Saat mendengar penyakit Avian Influenza (AI) atau yang sering disebut dengan flu burung, tentu kita akan teringat merebaknya kasus AI belasan tahun yang lalu. Pada akhir tahun 2003 penyakit flu burung teridentifikasi sebagai virus AI subtipe H5N1, sama dengan di negara-negara lain di Asia (Damayanti dkk. 2004). Deklarasi resmi pemerintah Indonesia dikeluarkan beberapa bulan kemudian (SK Mentan No. 96/Kpts/PD.620/2.2004), dan pada saat dideklarasikan penyakit telah tersebar di 9 provinsi. Hanya dalam waktu sekitar 2 bulan sejak keberadaannya, penyakit telah tersebar di 23 provinsi, 151 kabupaten atau kota dan menimbulkan kematian sekitar 10,45 juta ekor ayam (Basuno, 2008).

Virus AI dapat menyerang beberapa jenis hewan seperti unggas dan mamalia, serta memiliki potensi mengancam keselamatan manusia (zoonotik). Kekhawatiran terhadap penyakit ini semakin memuncak ketika terdapat manusia yang diduga terserang virus AI. Dari tahun ke tahun segala upaya dilakukan baik oleh pemerintah maupun perusahaan perunggasan swasta.

Jika merunut dari sejarah penyakit AI, penyakit ini bukanlah penyakit yang baru saja muncul. Namun sudah ditemukan di Italia pada tahun 1878 dengan sebutan Fowl Plaque. Hingga kini AI masih menjadi ancaman yang serius bagi dunia perunggasan. Kerugian yang ditimbulkan bervariasi tergantung dari strain virus, jenis unggas yang diserang, langkah pencegahan maupun penanganan saat terjadi kasus di lapangan. Kerugian akibat AI disebabkan oleh angka kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas) yang yang tinggi, depopulasi unggas secara massal (stamping out) dan peningkatan biaya untuk sanitasi dan desinfeksi area kandang, air dan peralatan peternakan.

 

Penyebab AI

 

Flu burung atau AI disebabkan oleh virus Influenza. Virus ini sendiri digolongkan menjadi virus Influenza tipe A, B dan C. Virus Influenza tipe A menyerang unggas dan pernah ditemukan juga di manusia, babi, kuda dan mamalia lainnya. Sedangkan virus Influenza tipe B dan C menyerang manusia dengan manifestasi klinis yang ringan. Virus flu burung (AI) termasuk dalam famili Orthomyxoviridae dan merupakan virus RNA beramplop.

 

Virus AI tipe A ini kemudian masih dibagi lagi menjadi beberapa subtipe berdasarkan kemampuan antigenitas dua protein permukaan, yaitu protein HA (Hemaglutinin) dan NA (Neuraminidase). HA adalah molekul glikoprotein selubung virus yang berfungsi untuk mengikatkan virus ke reseptor sel target dan mengawali terjadinya infeksi. Sedangkan NA adalah protein yang dibutuhkan virus untuk melepas keturunan virus dari sel yang terinfeksi. Kedua protein permukaan tersebut (HA dan NA) dapat merangsang pembentukan kekebalan tubuh. Hasil identifikasi terdapat 16 subtipe HA (H1-H16) dan 9 subtipe NA (N1-N9). Klasifikasi berdasarkan subtipe inilah yang lebih kita kenal sejak AI pertama kali muncul di Indonesia. Contohnya, virus AI subtipe H5N1, H5N2, H5N7, H5N9 dan lain sebagainya. Subtipe yang sekarang banyak menyerang di Indonesia adalah subtipe H5N1.

Pada umumnya virus AI memiliki inang yang spesifik. Hal ini menandakan bahwa virus yang menginfeksi unggas tidak akan menginfeksi manusia, begitu juga sebaliknya. Namun perlu diletahui bahwa virus AI mudah mengalami mutasi, yaitu mengalami perubahan struktur tubuh sehingga memungkinkan untuk membentuk virus AI subtipe baru.

