vaksinasi yang ketat.

Vaksinasi merupakan tindakan memasukkan vaksin ke dalam tubuh ternak untuk melindungi ternak dari penyakit. Vaksin sendiri merupakan mikroorganisme/agen infeksi yang sudah dilemahkan atau dimatikan dan diformulasikan sedemikian rupa yang digunakan untuk infeksi buatan. Fungsinya ialah menggertak pembentukan kekebalan (antibodi) pada ternak sehingga dapat mencegah infeksi penyakit.

Saat ini serangan penyakit sudah menyebar hampir ke seluruh wilayah, baik penyakit viral maupun penyakit bakterial. Oleh karena itu tindakan pencegahan dengan vaksinasi sangat perlu dilakukan. Dengan berbagai pertimbangan seperti :

  • penyakit viral tidak dapat disembuhkan dengan pemberian obat

  • pengendalian terbaik dengan memberikan kekebalan pada ayam

  • adanya penyakit bakterial yang jika sudah terlanjur menyerang sulit diberantas secara tuntas sehingga mudah muncul kembali (misalnya korisa)

  • serta biaya kesehatan untuk pencegahan lebih murah jika dibandingkan dengan biaya pengobatan/terlanjur terjadi kasus penyakit

Keberhasilan vaksinasi dipengaruhi beberapa faktor yang sering kita sebut dengan 4M:

  • Materi (vaksin dan ayam)

  • Metode (program vaksinasi dan teknik vaksinasi)

  • Manusia (keterampilan, sikap, dan pengetahuan)

  • Milieu/lingkungan (agen penyakit, biosekuriti, dan air)

 

 

Mengenal Jenis Vaksin

Berdasar jenis agen infeksinya vaksin yang beredar di lapangan umumnya berisi virus, bakteri maupun protozoa.

 

Secara umum berdasarkan sifat hidup agen infeksi yang terkandung dalam vaksin, produk vaksin dibedakan menjadi 2, yaitu: vaksin aktif (active vaccine, live vaccine, vaksin hidup) dan vaksin inaktif (killed vaccine, inactivated vaccine).

Vaksin aktif berisi mikroorganisme yang telah dilemahkan. Sediaan vaksin aktif biasanya dalam bentuk kering beku. Sehingga pada aplikasi atau pemakaiannya harus dilarutkan dahulu menggunakan pelarut, dapat berupa larutan dapar, air biasa (minum) atau aqua destilata. Hal yang perlu diperhatikan saat vaksinasi dengan vaksin aktif adalah agen infeksi yang terkandung dalam vaksin harus segera masuk ke dalam tubuh ayam setelah dilarutkan, karena agen infeksinya hanya dilemahkan. Vaksinasi harus dilakukan secepat mungkin, dalam waktu kurang dari 2 jam. Setelah vaksin diberikan, maka agen infeksi yang terkandung akan menuju ke target organ kekebalan untuk bermultiplikasi kemudian menuju ke organ limfoid untuk menggertak pembentukan kekebalan.

Vaksin inaktif berisi agen infeksi yang telah diinaktifasi dengan pengertian mikroorganisme tersebut telah dimatikan, namun masih bersifat imunogenik/mampu menggertak pembentukan antibodi. Vaksin inaktif berbentuk emulsi atau suspensi karena mengandung adjuvant. Adjuvant merupakan bahan yang bersifat non antigenik/tidak berkemampuan merangsang terbentuknya antibodi. Adjuvant ditambahkan dalam vaksin inaktif untuk menambah daya kerja vaksin dengan efek depo, penyerapan sedikit demi sedikit ke dalam sirkulasi darah. Setelah masuk ke dalam tubuh, vaksin inaktif tidak perlu bereplikasi, tetapi langsung memacu jaringan limfoid untuk membentuk antibodi.

 

Vaksin berdasarkan jumlah agen infeksi yang terkandung dalam satu kemasan dibedakan menjadi vaksin tunggal dan vaksin kombinasi. Yang dimaksud vaksin tunggal yakni dalam satu kemasan hanya berisi satu macam/jenis agen infeksi. Misalnya Medivac ND La Sota atau Medivac ND Emulsion. Dalam satu kemasan hanya mengandung 1 agen infeksi yakni virus ND saja. Sedangkan vaksin kombinasi yakni dalam satu kemasan dapat berisi dua atau lebih macam/jenis agen infeksi. Misalnya Medivac ND-IB atau Medivac ND-EDS-IB Emulsion. Dalam satu kemasan mengandung dua (virus ND dan IB) atau lebih agen infeksi (virus ND, IB, dan EDS).

 

Penyusunan Program Vaksinasi

Salah satu pendukung keberhasilan vaksinasi yakni metode vaksinasi, yang mencakup program dan teknik vaksinasi. Penyusunan dan pelaksanaan program vaksinasi bertujuan untuk memperoleh kekebalan yang tinggi terhadap penyakit dan untuk mencegah beberapa penyakit tertentu pada peternakan tersebut. Program vaksinasi tidaklah baku, namun dapat berbeda-beda di suatu wilayah. Hal ini tergantung dari jenis ayam, jenis penyakit yang sering menyerang, tingkat keganasan penyakit di wilayah tersebut, umur serangan penyakit, maupun kepadatan peternakan di daerah tersebut.

Dalam menyusun program vaksinasi ayam broiler ada beberapa vaksin yang wajib diberikan terkait serangan penyakit yang cukup tinggi, seperti vaksin ND dan Gumboro. Tetapi perlu dipertimbangkan pula kerawanan dan riwayat daerah tersebut, misalnya terhadap serangan penyakit AI, IB maupun korisa. Program vaksinasi untuk ayam layer tentu berbeda dengan ayam broiler terkait masa pemeliharaan ayam layer yang lebih panjang. Ada beberapa vaksin yang wajib diberikan sebelum memasuki masa produksi, seperti vaksin ND, Gumboro, AI, IB, EDS, dan korisa. Namun bukan berarti vaksin lain tidak perlu diberikan, seperti ILT atau fowl pox. Tergantung akan riwayat atau tingkat kerawanan peternakan tersebut. Sebagai gambaran penyusunan program vaksinasi standar pada ayam broiler dan layer, dapat dilihat pada Tabel 3, 4, dan 5. Namun program tersebut hanya sebagai panduan umum saja dan dapat diubah sesuai kondisi masing-masing peternakan.

 

Vaksinasi menjelang masa produksi bertujuan supaya antibodi protektif yang dihasilkan dapat bertahan lama hingga puncak produksi. Maka pemilihan vaksin menjelang masa produksi yakni vaksin inaktif. Tujuannya agar saat puncak produksi tidak perlu dilakukan vaksinasi. Awal produksi sampai dengan puncak produksi merupakan masa kritis masa produksi sehingga perlu meminimalisir stres salah satunya efek vaksinasi misalnya saat proses handling/penanganan ayam. Penentuan jadwal vaksinasi ulang setelah masuk masa produksi atau setelah puncak produksi lebih tepat jika berdasarkan hasil pemantauan titer antibodi.

 

Mengenal Teknik Vaksinasi

Selain program vaksinasi, keberhasilan vaksinasi juga dipengaruhi teknik vaksinasi. Tujuan kita mengetahui teknik yang benar agar saat vaksinasi ayam mendapatkan 1 dosis penuh secara seragam sehingga diperoleh antibodi dalam jumlah yang optimum dan seragam. Beberapa teknik vaksinasi yang umum di lapangan adalah tetes (mata/hidung/mulut), air minum, spray, suntikan (subkutan/intramuskuler) maupun tusuk sayap.

  • Tetes mata, hidung atau mulut

    Vaksin yang diberikan secara tetes adalah vaksin aktif. Sebelum digunakan, vaksin perlu dilarutkan ke dalam larutan dapar untuk menaikkan suhu secara bertahap/thawing dan membangunkan agen infeksi yang dimati-surikan dalam keadaan kering beku. Isi setengah vial vaksin dengan larutan dapar dan kocok sampai tercampur rata. Tuangkan larutan vaksin ke dalam botol larutan dapar dan kocok hingga tercampur rata.

