Konsultasi Ngorok dan Mata Berair | Print |

Bapak Wahyu

This e-mail address is being protected from spambots, you need JavaScript enabled to view it


Mengapa ayam petelur saya mengalami gejala ngorok dan mata berair setelah divaksinasi ILT (Medivac ILT)?


Jawab:

Mata berair merupakan reaksi post vaksinasi ILT yang diaplikasikan melalui tetes mata. Reaksi post vaksinasi ini terjadi pada penggunaan vaksin aktif seperti Medivac ILT, yaitu saat virus vaksin bermultiplikasi (memperbanyak diri) di target organ. Tempat multiplikasi virus ILT yaitu di saluran pernapasan terutama laryng dan trakhea. Reaksi post vaksinasi ini akan menghilang dalam waktu 7-10 hari.

Di lapangan keadaan ini bisa diperparah atau diperingan oleh kondisi manajemen pemeliharaan seperti kadar debu, amonia, kelembaban, ventilasi udara dan lain-lain. Bila kondisi yang disebutkan di atas baik, maka reaksi post vaksinasi sangat ringan bahkan tidak ada. Sebaliknya jika kondisi kurang baik, bisa mengakibatkan peradangan pada konjungtiva mata atau saluran pernapasan yang berakibat munculnya ngorok. Ngorok yang terjadi bisa karena adanya kesalahan manajemen pemeliharaan yang menyebabkan reaksi post vaksinasi menjadi berat, atau pada saat dilakukan vaksinasi ayam dalam masa inkubasi penyakit pernapasan. Masa inkubasi merupakan masa yang diperlukan oleh bibit penyakit dari mulai masuk ke dalam tubuh ayam sampai menimbulkan gejala klinis

Untuk mengatasi gejala ngorok dapat dilakukan dengan memberikan antibiotik spektrum luas seperti Neo Meditril, Proxan-S atau Doxytin selama 3-5 hari berturut-turut. Sedangkan untuk menghindari reaksi post vaksinasi yang berlebihan ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, di antaranya sebagai berikut:

  • Pastikan ayam sehat

    Pada saat akan dilakukan vaksinasi ILT, ayam harus dipastikan dalam kondisi yang sehat. Tujuannya agar tubuh ayam, dalam hal ini organ limfoid, mampu merespon keberadaan vaksin melalui pembentukan titer antibodi yang protektif. Saat vaksin ILT diberikan pada ayam yang sakit, hal ini justru akan memperparah kondisi ayam dan tentu saja titer antibodi yang terbentuk tidak akan optimal. Selain itu, besar kemungkinan akan muncul reaksi post vaksinasi yang berlebihan.

  • Dosis vaksin tepat dan setiap ayam memperoleh dosis yang sama

    Saat setiap ayam memperoleh dosis vaksin aktif (vaksin ILT) yang tidak seragam, misalnya sebagian ayam memperoleh vaksin di bawah dosis, maka akan memicu munculnya rolling reaction, yaitu reaksi post vaksinasi yang berkepanjangan. Hal ini terjadi karena secara normal akan terjadi shedding (pengeluaran) virus vaksin ke lingkungan. Akibatnya ayam yang memperoleh dosis vaksin rendah seakan-akan tervaksinasi ulang sehingga reaksi post vaksinasi meningkat dan berlangsung lebih lama. Hal lain yang juga perlu diperhatikan untuk mencegah rolling reaction ialah melakukan vaksinasi seluruh ayam pada satu flok atau satu kandang secara serentak/bersamaan dalam satu hari.

  • Hindari vaksinasi ND aktif atau IB aktif pada 1-2 minggu sebelum vaksinasi ILT

    Hal ini dapat meningkatkan stres pada ayam sehingga efek sampingnya reaksi post vaksinasi menjadi berlebihan. Pada saat akan dilakukan vaksinasi ILT sebaiknya lakukan kroscek terhadap jadwal vaksinasi yang sebelumnya telah dilakukan.

  • Kondisi lingkungan yang nyaman

    Kondisi ini terutama berkaitan dengan sirkulasi udara yang baik dan kadar amonia yang rendah. Seringkali kedua hal inilah yang menjadi pemicu reaksi post vaksinasi menjadi lebih parah dan kadang berakhir dengan terjadinya infeksi penyakit pernapasan. Oleh karena itu, kondisi kandang harus kita optimalkan, baik dari kepadatan kandang, sistem ventilasi maupun jadwal pembersihan feses ayam.

     

  • Konsentrasi bibit penyakit dikurangi, terutama Mycoplasma gallisepticum

    Keberadaan bibit penyakit, terutama M. gallisepticum dapat memicu reaksi post vaksinasi menjadi lebih parah bahkan bisa terjadi kegagalan, terutama untuk vaksin dengan target organ pernapasan seperti vaksin ILT. Infeksi M. gallisepticum ini pun akan memicu infeksi penyakit lainnya, seperti Colibacillosis. Akibatnya reaksi post vaksinasi akan menjadi semakin parah dan titer antibodi tidak akan terbentuk optimal. Untuk mengantisipasi hal ini dapat dilakukan upaya cleaning program, yaitu pemberian antibiotik spektrum luas untuk membasmi bibit penyakit pada masa inkubasi. Cleaning program dapat dilakukan selama 3 hari berturut-turut sebelum melakukan vaksinasi ILT.

     

  • Faktor immunosuppressant minimal

    Stres, mikotoksin, Gumboro dan Mareks merupakan beberapa contoh faktor immunosuppressant yang dapat menghambat pembentukan titer antibodi dan menyebabkan reaksi post vaksinasi berlebihan. Oleh karena itu penting sekiranya untuk meminimalkan atau menghilangkan penyebab immunosuppressant saat akan melakukan vaksinasi ILT.

  • Support dengan vitamin

    Pemberian vitamin, seperti yang terkandung dalam Fortevit maupun vitamin dan elektrolit dalam Vita Stress akan meningkatkan stamina tubuh ayam dan mampu menekan stres akibat vaksinasi. Dengan demikian, diharapkan tubuh ayam mampu merespon pembentukan antibodi secara optimal, sehingga terbentuk titer yang protektif.


Info Medion Edisi Mei 2013

Jika Anda akan mengutip artikel ini, harap mencantumkan artikel bersumber dari Info Medion Online (http://info.medion.co.id).

 

 

Produk Medion