Karakteristik virus AI antara lain relatif tidal stabil di lingkungan. Virus ini peka terhadap faktor lingkungan seperti panas, pH < 5 atau > 8, dan saat kondisi lingkungan yang kering. Virus AI bisa mati pada pamanasan dengan suhu 60°C selama 30 menit dan suhu 56°C selama 3 jam. Namun sebaliknya, virus AI dapat tahan hidup di air hingga 4 hari pada suhu 22°C dan selama 30 hari pada suhu 0°C. Virus AI juga tahan hidup dalam kotoran ayam (feses) dan bahan-bahan organik. Virus AI memiliki amplop yang terbuat dari bahan lipid/lemak. Itulah mengapa virus ini sangat peka terhadap pelarut lemak (seperti detergen) dan desinfektan berbahan formalin, ß-propiolakton, iodine, eter, larutan asam, ion ammonium serta klorida. Hampir semua jenis desinfektan mampu membasmi virus AI.

Selain itu, faktor lingkungan seperti curah hujan yang tinggi, suhu dan kelembaban juga berperan secara tidak langsung dalam kenaikan jumlah kasus AI di lapangan. Perubahan cuaca ekstrim memunculkan kejadian stres pada ayam dan dapat mengakibatkan penurunan daya tahan tubuh. Penurunan daya tahan tubuh ayam ini secara langsung dapat berdampak pada mudahnya ayam terserang penyakit infeksius, salah satunya adalah AI. Serangan AI di Indonesia, umumnya akan meningkat saat musim hujan dimana kelembaban lingkungan meningkat.

 

Virus AI di Indonesia

Hingga kini, virus AI telah bersirkulasi di Indonesia sekitar 15 tahun terhitung sejak kemunculannya di tahun 2003. Selama 10 tahun (dari 2003 hingga 2013), penyakit AI pada unggas disebabkan oleh AI H5N1 clade 2.1. Mutasi virus AI terakhir diidentifikasi hanya terjadi pada tahun 2008. Selanjutnya pada tahun 2009 muncul virus baru, namun bukan turunan dari virus yang beredar di tahun 2008, dan kondisi virus ini relatif stabil (tidak mengalami mutasi). Tahun 2010 hingga awal 2012, virus AI yang beredar masih sama dengan virus tahun 2009. Namun pada akhir tahun 2012 ditemukan virus AI H5N1 clade 2.3 yang diisolasi dari sampel ayam maupun itik, dan bukan merupakan mutasi dari virus AI H5N1 clade 2.1.

Hasil penelitian yang dilakukan oleh Medion menunjukkan bahwa sebagian besar kematian unggas sejak akhir tahun 2012 disebabkan oleh AI H5N1 clade 2.3. Hal ini senada dengan penelitian yang dilakukan oleh Balai Besar Veteriner Wates yang menyampaikan bahwa muncul kelompok virus AI baru di Indonesia, karena virus AI H5N1 clade 2.1 hanya menyerang ayam. Setelah dibandingkan jarak genetiknya, kedua virus tersebut tidak homolog dengan % perbedaan struktur asam amino yang cukup jauh, mencapai 10,4% (standar < 2%). Dari akhir tahun 2012 hingga 2016 virus AI yang berhasil ditemukan didominasi oleh AI H5N1 clade 2.3. Umur serangan pun bervariasi. Pada grafik 1 menunjukkan bahwa pada ayam broiler dominasi serangan AI terjadi pada umur diatas 2 minggu hingga panen. Sedangkan pada grafik 2 menunjukkan umur serangan pada ayam petelur, dari tahun 2015 hingga semester I 2018 dominasi serangan AI terjadi pada ayam-ayam yang telah berproduksi yaitu diatas 18 minggu. Namun kewaspadaan terhadap infeksi AI di umur menjelang produksi juga perlu ditingkatkan, karena pada umur sekitar 6-14 minggu juga merupakan umur rawan terjadi serangan AI.