    Aplikasi tetes mata diberikan dengan meneteskan larutan vaksin pada mata satu tetes tiap ekor, tunggu sampai vaksin betul-betul masuk ke dalam mata (ayam akan mengejapkan mata berkali-kali) baru dilepaskan. Jika menggunakan tetes hidung, tutup lubang hidung yang lain pada saat meneteskan vaksin dan lepaskan setelah vaksin terhirup. Apabila menggunakan tetes mulut, teteskan satu tetes larutan vaksin melalui mulut. Pastikan sampai vaksin benar-benar masuk ke dalam mulut hingga ayam ada reflek menelan. Saat vaksinasi, hal yang perlu diperhatikan yakni cara handling agar vaksinasi tepat.

     

     

     

     

 

Vaksinasi ND dan IB pertama lebih baik hasilnya bila diberikan melalui tetes mata/hidung dan vaksinasi Gumboro pertama melalui tetes mulut. Karena pintu masuk virus ND dan IB adalah di saluran pernapasan dan sekaligus mengaktifkan kelenjar harderian (organ kekebalan) di daerah mata. Serta tiap ekor ayam mendapatkan 1 dosis penuh karena konsumsi air minum belum merata.

 

  • Air minum

    Teknik vaksinasi melalui air minum merupakan teknik yang paling sering digunakan peternak. Karena dapat diberikan secara masal, praktis, dan mudah dilakukan. Namun perlu diingat, teknik ini juga mempunyai kelemahan yaitu sulit dikontrol keseragaman jumlah air yang diminum ayam. Cara vaksinasi air minum cocok untuk ayam dewasa/lebih dari 3 minggu, karena jumlah konsumsi air minum ayam dewasa relatif stabil. Vaksinasi melalui air minum bisa menjadi alternatif untuk vaksinasi ulangan. Namun beberapa hal yang perlu diperhatikan saat vaksinasi melalui air minum, yakni:

    • Pastikan kualitas air minum baik. Air harus terbebas dari logam berat dan bahan kimia seperti desinfektan/klorin. Maka hentikan pemakaian desinfektan melalui air minum 48 jam sebelum dan sesudah vaksinasi. Untuk itu, tambahkan stabilizer/penstabil agar kualitas air bagus saat digunakan, seperti Medimilk atau Netrabil.

    • Agar semua ayam memperoleh dosis vaksin yang tepat, maka saat vaksinasi kita perlu memastikan:

      • Kebutuhan air minum ayam

        Vaksin aktif harus habis dalam waktu kurang dari 2 jam sehingga jumlah air minum harus disesuaikan dengan kebutuhan selama waktu tersebut. Perkiraan kebutuhan air minum dapat dilihat pada tabel berikut. Namun ini hanya sebagai panduan umum, konsumsi air minum juga dipengaruhi kondisi cuaca lingkungan.

        Untuk mengetahui jumlah konsumsi air minum ayam dapat juga dilihat dari feed intake.

         

        Isi setengah vial dengan air minum, kemudian vial ditutup kembali dan dikocok perlahan sampai tercampur rata, lalu campurkan ke dalam air minum.

      • Vaksin harus segera terkonsumsi

        Sebelum diberi air minum yang berisi vaksin, puasakan ayam dari air minum selama 1–2 jam, tergantung cuaca. Sediakan tempat minum dalam jumlah yang cukup dan distribusi merata agar seluruh ayam dapat minum bersama-sama sekaligus. Jangan menggunakan tempat minum dari kaleng. Operator harus mengontrol/memastikan saat proses vaksinasi sehingga jika ayam tidak bisa mengakses TMA maka perlu dibantu dengan mendekatkan ke TMA. Jika menggunakan nipple drinker maka dapat dirangsang dengan menekan nipple drinker untuk mengeluarkan air sehingga ayam mau minum.

    • Letakkan air minum yang berisi vaksin di tempat yang teduh, jangan kena panas dan sinar matahari langsung
  • Spray

    Siapkan pelarut berupa aquades atau air bersih, pH netral, bebas zat besi, dan klorin. Kemudian larutkan seluruh isi vial vaksin ke dalam pelarut sampai tercampur rata dan masukkan ke dalam sprayer dengan hati-hati. Sebaiknya sprayer yang dipakai hanya untuk vaksinasi. Tutup semua pintu dan lubang ventilasi, matikan kipas angin. Semprotkan ke seluruh ayam dengan jarak 30–40 cm dari atas kepalanya, lebih baik dilaksanakan pada saat semua ayam "mendekam”. Kandang dibuka kembali dan kipas dinyalakan lagi 20–30 menit setelah selesai penyemprotan.

  • Suntikan (intramuskuler/subkutan)

    Vaksinasi suntikan diberikan dengan suntikan intramuskular (tembus daging/otot) di paha/dada atau subkutan (bawah kulit) di leher bagian belakang sebelah bawah. Vaksinasi dengan cara suntikan harus dilakukan dengan hati-hati. Jika tidak, dapat mengakibatkan kegagalan dan berakibat fatal. Seperti ayam menjadi stres, leher terpuntir maupun terjadinya kebengkakan pada area suntikan. Alat suntik yang digunakan dapat berupa alat suntik manual/disposable syringe atau jika jumlah ayam banyak dapat menggunakan alat suntik otomatis/socorex yang dapat disterilisasi dan digunakan kembali. Vaksinasi suntikan dengan vaksin inaktif, sebelumnya vaksin perlu di-thawing dengan menggenggam dan menggesekkan kedua tangan hingga vaksin tidak berembun. Setelah di-thawing vaksin langsung disuntikkan sesuai dosis vaksin (misalnya 0,5 ml untuk ayam dewasa dan 0,2 ml untuk anak ayam). Jika vaksinasi suntikan menggunakan vaksin aktif, maka vaksin perlu dilarutkan dalam aquades terlebih dahulu. Misalnya dosis yang diberikan ke ayam 0,5 ml/ekor, maka untuk vaksin kemasan 100 dosis perlu dilarutkan dalam 50 ml aquades.

 

 

 

 

  • Tusuk sayap

    Vaksinasi tusuk sayap diberikan untuk vaksin cacar/fowl pox atau vaksinasi kombinasi AE dan fowl pox. Sebelum digunakan, pasang plastik penghubung pada botol vaksin lalu hubungkan dengan botol pelarut vaksin. Tuangkan pelarut ke dalam botol vaksin dan pindahkan kembali ke botol pelarut sampai vaksin terlarut homogen. Celupkan jarum penusuk ke dalam larutan vaksin sampai seluruh bagian jarum tercelup. Vaksinasi dilakukan dari bagian dalam sayap. Rentangkan sayap dan tusukkan jarum penusuk pada bagian lipatan sayap yang tipis dan jangan sampai mengenai pembuluh darah, tulang, dan urat daging sayap. Vaksin tidak boleh menyentuh bagian tubuh lain kecuali tempat vaksinasi. Vaksinasi dinyatakan berhasil jika terdapat radang berbentuk benjolan dengan diameter 3-5 mm pada lokasi tusukan. Reaksi ini akan muncul 3-7 hari setelah vaksinasi dan sembuh dalam waktu kurang dari 3 minggu.

 

 

Hal yang Perlu Diperhatikan Saat Vaksinasi

Agar kekebalan hasil vaksinasi optimal, sebaiknya saat melakukan vaksinasi perlu memperhatikan hal-hal berikut:

  • Jangan gunakan vaksin jika botol retak atau segel rusak serta catat nomer batch vaksin dan perhatikan tanggal kedaluwarsanya

  • Ayam yang akan divaksin dalam kondisi sehat. Misalnya jika ayam sedang terkena korisa, sebaiknya dilakukan pengobatan terlebih dahulu

  • Gunakan teknik vaksinasi sesuai anjuran (tepat teknik) dan jika menggunakan alat suntik, pastikan alat suntik yang digunakan steril

  • Pastikan setiap ekor mendapat dosis yang sama dan seragam. Saat vaksinasi, hindari perlakuan kasar yang menyebabkan ayam stres atau salah suntik dan tidak tergesa-gesa, tidak ada ayam “lolos” tidak tervaksin serta perhatikan batas waktu vaksin setelah dilarutkan

  • Beberapa faktor yang dapat menyebabkan ketidak-keseragaman dosis, yaitu :

    • Lama pelaksanaan vaksinasi lebih dari 2 jam sejak vaksin dilarutkan, sehingga ada kemungkinan agen infeksi dalam vaksin menjadi mati yang berakibat ayam yang divaksin belakangan tidak mendapat dosis minimal yang diperlukan

    • Terdapat buih pada alat suntik sehingga volume larutan vaksin tidak terisi penuh

    • Vaksin yang sudah di-thawing diletakkan kembali di suhu dingin

    • Saat vaksinasi, agen infeksi yang terkandung dalam vaksin terkena suhu tinggi (terlalu dekat dengan pemanas atau kontak dengan sinar matahari)

    • Larutan vaksin tercemar desinfektan/logam berat/kaporit, pH pelarut yang sangat rendah (pH asam) atau sangat tinggi (pH basa)

  • Tiga hari sebelum dan sesudah vaksinasi, berikan vitamin atau imunomodulator (bahan alami/buatan yang dapat meningkatkan fungsi sistem kekebalan) seperti Imustim untuk daya tahan dan hasil optimal

    Agar hasil vaksinasi optimal, maka salah satu faktor yang perlu kita perhatikan yakni metode vaksinasi, seperti program vaksinasi dan teknik vaksinasinya. Namun perlu didukung dengan kualitas vaksin yang digunakan, kondisi ayam, pelaksana/operator dan pengelolaan lingkungan yang baik. Salam.


Info Medion Edisi Mei 2016

Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

 

Terapi Suportif untuk Kasus Gumboro

Pada rubrik Artikel Utama, tim redaksi kami sudah membahas mengenai penyakit Gumboro dan komplikasinya yang menyerang ayam. Pada prinsipnya, jika ayam sudah terserang Gumboro, maka peternak dilarang melakukan vaksinasi darurat pada ayam yang terinfeksi, karena bursa Fabricius yang merupakan “pabrik” penghasil antibodi sudah rusak.

Jadi, akan sia-sia saja jika vaksinasi darurat dilakukan dan bahkan justru akan semakin memperparah kondisi organ bursa Fabricius yang terserang. Tindakan yang bisa dilakukan hanya terapi suportif, seperti meng-culling ayam yang kondisinya parah, memberi air gula untuk menambah energi, memberi antibiotik untuk mencegah infeksi sekunder penyakit bakterial, dan memberi vitamin untuk mempercepat proses penyembuhan. Kali ini suplemen vitamin herbal bisa menjadi salah satu terapi suportif yang bisa diberikan.


Tindakan Umum di Lapangan Ketika Terjadi Kasus Gumboro

Pada kasus Gumboro, sudah hal yang umum jika peternak menemukan gejala klinis berupa diare putih, bulu kusam, gemetar, serta ayam tampak lemah dan lesu. Turunnya nafsu makan/minumlah yang menyebabkan ayam mengalami dehidrasi dan lemah. Dalam kondisi demikian, air gula sangat bermanfaat diberikan sebagai sumber energi yang dapat langsung digunakan oleh tubuh ayam. Gejala lain seperti peningkatan suhu tubuh atau demam pun terjadi, sehingga tak jarang peternak awam memberikan parasetamol guna mengatasi demam tersebut.

Demam merupakan tanda bahwa tubuh ayam sedang melawan infeksi. Saat Gumboro menyerang, antigen dari virus lapangan yang ada di dalam tubuh ayam akan berikatan dengan antibodi. Akibatnya, beberapa organ (termasuk bursa Fabricius dan otot) akan mengalami peradangan serta perdarahan, dan respon yang ditunjukkan oleh ayam ialah demam. Untuk itu, pemberian parasetamol dinilai dapat membantu menurunkan panas tubuh tersebut.

Sekilas membahas mengenai parasetamol, penggunaannya pada ayam saat ini memang bukan hal yang tabu. Meskipun parasetamol telah lama dikenal sebagai obat antipiretik (penurun panas/demam) dan analgesik (pereda nyeri/sakit) pada manusia, namun kini telah banyak peternak ayam pedaging maupun petelur yang memanfaatkan parasetamol sebagai penurun panas pada saat terjadi outbreak Gumboro (Palupi et al., 2011). Ambil contoh pada peternakan unggas di salah satu kota di Jawa Barat, dilaporkan bahwa 63% peternak menggunakan parasetamol untuk mengobati ternak unggasnya yang mengalami sakit dan demam (Survey of Indonesian-Dutch Partnership Program, 2010).

Walaupun sudah umum digunakan untuk mengobati ayam, terutama saat terjadi serangan Gumboro, penggunaan parasetamol tetap harus disesuaikan dengan dosis dan aturan pakai yang berlaku. Dosis pemberian produk parasetamol untuk ayam berkisar antara 15-30 mg parasetamol/kg berat badan atau 150-300 mg parasetamol/2 liter air minum, dan diberikan selama 3-5 hari berturut-turut.

Lalu bagaimana jika dosis pemberiannya berlebihan? Hal ini mengingat tak jarang sebagian peternak memberikan produk parasetamol berbentuk kaplet yang seharusnya untuk manusia, justru diberikan ke ternak ayam mereka, yang notabene dosis dan aturan pakainya pun sudah pasti berbeda.

Menurut Palupi et al. (2011), pemberian parasetamol dalam jumlah berlebihan dapat merusak hati. Padahal kita tahu bahwa hati merupakan organ penting yang berperan utama dalam proses metabolisme dan detoksifikasi racun yang masuk ke dalam tubuh ayam.

Sebelumnya perlu kita ketahui bahwa parasetamol yang masuk ke dalam tubuh ayam akan dimetabolisme di hati sebelum menuju ke sistem sirkulasi darah (sistemik). Setelah dimetabolisme, parasetamol ini akan berikatan (berkonjugasi) dengan senyawa glutathione hingga menghasilkan metabolit sekunder non-toksik yang siap dibuang bersamaan dengan urin/feses. Glutathione adalah molekul protein yang secara alami diproduksi di hati dan berperan penting sebagai antioksidan.

Oleh sebab itu apabila parasetamol diberikan dengan dosis yang berlebihan, maka glutathione yang diproduksi di hati ini tidak akan mampu sepenuhnya berikatan dengan parasetamol. Akibatnya, sisa parasetamol yang belum berikatan tersebut akan diubah menjadi metabolit N-acetyl-p-benzo-quinone imine (NAPQI) yang bersifat toksik (beracun). Selanjutnya NAPQI mampu berikatan dengan molekul protein dan DNA penyusun sel-sel hati, sehingga hati akan mengalami kerusakan atau nekrosis (kematian jaringan).

 

Suplementasi Vitamin Herbal

Untuk membantu meringankan gejala serangan Gumboro, alternatif cara yang bisa dilakukan ialah memberikan suplemen vitamin herbal, seperti Kumavit. Di dalam Kumavit terkandung ekstrak herbal Curcuma, multivitamin, asam amino, dan elektrolit yang dapat membantu memperbaiki proses metabolisme nutrisi di dalam tubuh ayam saat sakit, menambah nafsu makan dan daya tahan tubuh, meringankan gejala demam dan dehidrasi, serta memperbaiki sel-sel organ yang rusak akibat terserang virus Gumboro.

  • Eskrak Curcuma

    Banyak literatur menyatakan bahwa ekstrak Curcuma bermanfaat untuk meningkatkan nafsu makan ayam. Secara ilmiah, ekstrak tersebut mampu memperbaiki proses me tabolisme (pencernaan) dan penyerapan nutrisi melalui rangsangan kerja enzim pencernaan. Manfaat lainnya yaitu mampu menurunkan demam/panas tubuh karena zat aktif ekstrak Curcuma juga memiliki fungsi sebagai anti inflamasi (anti peradangan). Dengan berkurangnya peradangan, maka proses penyembuhan Gumboro juga bisa lebih cepat dan nafsu makan ayam sedikit demi sedikit akan membaik. Fungsi lain dari ekstrak Curcuma ini ialah berperan sebagai antioksidan yang mampu melindungi organ tubuh ayam dari senyawa radikal bebas. Salah satu organ yang dilindungi adalah hati. Sebelumnya kita sudah membahas bahwa penggunaan parasetamol dengan dosis berlebih bisa menimbulkan kerusakan hati dengan derajat kerusakan yang bervariasi. Untuk membantu meringankan derajat kerusakannya, peternak bisa memberikan ekstrak Curcuma karena berfungsi sebagai prekursor glutathione yang mampu berikatan dengan parasetamol di hati, sehingga bisa membantu melindungi sel sekaligus memperbaiki jaringan hati yang rusak akibat pengaruh zat toksik NAPQI.