Dari awal tahun 2017 banyak sekali keluhan mengenai kasus penurunan produksi telur. Lalu apa penyebabnya? Bukankah semua penyakit dapat menurunkan produksi telur? Soal penyebab utamanya, tentunya harus berdasar kondisi lapang dan dilakukannya uji laboratorium untuk meneguhkan diagnosa. Seperti yang telah kita ketahui bersama bahwa penyebab turunnya produksi telur dapat berasal dari sebab infeksius dan non-infeksius. Penyebab infeksius dapat diakibatkan oleh virus AI, ND, IB maupun EDS.

 

Laporan dari lapangan, kasus turunnya produksi telur terjadi secara drastis hingga mencapai 50%. Manifestasi klinis yang terjadi bervariasi, seperti ayam tampak lemas dan seperti mengantuk, feed intake menurun, dan ditemukannya telur dengan kualitas jelek yaitu berkerang tipis, pucat maupun berkerabang lembek. Dari beberapa kasus yang dilaporkan, kejadian kematian pada populasi ayam masih berada di angka normal. Untuk memastikan jenis penyakit ini disebabkan oleh AI atau bukan, tentunya diperlukan uji laboriatorum untuk peneguhan diagnosa.

Berdasarkan data laboratorium Medion (Medilab), sampel yang berhasil dikumpulkan dari lapangan menunjukkan bahwa pada ayam petelur ditemukan kasus AI H5N1 dan LPAI yang positif dengan uji Polymerase Chain Reaction (PCR). Umur serangan variatif dari umur 5-14 minggu dan didominasi pada umur produksi yaitu > 35 minggu (Grafik 3).

Kementrian Pertanian dan FAO Emergency Center for Transboundary Animal Diseases (ECTAD) Indonesia mengingatkan para peternak akan ancaman pandemik di sektor perunggasan nasional. Salah satunya yaitu temuan jenis flu burung baru di Indonesia AI H9N2 yang bersifat low pathogenic avian influenza (LPAI). Virus ini dapat menurunkan produksi terutaman pada peternakan ayam petelur hingga 70% (Republika, edisi Juli 2018).

Penularan Virus AI dan Gejala Klinis AI di Lapangan

 

Penularan AI terjadi secara horisontal, yang artinya dapat ditularkan baik secara langsung maupun tidak langsung dari ayam yang sakit ke ayam sehat. Virus AI dikeluarkan dari hidung, mulut, konjungtiva dan kloaka unggas yang terinfeksi. Kemudian virus ditularkan ke ayam sehat melalui proses kontak langsung dari unggas terinfeksi ke unggas sehat yang peka melalui saluran pernapasan, pencernaan dan sistem urinaria. Penularan yang terjadi secara tidak langsung dapat melalui debu, pakan, air minum, peralatan kandang dan personil yang terkontaminasi virus.

Dengan masa inkubasi yang relatif cepat, sekitar beberapa jam hingga 3 hari gejala klinis yang ditimbulkan pada kasus AI pun bervariasi. Gejala yang muncul dipengaruhi oleh jenis unggas yang terserang, tingkat keganasan virus AI yang menyerang dan praktik manajemen maupun biosecurity yang diaplikasikan di peternakan.

 

Jika dikelompokkan berdasarkan keganasannya, virus AI dibagi menjadi 2 yaitu low pathogenic avian influenza (LPAI) dan high pathogenic avian influenza (HPAI). Kedua pengelompokan tersebut akan berpengaruh terhadap gejala dan perubahan patologi anatomi yang muncul.

1. LPAI

Virus LPAI bersifat low virulent (keganasan rendah) sehingga akan tergambar pada gejala klinis yang ringan pula pada ayam di lapangan. Namun biasanya dampak yang ditimbulkan oleh LPAI adalah efek imunosupresif (menurunkan kekebalan) sehingga akan memudahkan masuknya infeksi sekunder lainnya.