  • Multivitamin dan elektrolit

    Secara umum, ketersediaan vitamin yang lengkap juga dapat meningkatkan dan menjaga proses metabolisme tubuh tetap optimal, sehingga mempercepat proses penyembuhan penyakit dan membuat daya tahan tubuh ayam kembali meningkat. Contohnya adalah vitamin C dalam Kumavit yang berperan menstimulasi kerja dari sel T dan B yang merupakan sel pertahanan bagi tubuh ayam. Selain vitamin, suplementasi elektrolit juga tak kalah penting diberikan. Elektrolit dibutuhkan tubuh ayam untuk membantu mengatasi ancaman syok pada kondisi kekurangan cairan, menjaga kestabilan pH darah yang terganggu akibat menurunnya kadar CO2 di dalam tubuh ayam, serta membantu meningkatkan retensi air dan mencegah dehidrasi. Sebelumnya kita tahu bahwa saat ayam mengalami terserang Gumboro, ayam mengalami dehidrasi karena kehilangan banyak energi dan cairan lewat pengeluaran panas tubuh, sehingga keseimbangan cairan dan elektrolit tubuhnya terganggu. Untuk itu, elektrolit perlu diberikan.

  • Asam amino

    Asam amino di dalam tubuh ayam memiliki banyak fungsi, di antaranya sebagai bahan pembentuk hormon, antibodi, dan sel-sel jaringan tubuh yang baru, serta berperan sebagai sumber energi. Dengan diberikannya suplementasi asam amino melalui Kumavit saat terjadi kasus Gumboro, maka secara tidak langsung akan membantu proses penyembuhan luka lewat perbaikan sel-sel organ atau otot tubuh ayam yang terserang virus Gumboro.

Terapi suportif dengan pemberian multivitamin Kumavit pada malam hari setelah pengobatan antibiotik, merupakan salah satu contoh tindakan suportif yang bisa diterapkan saat terjadi kasus Gumboro di peternakan. Saat dikombinasikan dengan tindakan yang lain, seperti pemberian antibiotik, air gula, dan desinfeksi yang optimal, diharapkan pemulihan kondisi tubuh ayam pasca serangan Gumboro dapat berjalan lebih cepat. Salam.

 


Info Medion Edisi Juni 2015

Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

 

Memadukan Langkah Pengendalian ND

Siapa peternak yang tidak kenal ND (Newcastle disease). Penyakit unggas yang satu ini diperkirakan tetap mengancam peternakan unggas di tahun 2015. Sudahkah Anda menyiapkan cara penanggulangan yang tepat?


Bagaimana ND di Lapangan Saat Ini?

Selain AI (flu burung), penyakit ND memang masih menjadi momok bagi para peternak unggas, terutama ayam komersil. Berdasarkan data lapangan tahun 2012-2014, penyakit ND selalu menempati 10 besar ranking penyakit dan menyerang semua umur ayam. Bahkan di 2014, kasus serangannya meningkat cukup signifikan dibanding dua tahun sebelumnya (Grafik 1). Perkembangan lain ND saat ini di antaranya:

    Diagnosa ND sering tidak mudah

Sudah umum dilakukannya vaksinasi ND di peternakan membuat ND yang menyerang kini tidak selalu menunjukkan gejala klinis atau patologi anatomi yang spesifik. Maka dari itu, beberapa peternak ayam komersil kini mulai memilih melakukan uji serologi di laboratorium untuk membantu meneguhkan diagnosis. Bahkan ketika kasus penyakit yang ditemui rancu antara ND atau AI (karena gejala dan patologi anatomi penyakit keduanya mirip), maka untuk meneguhkan diagnosisnya dilakukan uji polymerase chain reaction (PCR) dan DNA sequencing.

Lalu apa saja gejala klinis atau perubahan pada ayam saat terserang ND? Untuk gejala klinis, biasanya diawali dengan penurunan nafsu makan ayam, ngorok, kadang ditemukan kotoran ayam berwarna hijau lumut bercampur putih, namun tidak berlendir, dan beberapa ayam lehernya terpuntir (tortikolis). Pada ayam petelur akan teridentifikasi penurunan produksi dan kualitas telur (warna kerabang pucat, ukuran telur lebih kecil).

Lama-kelamaan akan ada kematian ayam yang melebihi normal, bisa sampai 10-20 ekor per hari atau bahkan kematiannya dalam 2 minggu mencapai ± 20% dari total populasi.

Jika dilanjutkan dengan bedah ayam sakit, biasanya akan ditemukan peradangan trakea, peradangan pada usus (radang pada Peyer's patches di usus halus dan seka tonsil di dekat usus buntu) dan peradangan pada proventrikulus. Pada ayam petelur produksi, perubahan bisa juga terjadi pada calon kuning telur, di mana calon kuning telur mengalami perdarahan atau pecah di rongga perut.

 

 
 

Setelah diketahui gejala klinis dan perubahan patologi anatomi (hasil bedah ayam sakit, red) yang lengkap seperti di atas apakah bisa langsung disimpulkan ayam kena ND? Ya, ayam kena ND. Namun jika perubahan yang terjadi tidak spesifik ND, misalnya hanya penurunan produksi telur dibarengi peradangan usus saja, maka untuk membantu arahan diagnosis perlu dievaluasi sejarah vaksinasi ND-nya dan dilanjutkan dengan uji serologi. Jika dari hasil uji serologi diketahui titer ND-nya tidak seragam dan angkanya menyimpang dari baseline titer, maka ada indikasi infeksi virus ND dari lapangan.

    Jarak vaksinasi ND pada ayam petelur dari tahun ke tahun makin dekat

Penerapan program vaksinasi ND pada ayam saat ini menunjukkan tren frekuensi yang semakin rapat, khususnya pada peternakan ayam petelur. Jarak vaksin ND yang satu dengan pengulangan vaksin ND berikutnya kian mepet. Fakta ini terjadi sejalan dengan meningkatnya wabah ND sekalipun ayam sudah divaksinasi ND. Untuk mengantisipasi dan meminimalkan risiko munculnya serangan ND tersebut, maka peningkatan frekuensi vaksinasi ND pun dilakukan. Dulu, vaksinasi ND menggunakan vaksin ND live (aktif) pada ayam petelur di masa produksi cukup dilakukan 8 minggu sekali, namun kini peternak melakukannya lebih sering, yaitu rata-rata 4 minggu sekali.

Di sisi lain, ada sebagian peternak ayam petelur yang menentukan jadwal revaksinasi ND hanya berdasarkan kalender, bukan berpedoman pada data titer antibodi. Padahal idealnya sebelum revaksinasi ND, peternak perlu monitoring/mengecek titer antibodi ND terlebih dahulu minimal 1 bulan sekali. Ketika nilai titer ND diketahui sudah mendekati standar minimal protektif, barulah peternak melakukan revaksinasi. Namun yang terjadi tidaklah demikian. Revaksinasi terkadang dilakukan tidak berpedoman pada data titer, tetapi langsung menentukan jadwal revaksinasi (dengan vaksin aktif) setiap 4 minggu sekali.


    Ramai serangan ND G7B

Banyak praktisi perunggasan menduga bahwa makin rapatnya program vaksinasi ND dan kerap jebolnya vaksinasi ini berhubungan dengan fakta terkini bahwa virus ND yang ada di lapangan didominasi oleh virus ND Genotipe 7B (G7B), sementara penggunaan vaksinnya bukan G7B.

Virus ND termasuk ke dalam golongan avian paramyxovirus dan memiliki genom single stranded (ss) RNA dengan struktur beramplop. Pada dasarnya penggolongan virus ND dapat didasarkan pada 3 hal, yaitu berdasarkan serotipe atau kesamaan antigenik, patotipe atau tingkat keganasan penyakit, dan berdasarkan genotipe. Berdasarkan serotipe, virus ND memiliki 9 serotipe, yaitu avian paramyxovirus (APMV) 1 sampai 9. Namun hanya APMV-1 yang teridentifikasi menyerang unggas.

Sedangkan berdasarkan patotipe/tingkat keganasannya, terdapat 3 jenis virus ND. Saluran pernapasan, pencernaan, reproduksi, dan saraf tak luput pula menjadi organ target serangan virus ND. Ketiga patotipe virus ND tersebut yaitu:

  • Velogenik

    Karakteristik serangan virus ini ditandai dengan infeksi saluran pencernaan (viscerotropic) dan organ saraf (neurotropic) yang parah, sehingga sering disebut dengan serangan VVND (velogenic viscerotropic Newcastle disease). Gejala lainnya seperti lesu, penurunan nafsu makan, penurunan produksi telur secara drastis, tortikolis, diare dan tingkat kematian mencapai 70%.

  • Mesogenik

    Virus ND mesogenic memiliki keganasan menengah dan menyebabkan gangguan pernapasan dan kadang menunjukkan gangguan saraf berupa tortikolis. Selain itu, terjadi penurunan produksi telur yang berlangsung 1-3 minggu dengan tingkat kematian mencapai 10-20%.

  • Lentogenik

    Merupakan penyebab dari penyakit ND tipe ringan, kadang-kadang bersifat subklinis (tidak menampakkan gejala yang spesifik, red). Ayam tidak mengalami gejala saraf namun terjadi infeksi ringan saluran pernapasan (seperti muncul gejala ngorok) dan penurunan produksi telur meski jumlahnya sedikit. Selain itu kematian hampir tidak ada.

Berdasarkan genotipe, saat ini virus ND di dunia terdiri dari genotipe 1-10. Untuk virus ND strain La Sota, Hitchner B1 dan Clone asal Amerika tergolong ke dalam genotipe 2. Sementara itu, saat ini di Indonesia telah bersirkulasi virus ND genotipe 7, subgenotipe B atau biasa disebut genotipe 7B (G7B). Dari hasil indentifikasi R&D BP Medion (2011) diketahui virus G7B ini tergolong tipe velogenik (ganas). Sedangkan strain La Sota dan Hitchner termasuk tipe lentogenik (tidak ganas). Vaksin ND klasik yang beredar saat ini umumnya menggunakan master seed virus (bibit virus) kelompok lentogenic, seperti strain La Sota, Hitchner B1, dan Clone 45.

 Dari hasil uji PCR dan DNA sequencing oleh R&D Medion, sampai Februari 2015 telah ditemukan virus ND G7B yang tersebar di wilayah Medan, Sukabumi, Tasikmalaya, Mojokerto, Tuban, Jombang, Blitar, Malang, dan Bali (lihat Gambar A). Melihat peta sebaran virus ND G7B yang sudah mencakup wilayah Sumatera, Jawa, dan Bali ini, maka tidak menutup kemungkinan virus tersebut telah menyebar luas ke seluruh wilayah di Indonesia. Hal inilah yang perlu terus diwaspadai peternak. Mengenai perubahan gejala klinis dan patologi anatomi yang terjadi akibat infeksi virus ND G7B ternyata tidak jauh berbeda dengan perubahan yang selama ini ditemukan. Karena G7B tergolong virus ND tipe ganas, maka tingkat kematian yang ditimbulkan akan tinggi dan gejala saraf (tortikolis) serta perubahan pada organ pencernaan pun biasanya akan ditemukan.


Pengendalian ND Secara Terpadu

Setelah mengetahui perkembangan ND saat ini di Indonesia, maka kita perlu mengendalikan ND secara terpadu. Artinya kita tidak hanya mengandalkan vaksinasi dalam mencegah ND, namun perlu disertai pula dengan pelaksanaan biosekuriti secara ketat, perbaikan manajemen pemeliharaan, serta usaha meningkatkan stamina tubuh ayam dengan baik melalui pemberian vitamin (Solvit, Fortevit) dan premiks (Mix Plus).

Hal ini karena faktor penyebab gagalnya vaksinasi ND tidak semata-mata disebabkan oleh perbedaan genotipe virus, tapi juga konsentrasi virus ND di farm sudah sangat tinggi dan respon dari ayam yang divaksin tidak maksimal yang salah satunya disebabkan faktor imunosupresi. Untuk meminimalkan keberadaan virus ND di farm dan faktor imunosupresi, maka tingkatkan biosekuriti khususnya kandang, peralatan, dan kendaraan yang keluar masuk farm.

Struktur membran virus ND yang beramplop menjadikan virus ini mudah dimatikan oleh semua jenis desinfektan. Pilih dan gunakan desinfektan yang daya kerjanya kurang dipengaruhi bahan organik seperti Formades atau Sporades untuk menyemprot kendaraan atau bagian luar kandang. Semprotkan juga Antisep atau Neo Antisep secara rutin seminggu sekali saat kandang berisi ayam.

Terkait dengan vaksinasi ND, agar vaksinasi berhasil membentuk kekebalan/antibodi optimal dan mampu melindungi ayam dari serangan ND, ada beberapa hal yang harus diperhatikan, yaitu tepat vaksin, tepat waktu vaksinasi, dan tepat aplikasi vaksinasi. Ketiganya dijabarkan dalam beberapa tindakan di bawah ini:

  1. Kualitas fisik dari vaksin masih baik

    Gunakan vaksin ND yang kualitasnya masih baik dan sudah teregistrasi. Baik di sini artinya segelnya masih utuh, bentuknya tidak berubah, vaksin belum kadaluarsa, serta etiketnya masih terpasang dengan baik.

  2. Sebaiknya gunakan vaksin homolog

Selain dari segi fisik, peternak juga perlu mempertimbangkan penggunaan vaksin ND yang homolog dengan virus ND lapangan. Sebagai informasi, kini Medion telah memproduksi berbagai vaksin ND inaktif yang homolog dengan virus ND G7B lapangan, yaitu vaksin Medivac ND G7B Emulsion, Medivac ND G7B-EDS Emulsion, Medivac ND G7B-EDS-IB Emulsion, dan Medivac ND G7B-IB Emulsion. Lalu bagaimana jika peternak menggunakan vaksin klasik seperti Medivac ND La Sota, Medivac ND Hitchner B1, Medivac Clone 45, atau Medivac ND-IB? Apakah vaksin klasik tersebut tidak protektif lagi?

Tentu saja tidak. Vaksin klasik, terutama yang aktif tetap perlu diberikan untuk merangsang pembentukan kekebalan ND secara cepat dan protektif. Selain itu, pada dasarnya virus ND memiliki cross protection (perlindungan silang) antar patotipe virus. Jadi, antara vaksin ND klasik dan ND G7B memiliki perlindungan silang.

Dari hasil trial R&D Medion (2010) dilaporkan bahwa vaksin klasik yang mengandung strain La Sota dan vaksin ND G7B (Medivac ND G7B Emulsion) sama-sama menghasilkan perlindungan protektif terhadap tantangan virus ND ganas, hanya saja vaksin ND G7B menghasilkan perlindungan yang lebih baik pada kondisi tantang tersebut. Selain itu, kelebihan penggunaan vaksin homolog juga dapat menahan shedding (cemaran virus oleh ayam yang terinfeksi) dengan lebih baik.

  1. Susun program vaksinasi ND sesuai kondisi masing-masing farm

Di awal kita sudah membahas mengenai program vaksinasi ND saat ini di ayam petelur semakin rapat. Namun kembali disarankan sebaiknya untuk farm lama, penyusunan program vaksinasi ND harus mempertimbangkan mengenai umur serangan penyakit, umur ayam, data monitoring titer antibodi, dan jenis vaksin ND yang digunakan.

Vaksin ND aktif memiliki kemampuan menggertak pembentukan antibodi yang lebih cepat dibandingkan vaksin ND inaktif. Dalam waktu 2-3 minggu titer antibodi hasil vaksinasi dengan vaksin ND aktif telah mencapai standar protektif, sedangkan vaksin ND inaktif baru mencapai standar protektif pada 3-4 minggu. Meskipun demikian, titer antibodi yang dihasilkan vaksin ND inaktif relatif bertahan lebih lama di atas standar protektif dibandingkan vaksin ND aktif.

Berdasarkan pola pembentukan titer antibodi tersebut maka waktu pelaksanaan vaksinasi dengan menggunakan vaksin ND aktif sebaiknya dilakukan selambat-lambatnya 2-3 minggu sebelum penyakit menyerang, sedangkan vaksin ND inaktif bisa diberikan 3-4 minggu sebelum penyakit menyerang. Dengan demikian diharapkan pada saat bibit penyakit menginfeksi di dalam tubuh ayam telah terbentuk antibodi yang bisa memblok bibit penyakit tersebut.