 

 

Gejala klinis yang yang muncul pada ayam yang terserang LPAI yaitu berupa gangguan pernapasan (seperti susah bernapas dan ngorok), konjungtivitis, penurunan feed intake dan penurunan produksi telur yang sangat drastis. Selain itu ayam akan nampak depresi, namun angka kematian cenderung rendah bahkan masih dapat dikatakan normal. Jika dilakukan bedah akan nampak perubahan organ seperti radang pada sinus hidung, laring maupun trakhea. Akumulasi lendir di saluran pernapasan juga dapat ditemukan. Perubahan di organ pencernaan antara lain radang pada proventrikulus, pankreas berwarna kemerahan, ovarium mengecil dan terjadi perdarahan pada calon kuning telur, ginjal bengkak, limpa bengkak dan sering ditemukan pelebaran pada pembuluh darah otak maupun organ reproduksi. Pada organ lain seperti jantung dan perlemakan tubuh sering ditemukan perdarahan berbentuk titik-titik (ptechiae).

2. HPAI

HPAI bersifat akut dan ditandai oleh proses penyakit yang berlangsung cepat. Gejala klinis maupun perubahan patologi anatomi organ lebih parah jika dibandingkan dengan LPAI. Gejala khas yang seringkali muncul saat ayam terserang HPAI antara lain kematian tinggi, berhentinya produksi telur atau penurunan produksi, depresi, jengger dan pial kebiruan (sianosis), konjungtivitis, diare berwarna hijau, akumulasi lendir di rongga mulut, perdarahan di kaki (shank), ngorok dan kadang ditemui gangguan saraf (tortikolis).

Perubahan organ yang nampak setelah dilakukan bedah antara lain radang di saluran pernapasan atas meliputi sinus hidung, laring maupun trakhea, paru-paru berwarna kehitaman dan kantung udara keruh. Perubahan yang ditemukan di saluran pencernaan antara lain ada radang di proventrikulus, usus, seka tonsil dan pankreas.

Organ lain yang sering mengalami perubahan yaitu jantung dan lemak tubuh yang mengalami perdarahan berbentuk titik-titik (ptechiae). Pada sistem saraf, ditemukan dilatasi pembuluh darah otak. Selain perubahan-perubahan tersebut, sering pula ditemukan perdarahan di otot pada maupun dada.

Pengendalian Penyakit

 

A. Pencegahan AI

Langkah pencegahan infeksi AI yang dapat dilakukan antara lain dengan membentengi tubuh ayam dengan zat kebal (antibodi) yang dapat melindungi dari serangan virus AI lapang. Selain itu faktor manajemen pemeliharaan seperti pemeliharaan dan biosecurity juga menjadi hal penting untuk mencegah masuknya AI.

1. Vaksinasi

Vaksinasi AI bertujuan untuk memicu munculnya kekebalan humoral (kekebalan yang berada dalam sirkulasi darah) terhadap infeksi atau keganasan virus AI lapang. Unggas yang peka atau rentan terhadap infeksi AI dari lapang kemungkinan belum mendapatkan kekebalan dari vaksinasi sebelumnya. Sebaliknya, unggas yang mendapatkan vaksinasi AI dan program vaksinasi ulang akan lebih kebal terhadap serangan virus AI.

Ayam petelur wajib vaksinasi AI 3 kali sebelum produksi dan 2 kali setelah puncak produksi dengan vaksin AI yang homolog. Vaksinasi pertama dapat dilakukan di sekitar umur 2 minggu, diulang pada umur 7-8 minggu, dan selanjutnya dilakukan saat 3 minggu sebelum masuk masa produksi. Jika untuk daerah yang sangat rawan terhadap AI vaksinasi AI kedua sebelum produksi dapat dilakukan 4-5 minggu setelah vaksinasi pertama.

 

Sedangkan untuk ayam pedaging, vaksinasi AI wajib dilakukan. Kasus AI di ayam pedaging sebenarnya tidak lepas dari turunnya antibodi maternal AI. Pada umur 3 minggu titer antibodi maternal AI sudah tidak protektif lagi sehingga umur tersebut adalah saat yang paling rawan bagi ayam yang terserang AI. Selain itu, data dari lapangan menyebutkan bahwa AI menginfeksi ayam pedaging pada umur > 3 minggu. Maka, vaksinasi AI pertama sebaiknya dilakukan saat umur 4 atau 10 hari.