Sedangkan jika farm masih baru, alangkah lebih baik jika peternak mencari informasi mengenai program vaksinasi ND ke farm sekitar. Medion pun telah menerbitkan Program Pemeliharaan Kesehatan Ayam Pedaging (PPKAD) dan Ayam Petelur (PPKAT) yang berisi panduan umum program vaksinasi ND bagi peternak ayam pedaging dan petelur. Contoh panduan umum vaksinasi tersebut disajikan pada Tabel 1.

Saat vaksinasi ND pertama umur 4 hari, lebih disarankan agar peternak memberikan vaksinasi ND aktif sekaligus inaktif. Alasannya pertama karena tentu saja stres vaksinasinya relatif lebih ringan dibandingkan jika vaksinasi dilakukan secara terpisah. Perlu diketahui bahwa stres vaksinasi di masa awal brooding bisa mengganggu proses pembelahan sel (hiperplasia) anak ayam. Akibatnya pada masa finisher, pertumbuhan ayam tidak akan optimal karena gangguan hiperplasia tadi akan sulit dikompensasi/diperbaiki.

  1. Perhatikan cara handling/penanganan vaksin ND sejak dibeli hingga diberikan pada ayam.

    • Saat distribusi dan penyimpanan sementara, suhu vaksin ND harus selalu terkondisikan pada suhu 2-8oC.

    • Sebelum diberikan ke ayam, jangan lupakan proses thawing. Thawing bertujuan menaikkan suhu vaksin yang sebelumnya 2-8oC mendekati suhu tubuh ayam (±41oC) atau sampai vaksin tidak terasa dingin lagi, yaitu dengan suhu sekitar 25-27oC. Setelah di-thawing, sebaiknya vaksin ND tidak dimasukkan lagi ke dalam lemari pendingin/marina cooler yang suhunya 2-8oC karena bisa menurunkan potensi vaksin.

    • Pastikan jangka waktu pemberian vaksin ND tepat, di mana vaksin ND aktif harus habis diberikan maksimal 2 jam, sedangkan vaksin ND inaktif harus habis dalam waktu 24 jam.

    • Jika vaksin ND tidak habis, maka sisanya tidak bisa disimpan untuk kemudian digunakan lagi. Sisa vaksin dan kemasannya harus direndam desinfektan terlebih dahulu, baru kemudian dibuang/dikubur.

  2. Pastikan dosis vaksin ND yang diberikan sudah benar.

  3. Sebelum divaksin, ayam berada dalam kondisi sehat dan tidak dalam kondisi imunosupresi (contohnya stres atau terserang penyakit CRD, Gumboro, mikotoksin, dll) yang dapat menurunkan keoptimalan pembentukan titer antibodi.

  4. Keterampilan vaksinator harus baik agar aplikasi vaksinasi bisa dilakukan dengan benar.

  5. Pada ayam petelur masa produksi, revaksinasi ND wajib diberikan, namun sebaiknya tidak hanya berpatokan pada hitungan kalender. Agar penentuan jadwal vaksinasi ulang lebih tepat dan tidak terlambat, lakukan monitoring titer antibodi rutin setiap bulan. Dengan tindakan revaksinasi tepat waktu, maka titer antibodi dalam tubuh ayam pun akan selalu terjaga pada level protektif.


Demikian perkembangan ND yang bisa kami bahas. Penyakit ND bukanlah penyakit baru dan sudah muncul di Indonesia sejak lama. Agar ND tidak semakin eksis di Indonesia, peternak perlu menerapkan beberapa tindakan pengendalian ND secara terpadu antara melakukan vaksinasi dengan tepat, menerapkan biosekuriti secara ketat, terus memperbaiki manajemen pemeliharaan, serta meningkatkan stamina tubuh ayam dengan baik. Dan tak lupa Medion pun akan terus melakukan pengumpulan data lapangan dan rangkaian penelitian guna mengetahui perkembangan ND dari tahun ke tahun, serta mempelajari tingkat protektivitas vaksinnya. Semoga bermanfaat. Salam.



Info Medion Edisi April 2015

Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

 

Perpaduan Tepat Menangkal Penyakit: Vaksinasi & Biosecurity

Sebagai orang tua tentu kita akan selalu berusaha menjaga agar anak kita sehat. Salah satu caranya dengan memberikan imunisasi (vaksinasi,red) sejak kecil, seperti imunisasi DPT, polio, campak, dll. Hal itu dilakukan agar anak terhindar dari berbagai penyakit yang belum ada obatnya tersebut. Namun selain imunisasi, kita juga perlu melindungi anak kita dari kontak bibit penyakit dengan menjaga kebersihan luar tubuhnya. Memandikan anak dua kali sehari, memakaikan baju yang bersih, serta menyuruh cuci tangan setelah bermain adalah beberapa contoh pelaksanaannya.

Lantas apa kaitannya dengan dunia peternakan? Analoginya ialah ternak ibarat anak kita. Sebagai pelaku usaha, kita pasti akan berusaha pula menjaga ternak kita selalu sehat. Kita rela mengeluarkan biaya untuk memberikan vaksin terbaik agar ayam peliharaan kita terhindar dari penyakit. Dengan tantangan bibit penyakit yang semakin kompleks, beranikah kita tidak memberikan vaksin ke ternak? Tentu saja tidak. Jika vaksinasi sudah pasti dilakukan oleh peternak, lalu bagaimana dengan biosecurity? Untuk biosecurity, terkadang peternak masih belum maksimal menerapkannya. Hal inilah yang akan kita review kembali.

 

Benteng Pertahanan Ayam

Pada dasarnya setiap makhluk hidup, termasuk ayam, memiliki sistem pertahanan tubuh alami melalui kerja beberapa organ di dalam tubuhnya. Meski begitu, kita sebagai peternak juga harus mengembangkan sistem pertahanan di luar tubuh ayam. Jika ada ayam jatuh sakit atau menunjukan gejala sakit, hal itu menjadi pertanda bahwa bibit penyakit telah berhasil menembus benteng pertahan-an ayam. Munculnya penyakit juga menunjuk-kan adanya ketidak seimbangan antara kondisi hospes (ayam,red), bibit penyakit maupun kondisi lingkungan yang kurang bersahabat, sehingga organ tubuh ayam tidak berfungsi sebagaimana mestinya.

Secara umum, benteng pertahanan ayam dapat dibagi menjadi 3 bagian, yaitu pertahanan di lingkungan peternakan, pertahanan di lingkungan kandang, dan pertahanan dalam tubuh ayam.

  • Pertahanan di lingkungan peternakan

    Lingkungan peternakan menjadi benteng pertahanan pertama bagi ayam dalam menghadapi serangan penyakit. Benteng pertama ini berkaitan dengan pemilihan lokasi peternakan. Peternakan yang didirikan di lokasi dengan jumlah peternakan yang padat (baik ternak sejenis maupun berbeda seperti peternakan itik, ayam kampung, dll), tentu akan lebih riskan terserang penyakit dan ancaman penyakit yang muncul pun akan lebih kompleks. Berbeda jika peternakan dibangun di lokasi dengan jumlah peternakan yang sedikit, ancaman penyakit yang akan muncul pun relatif lebih kecil.

    Dalam pemilihan lokasi peternakan, hendaknya lokasi tersebut harus jauh dari pemukiman warga, serta jarak antara peternakan yang satu dengan lainnya minimal 500 m. Namun di Indonesia, di mana kebanyakan kandang menggunakan sistem open house (kandang terbuka), maka jarak antar peternakan dianjurkan minimal 1 km. Selain mempertimbangkan mengenai lokasi kandang, untuk mendiri-kan peternakan, kita juga harus memper-timbangkan topografi dan tekstur tanah, ketersediaan air, listrik, serta kemudahan akses transportasi.

  • Pertahanan di lingkungan kandang

    Lingkungan kandang yang dimaksud merupakan rumah atau kandang ayam itu sendiri. Lingkupnya lebih sempit dibanding dengan lingkungan peternakan. Kandang menjadi lingkungan luar terdekat dengan ayam. Kondisi kandang yang nyaman atau comfort zone merupakan keadaan yang dikehendaki oleh ayam.

    Untuk menciptakan comfort zone, kita dapat memulainya dengan mengatur struktur kandang. Contohnya membuat jarak lantai kandang dengan tanah minimal 1,5 m (khusus kandang panggung), jarak antar kandang minimal 7 m (1 x lebar kandang) untuk menjaga sirkulasi udara selalu baik, arah kandang diusahakan membujur dari Barat ke Timur agar ayam tidak terkena panas sinar matahari sepanjang hari, dan terakhir membuat pagar pengaman untuk melindungi kandang dari tamu asing, baik hewan liar maupun pengunjung.

    Ada baiknya dalam satu lokasi kandang terdapat pembagian yang jelas antara kantor, gudang ransum, mess karyawan dan kandang. Dengan pembagian yang jelas akan memudahkan proses penerimaan ketika ada pengunjung datang.

  • Pertahanan di dalam tubuh ayam

    Tingkat pertahanan ayam yang ketiga ini adalah benteng terakhir. Bibit penyakit yang berhasil membobol 2 benteng sebelumnya kemungkinan disebabkan oleh lemahnya benteng pertahanan tersebut. Secara alami, ayam memiliki 2 sistem pertahanan tubuh, yaitu pertahanan primer (non spesifik) dan pertahanan sekunder (spesifik).

    Pertahanan primer merupakan pertahanan yang pertama kali bereaksi jika muncul bibit penyakit yang kontak dengan tubuh. Pertahanan ini ditunjang oleh struktur anatomi tubuh, serta melibatkan proses fisik (contoh adanya gerakan bulu getar pada saluran pernapasan, reaksi batuk, dll), kimiawi (pengaturan pH dan enzim-enzim), biologi, dan imunologi. Sedangkan pertahanan sekunder dibeda-kan menjadi 2 yaitu sistem kekebalan tubuh yang menetap yang diperankan oleh makrofag, serta sistem kekebalan tubuh bergerak (kekebalan seluler dan humoral/ antibodi).

    Meski di dalam tubuh ayam masih ada benteng ketiga ini, namun apabila jumlah bibit penyakit yang berhasil menembus kedua benteng sebelumnya sangat banyak dan tingkat keganasannya tinggi, maka kemungkinkan benteng ketiga inipun akan kalah. Bibit penyakit yang banyak dan ganas tersebut akan menyebabkan titer antibodi ayam cepat turun sehingga jika revaksinasi terlambat dilakukan, maka ayam tetap akan terinfeksi penyakit.

Untuk mempertahankan benteng pertama dan kedua, peternak harus dapat menerapkan biosecurity secara optimal. Sedangkan untuk menjaga pertahanan di dalam tubuh ayam, berikan vaksinasi dan dukung dengan tindakan supportif guna menjaga stamina tubuh ayam tetap baik.


Biosecurity Menekan Bibit Penyakit di Luar Tubuh Ayam

Penerapan biosecurity yang paling umum dilakukan peternak adalah sanitasi kandang dengan menyemprot desinfektan. Namun apakah ini cukup untuk menekan bibit penyakit di lingkungan peternakan maupun kandang? Tentu saja tidak. Secara harfiah, biosecurity diartikan sebagai serangkaian tindakan yang dilakukan untuk melindungi makhluk hidup dari bibit penyakit. Oleh karena itu, penerapan biosecurity harus menyeluruh untuk menjaga ayam agar terhindar dari bibit penyakit.

Dalam penerapan biosecurity, kita mengenal 3 konsep utama yaitu biosecurity konseptual (perencanaan lokasi kandang), struktural (manajemen kandang contoh arah, bentuk dan jarak kandang), dan operasional (manajemen pemeliharaan contohnya brooding, masa istirahat kandang, sanitasi kandang). Penerapan biosecurity konseptual dan struktural telah sedikit dibahas pada penjelasan benteng pertahanan ayam di lingkungan peternakan dan kandang. Dan biasanya peternak sudah tahu mengenai konsep biosecurity ini, atau kadang belum tahu namun telah menerapkannya.

Menurut Food and Agriculture Organization (FAO), ada tambahan 3 konsep pendukung biosecurity yaitu isolasi, pengaturan lalu lintas dan sanitasi (pembersihan dan desinfeksi). Tiga konsep ini bisa dimasukkan juga dalam biosecurity operasional.

  • Isolasi

    Isolasi dapat diartikan sebagai tindakan memisahkan dan melindungi ternak dari bibit penyakit yang berasal dari luar kandang dan luar peternakan, seperti tamu asing, hewan liar, ayam sakit, dll. Dengan isolasi ini diharapkan bibit penyakit yang masuk ke dalam lingkungan kandang dapat diminimalkan sehingga tantangan penyakit menjadi lebih sedikit.

    Agar proses isolasi berjalan dengan baik, dapat diterapkan dengan membuat “3 zona” wilayah kandang, yaitu zona merah, kuning, dan hijau.

    - Zona merah adalah zona kotor, batas antara lingkungan luar yang kotor, misalnya lokasi penerimaan dan penyimpanan egg tray/boks bekas telur, lokasi penerimaan tamu seperti pembeli ayam/telur, technical service, maupun pengunjung lain seperti tetangga atau peternak lain. Pada area ini kemungkinan cemaran bibit penyakit sangat banyak.

    - Zona kuning merupakan zona transisi antara daerah kotor (merah) dan bersih (hijau). Area ini hanya dibatasi untuk kendaraan yang penting seperti truk ransum, DOC/pullet, dan telur. Akses hanya diperuntukkan bagi pekerja kandang, lokasi tempat menyimpan egg tray/boks telur yang sudah bersih dan sudah diisi.

    - Zona hijau adalah zona bersih yang merupakan wilayah yang harus terjaga dari kemungkinan cemaran/penularan penyakit. Area ini merupakan kandang tempat tinggal ternak. Hanya pekerja kandang yang boleh masuk ke zona hijau. Untuk masuk ke wilayah ini, pekerja harus menggunakan alas kaki khusus zona hijau. Kendaran tidak boleh masuk ke zona ini. Begitu pula dengan pengunjung, kecuali jika ada kepentingan khusus, misalnya tenaga vaksinasi (vaksinator) atau technical service yang ingin mengontrol kesehatan ayam kita. Namun vaksinator atau technical service tersebut tentu harus bersedia mengikuti prosedur yang diterapkan di farm tersebut.

  • Pengaturan lalu lintas

    Pengaturan lalu lintas bertujuan menyeleksi agar barang-barang yang masuk ke lingkungan kandang hanyalah barang-barang yang benar-benar diperlukan. Yang boleh masuk di antaranya adalah bibit (DOC/pullet), ransum, air, peralatan yang penting (vaksin, obat desinfektan) dan pekerja. Selain itu, pekerja juga harus paham mengenai tata cara masuk kandang. Sebagai contoh jika kandang tidak menerapkan sistem all in all out atau one age farming, maka kunjungan kandang diawali dari kandang ayam berumur muda baru yang tua, dan dari ayam sehat ke ayam sakit.

  • Sanitasi (pembersihan dan desinfeksi)

    Sanitasi merupakan salah satu kegiatan biosecurity yang paling sering dilakukan peternak. Kegiatan sanitasi sendiri terdiri dari dua hal, yaitu pembersihan dan desinfeksi secara teratur terhadap peralatan maupun pekerja yang keluar masuk kandang. Satu kesalahan yang sering terjadi adalah pekerja bebas keluar masuk kandang tanpa melewati kegiatan sanitasi terlebih dahulu. Bahkan kadang peternak justru tidak menyediakan bak pencelup alas kaki di depan kandang, atau ada bak pencelup tapi tidak ada cairan desinfektannya atau cairan desinfektan tidak pernah diganti.

    Kegiatan sanitasi sederhana yang dapat dilakukan yaitu mengganti alas kaki khusus untuk ke kandang, menggunakan baju khusus untuk bekerja di kandang, menyikat dan mencelupkan alas kaki di bak desinfektan, serta semprot baju dengan desinfektan. Kegiatan tersebut berlaku untuk semua orang baik pekerja maupun technical service yang akan mengontrol kesehatan ayam. Komitmen dari semua pihak untuk disiplin dalam penerapan sanitasi tersebut sangat diperlukan agar kegiatan tersebut dapat berjalan dengan baik. Jika perlu, tetapkan satu orang khusus untuk menegakkan peraturan tersebut. Ibaratnya sebagai polisi di farm kita.

    Kegiatan sanitasi lain yang juga wajib dilakukan adalah:

    • Pembersihan, pencucian, dan penyemprotan kandang setelah panen/afkir

    • Pencucian tempat minum dan ransum secara rutin 2 kali sehari, serta didesinfeksi dengan merendamnya (bukan hanya dilap) dalam Medisep (15 ml tiap 10 l air), Zaldes (6 ml tiap 1 liter), atau Neo Antisep (9 ml tiap 5 liter air).