Apakah itik perlu divaksinasi AI? Jawabannya, perlu. Menurut penelitian Litbang Pertanian, dilaporkan bahwa kematian itik tertinggi terjadi pada itik muda (< 2 bulan) mencapai 90-100%, utamanya pada usaha itik pedaging (sistem intensif). Sedangkan kematian itik dewasa relatif lebih rendah, namun produksi telur turun sampai 50%. Salah satu pengalaman peternak itik dari wilayah Jawa Barat, dengan penerapan biosecurity yang ketat dan vaksinasi AI yang teratur, itik yang dipelihara dapat terhindar dari kasus AI yang mulai menjangkit kembali

Selain vaksinasi, perlu juga dilakukan monitoring titer antibodi. Tujuannya adalah untuk memantau perkembangan kekebalan di dalam tubuh ayam. Biasanya monitoring titer dilakukan di ayam petelur dan pembibit. Untuk mengetahui keberhasilan vaksinasi pemeriksaan titer dilakukan 3-4 minggu setelah vaksinasi AI. Sedangkan pemeriksaan untuk memantau titer antibodi AI selama produksi dilakukan secara rutin setiap 1 bulan sekali. Dari pemeriksaan rutin tersebut akan diperoleh gambaran baseline titer di peternakan. Sehingga jika suatu saat ditemukan adanya gambaran titer yang berbeda dari baseline maka bisa menjadi peringatan dini terhadap kondisi ayam.

  1. Biosecurity

    Tahapan biosecurity yang dapat dilakukan untuk mencegah infeksi AI meliputi sanitasi, desinfeksi dan isolasi. Saat melakukan desinfeksi, pilih dan gunakan desinfektan yang daya kerjanya kurang dipengaruhi oleh materi organik seperti Formades untuk menyemprot lingkungan luar kandang atau kendaraan. Semprotkan juga Antisep atau Neo Antisep secara rutin setiap hari. Batasi lalu lintas orang atau kendaraan yang keluar atau masuk kandang. Alas kaki sebaiknya disikat dengan deterjen atau desinfektan karena jika hanya dilakukan dipping (pencelupan) saja kurang efektif.

B. Penanganan Jika Terlanjur Sakit

AI merupakan penyakit virus, sehingga belum ada obatnya. Jika suatu peternakan telah terjangkit AI, maka hal-hal yang perlu dilakukan antara lain:

  1. Penanganan pada kandang lain yang belum terserang AI

  • Untuk menekan penularan penyakit, segera lakukan revaksinasi pada ayam yang masih sehat menggunakan Medivac AI. Keputusan revaksinasi tergantung pada tingkat keganasan virus yang menyerang, angka kesakitan dan angka kematian

  • Lakukan semprot kandang untuk mengurangi jumlah virus yang ada di lapangan

  • Desinfeksi air minum untuk mencegah penularan penyakit melalui air minum

    2. Penanganan pada kandang yang telah terserang AI

  • Segera singkirkan unggas yang mati di kandang. Musnahkan dengan metode penguburan atau pembakaran di lokasi yang berjauhan dari kandang.

  • Semprot kandang yang masih berisi ayam dengan desinfektan seperti Antisep atau Neo Antisep, dan pada kandang kosong dapat menggunakan Sporades atau Formades

  • Berikan imunostimulan seperti Imustim untuk meningkatkan stamina tubuh ayam. Imustim akan membantu meningkatkan daya tahan tubuh secara optimal sehingga proses kesembuhan akan lebih cepat

  • Vaksinasi darurat dapat dilakukan untuk mengurangi kematian. Hal ini dapat dilakukan pada ayam petelur atau pembibit yang kondisinya masih sehat menggunakan Medivac AI.

  • Lakukan istirahat kandang yang cukup yaitu minimal 14 hari terhitung dari kandang dibersihkan. Kemudian lakukan desinfeksi kandang kembali sebelum memulai chick-in lagi

 

www.medion.co.id               info@medion.co.id                 0813-2185-7405 (Customer Service)                 facebook.com/medionwisata 
Cara berlangganan Info Medion SMS ke 0852 2114 1929 dengan format Reg IM Nama AlamatSurat AlamatEmail
agar tampilan website ini dapat berjalan lebih optimal, disarankan menggunakan program browsing internet terbaru