    • Pelaksanaan manajemen pemeliharaan yang baik, meliputi tata laksana brooding, tata laksana ransum dan air minum, memperhatikan kualitas litter, melakukan penanganan bangkai dan feses ayam dengan tepat, serta mengatur kepadatan kandang dengan optimal.

    • Pencucian egg tray atau boks kotak telur dan perendaman dengan desinfektan. Untuk pengiriman telur, sebaiknya pilih egg tray yang berbahan plastik, agar mudah dibersihkan dan dicuci. Jika menggunakan egg tray/boks dari kayu, maka boks harus dicuci dan disikat hingga bersih, kemudian dikeringkan. Setelah itu, jerami bekas di dalamnya harus dibakar dan diganti dengan yang baru. Kelemahan dari penggunaan boks kayu ini ialah mudah lapuk dan lebih berisiko menyebarkan penyakit karena bahan kayu memiliki pori-pori yang bisa dijadikan sarang bibit penyakit.

    • Kendaraan tamu yang akan memasuki area farm harus disemprot dan bannya harus melewati bak yang berisi desinfektan.

Dari keseluruhan kegiatan vaksinasi, satu hal yang juga sangat perlu diperhatikan ialah kita wajib memilih desinfektan dengan tepat, sesuai dengan kepentingan dan sejarah terjadinya outbreak penyakit di peternakan. Sebagai contoh, jika di peternakan pernah terjadi outbreak Gumboro, maka pilih desinfektan dari golongan iodine (Antisep/Neo Antisep), formalin (Formades) atau glutaraldehid (Sporades). Hal ini karena desinfektan tersebut cocok digunakan untuk mengatasi golongan virus yang tidak beramplop seperti virus Gumboro.


Vaksinasi Menekan Bibit Penyakit dari Dalam Tubuh Ayam

Tujuan utama vaksinasi adalah memberikan kekebalan atau antibodi terhadap bibit penyakit yang masuk ke dalam tubuh ayam. Namun harus diingat bahwa jika hasil vaksinasi tidak optimal menghasilkan kekebalan/ antibodi atau terjadi kegagalan vaksinasi, maka bibit penyakit akan dengan mudah menginfeksi ayam.

Oleh karena itu, saat pelaksanaan vaksinasi kita harus selalu memperhatikan 4 M, yaitu:

a) Materi, meliputi vaksin dan kondisi ayam

  • Tepat vaksin

    Jika virus lapangan adalah gembok dan virus vaksin adalah kunci maka antara gembok dan kunci tersebut harus pas dan cocok. Oleh karena itu agar perlindungan optimal gunakan vaksin berisi bakteri/virus yang sesuai dengan bakteri/virus lapang. Sebagai contoh, virus AI di Indonesia yang beredar di lapangan saat ini adalah virus AI H5N1 clade 2.1 dan 2.3. Agar ayam mendapat perlindungan terhadap kedua clade tersebut, maka sebaiknya ayam divaksin menggunakan vaksin yang sesuai.

  • Kondisi ayam baik

Kondisi ayam sebelum divaksin harus sehat dan tidak dalam kondisi imunosupresi/ tidak stres

b) Metode, meliputi ketepatan jadwal dan teknik/aplikasi

  • Tepat jadwal

    Jadwal vaksinasi bisa disusun berdasarkan umur serangan penyakit sebelumnya. Untuk vaksin aktif, vaksin diberikan 2-3 minggu sebelum umur serangan. Sedangkan vaksin inaktif 3-4 minggu sebelum umur serangan. Agar penentuan jadwal vaksinasi terutama vaksinasi ulang bisa lebih tepat, lakukan monitoring titer antibodi secara rutin, sehingga akan diketahui gambaran titer antibodi di dalam tubuh ayam masih mencukupi atau sudah turun. Untuk melakukan uji titer antibodi dapat dilakukan di Medion Laboratorium (MediLab).

  • Tepat teknik/aplikasi

    Teknik atau aplikasi pemberian vaksin merupakan satu hal yang sangat penting dalam vaksinasi karena sangat menentukan apakah vaksin yang diberikan ke dalam tubuh ayam benar-benar masuk atau tidak. Pelaksanaan vaksinasi harus dilakukan dengan hati-hati, tidak kasar dan tidak membuat ayam menjadi makin stres. Selain itu, perlu diperhatikan pula beberapa hal berikut ini:

    • Saat distribusi dan penyimpanan sementara, suhu vaksin selalu terkondisikan 2-80C.

      Letakkan vaksin di bagian tengah marina cooler/ termos es/filopur, baru kemudian beri es batu/ice pack beku/ thermafreeze beku di sekeliling dan di atas vaksin. Perbandingan vaksin dan es batu sekitar 50% : 50%. Jangan membawa vaksin di dalam plastik karena dikhawatirkan suhu di dalamnya tidak mencapai 2-80C.

    • Sebelum diberikan ke ayam, jangan lupakan proses thawing (meningkatkan suhu vaksin secara bertahap dari suhu 2-80C menjadi mendekati suhu tubuh ayam/suhu ruang). Hal ini wajib dilakukan untuk mencegah ayam stres akibat perubahan suhu yang mendadak, dan agar vaksin mudah terserap di dalam tubuh ayam. Satu hal yang juga perlu diingat selama proses vaksinasi berlangsung ialah vaksin tidak perlu diberikan es batu lagi.

    • Pastikan jangka waktu pemberian vaksin tepat, yaitu vaksin aktif harus habis diberikan kurang dari 2 jam, sedangkan vaksin inaktif harus habis dalam waktu 24 jam.

    • Sebelum digunakan, pastikan kualitas vaksin masih baik dan teregistrasi, seperti tutup masih tersegel, ada label yang jelas, bentuk tidak berubah dan belum kadaluarsa.

    • Pastikan dosis vaksin yang diberikan sudah tepat dan benar.

    • Saat vaksinasi, sebaiknya jangan dilakukan berdekatan dengan pemanas ayam atau terkena panas matahari langsung, karena suhu panas dapat merusak vaksin.

    • Selama vaksinasi, vaksin inaktif harus sering dikocok agar homogen antara virus dan adjuvant-nya.

c) Manusia atau tenaga vaksinasi

Jika tenaga vaksinasi (vaksinator,red) bukan dari perusahaan vaksin, maka tim vaksinator perlu diberikan pelatihan khusus agar memiliki pengetahuan dan skill vaksinasi yang baik.

d) Milleu atau lingkungan harus dijaga dengan baik.

Hal-hal yang berkaitan dengan milleu di antaranya dengan memperhatikan kualitas air minum yang akan digunakan untuk melarutkan vaksin, dan menerapkan praktek biosecurity yang baik agar bibit penyakit di lingkungan jumlahnya sedikit. Tindakan lainnya perlu didukung pula dengan penerapan manajemen pemeliharaan yang baik, seperti memastikan nutrisi ransum maupun air tercukupi kualitas dan kuantitasnya, menjaga sirkulasi udara selalu lancar dengan mengatur manajemen tirai dan kepadatan ayam, serta memberikan terapi supportif menggunakan multivitamin dan elektrolit seperti Vita Stress, Vita Strong atau Fortevit. Hal-hal tersebut guna menjaga kondisi ayam selalu prima, sehingga respon kekebalan hasil vaksinasi juga semakin optimal.


Biosecurity merupakan cara untuk mencegah serangan bibit penyakit dari luar tubuh ayam (meminimalisir bibit penyakit di lingkungan peternakan dan kandang), sedangkan vaksinasi bertujuan mencegah serangan bibit penyakit dari dalam tubuh ayam (kekebalan atau antibodi akan mengeliminir bibit penyakit yang masuk ke dalam tubuh ayam). Jadi, keduanya merupakan kolaborasi sinergis yang tidak dapat dipisahkan dalam menjaga keseimbangan lingkungan antara hospes dan bibit penyakit.


Info Medion Edisi Mei 2014

Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

 

www.medion.co.id               info@medion.co.id                 0813-2185-7405 (Customer Service)                 facebook.com/medionwisata 
Cara berlangganan Info Medion SMS ke 0852 2114 1929 dengan format Reg IM Nama AlamatSurat AlamatEmail
agar tampilan website ini dapat berjalan lebih optimal, disarankan menggunakan program browsing internet terbaru